Ahli UI: Dorongan "Join the Club" Jadi Pemicu Utama Konsumsi Gaya Hidup Masyarakat
Guru Besar Antropologi UI Prof. Semiarto Aji Purwanto mengungkap motivasi di balik pola konsumsi masyarakat yang ingin tetap terlihat mapan, didorong oleh keinginan "join the club" dan mempertahankan citra gaya hidup.
Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, menyoroti fenomena menarik dalam pola konsumsi masyarakat. Ia mengemukakan bahwa banyak orang berupaya tetap terlihat mapan di tengah upaya berhemat. Fenomena ini erat kaitannya dengan dorongan kuat untuk diterima dalam kelompok gaya hidup tertentu atau yang ia sebut sebagai “join the club”.
Menurut Semiarto, motivasi utama di balik keputusan pembelian saat ini bukan lagi semata-mata memenuhi kebutuhan primer. Sebaliknya, tujuan utama adalah agar seseorang dapat masuk ke dalam klub atau lingkungan sosial yang diinginkan. Ini menunjukkan pergeseran fundamental dalam cara masyarakat memandang konsumsi.
Pola konsumsi modern kini lebih banyak didorong oleh keinginan untuk menunjukkan identitas sosial. Individu ingin menjadi bagian dari kelompok tertentu yang memiliki standar gaya hidup serupa. Hal ini menciptakan tekanan tersendiri bagi masyarakat untuk mempertahankan simbol-simbol kemapanan.
Konsumsi Sebagai Bahasa Sosial dan Identitas
Prof. Semiarto menjelaskan bahwa konsumsi telah berevolusi menjadi bahasa sosial yang kuat. Melalui barang atau merek yang digunakan, seseorang dapat menunjukkan status dan posisi mereka dalam lingkungan pergaulan. Ini adalah cara non-verbal untuk mengkomunikasikan "Saya baik-baik saja" atau "I am okay" kepada orang lain.
Contoh nyata dari fenomena ini terlihat pada penggunaan produk teknologi tertentu, seperti merek Apple. Pengguna iPhone, MacBook, dan ekosistem Apple lainnya seringkali membentuk identitas "Apple boy" atau "Apple girl". Identitas ini bukan hanya tentang fungsi produk, tetapi juga tentang afiliasi sosial dan citra yang melekat.
Konsumsi semacam ini tidak lagi hanya tentang fungsi praktis barang. Lebih dari itu, ia menjadi penanda identitas dan bagian dari narasi pribadi. Masyarakat menggunakan konsumsi untuk membangun dan memelihara citra diri yang diinginkan di mata publik.
Tekanan Gaya Hidup di Perkotaan dan Pengaruh Media Sosial
Tekanan untuk terlihat mapan, terutama dalam konteks gaya hidup, terasa lebih kuat di kota-kota besar seperti Jakarta. Di sana, lapisan sosial dan ruang konsumsi sangat terbuka dan terlihat jelas. Aktivitas seperti makan di mal, nongkrong di kafe, atau bekerja di co-working space telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup urban.
Meskipun demikian, referensi gaya hidup perkotaan tidak lagi terbatas pada area metropolitan. Melalui media sosial dan internet, tren dan standar gaya hidup ini menyebar hingga ke daerah-daerah. Hal ini menciptakan standar global yang memengaruhi ekspektasi sosial di berbagai wilayah.
Kondisi ini mendorong masyarakat untuk terus berupaya mempertahankan simbol konsumsi tertentu. Mereka tidak ingin merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya. Keinginan untuk "menjadi seperti orang lain yang kita pandang lebih bagus" menjadi pendorong utama di balik keputusan konsumsi.
Strategi Mempertahankan Citra di Tengah Keterbatasan
Masyarakat seringkali berusaha mempertahankan simbol-simbol kemapanan agar tetap dianggap mampu secara sosial. Ini terjadi meskipun dalam praktiknya mereka mulai menekan pengeluaran di area lain. Ada upaya untuk menyeimbangkan antara kebutuhan finansial dan citra sosial yang ingin dipertahankan.
Sebagai contoh, aktivitas seperti nongkrong di kafe mungkin tetap dipertahankan, namun dengan frekuensi yang dikurangi. Dari yang awalnya setiap malam, mungkin menjadi seminggu sekali. Atau, pilihan tempat nongkrong beralih ke lokasi yang lebih ekonomis tanpa mengorbankan esensi interaksi sosial.
Penggunaan gawai tertentu juga bisa menjadi bagian dari strategi ini. Meskipun mungkin ada penyesuaian dalam model atau frekuensi penggantian, kepemilikan gawai yang dianggap "status simbol" tetap dipertahankan. Ini menunjukkan betapa kuatnya dorongan untuk menjaga citra sosial di mata lingkungan.
Sumber: AntaraNews