Cara Tertawa Orang Bisa ungkap Punya Kuasa atau Tidak
Hal ini berdasarkan kajian penelitian yang dilakukan salah satu kampus di Amerika Serikat tentang keterkaitan cara tertawa dengan kekuasaan.
Cara manusia tertawa ternyata bukan hanya cerminan rasa humor atau kebahagiaan, tapi juga bisa menjadi gambaran status sosial dalam sebuah kelompok.
Penelitian yang dilakukan tim di University of California San Diego menemukan bahwa perbedaan halus dalam suara tawa menjadi sinyal yang terbaca jelas soal hierarki sosial.
Christopher Oveis, asisten profesor di UC San Diego yang memimpin studi ini, mengatakan hanya dari mendengar potongan tawa sedetik saja, pendengar bisa menebak siapa yang berstatus lebih tinggi dalam kelompok.
“Orang dengan status tinggi tertawa lebih bebas, lebih keras, dan lebih bervariasi,” kata Oveis dikutip dari qz, Selasa (1/7).
“Sedangkan mereka yang berstatus rendah tertawa dengan cara lebih patuh dan terkendali,” tambahnya.
Bagaimana metodenya? Oveis menerangkan bahwa penelitian ini melibatkan 48 anggota laki-laki sebuah organisasi kampus di Amerika Serikat. Mereka direkam saat bercanda dalam kelompok berisi dua orang senior (yang sudah dua tahun atau lebih aktif) dan dua orang junior (pendatang baru).
Analisis rekaman menunjukkan perbedaan mencolok: tawa dominan pada anggota senior terdengar lebih keras, pitch-nya lebih tinggi, dan nadanya bervariasi. Sebaliknya, tawa anggota berstatus rendah lebih pendek, nadanya lebih rendah, lebih teratur, dan terdengar ringan atau berangin.
Menurut Oveis, perbedaan ini terkait erat dengan psikologi kekuasaan. Ketika orang merasa berkuasa, mereka lebih santai dan berani mengambil ruang, termasuk dalam cara mereka tertawa. Namun penelitian juga menemukan bahwa status bukan sesuatu yang tetap.
Ketika anggota berstatus rendah diberi peran menggoda atau memimpin percakapan, tawa mereka berubah menjadi lebih dominan.
“Hanya ketika mereka memiliki peran yang memerintah, mereka bisa merasakan kekuasaan itu dan melepaskan tawa dominan,” jelas Oveis.
Penelitian ini juga menguji apakah orang lain bisa menangkap sinyal status hanya dari suara tawa. Dalam studi lanjutan, rekaman tawa tersebut diperdengarkan pada 51 mahasiswa lain yang diminta menebak mana yang terdengar dominan dan mana yang tidak.
Hasilnya, para pendengar bisa membedakan dengan cukup akurat. Temuan ini mendukung konsep “thin slices” dalam psikologi—kemampuan kita menilai sifat dan status sosial orang lain hanya dari potongan perilaku non-verbal yang sangat singkat.
“Bahkan tanpa sadar, kita selalu berusaha mendeteksi sinyal-sinyal status dari orang lain,” ujar Oveis. “Kita bisa menangkap banyak informasi hanya dalam hitungan detik.”
Meski begitu, Oveis menekankan bahwa studi ini hanya dilakukan pada laki-laki. Ia menduga pola pada perempuan bisa berbeda, karena tawa perempuan umumnya lebih melodius sementara tawa laki-laki sering berupa dengusan atau geraman.
Menurutnya, riset lanjutan diperlukan untuk memahami bagaimana tawa perempuan memengaruhi atau mencerminkan status sosial.
Temuan ini menegaskan bahwa tertawa bukan sekadar luapan kesenangan, melainkan bagian penting dari komunikasi sosial. Lewat tawa, orang mengirimkan sinyal tanpa sadar tentang posisi mereka dalam hierarki kelompok. Dengan kata lain, tertawa adalah bahasa kekuasaan.