Akhirnya Terjawab, Ini Penyebab Warga RI Rela War Tiket Konser hingga Beli HP Baru Meski Ekonomi Sulit
Dian menjelaskan bahwa fenomena tersebut terjadi karena terjadi adanya perubahan pola konsumsi masyarakat akibat adopsi perkembangan informasi.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina angkat suara menanggapi fenomena masyarakat Indonesia gemar membeli handphone (HP) baru hingga berburu tiket konser yang cukup mahal. Meskipun, ekonomi di Indonesia tengah berada dalam kondisi sulit.
Dian menjelaskan bahwa fenomena tersebut terjadi karena terjadi adanya perubahan pola konsumsi masyarakat akibat adopsi perkembangan informasi dan teknologi digital.
"Jadi dulunya sebelum pandemi, sebelum ada macam-macam, orang kan belanja retail, belanja produk-produk, garmen, baju, dan sebagainya, tekstil, dan sebagainya. Lebih mau spending ke hal-hal yang mungkin tidak durable goods (pemakaian berulang kali)," ujarnya dalam acara AXA Mandiri Economic Outlook 2025 di AXA Tower, Jakarta, Jumat (7/3).
Akibatnya, terjadi pergeseran pola konsumsi dari sektor barang-barang konsumsi tahan lama (durable goods) ke produk teknologi maupun jasa. Misalnya handphone baru hingga nonton konser yang dianggap sesuai dengan gaya hidup kekinian.
"Jadi orang lebih cari kepraktisan. Lalu ada perubahan dari belanjanya, tipe belanjanya, barang yang dibeli dari durable goods, misalnya, ke konsumsi yang terkait lifestyle, experience. Kalau orang pada mengeluh, ekonomi konsumsi lambat, ekonomi lambat. Tapi, kalau ada konser, tetap ada war. Sampai heboh dulu di media sosial," bebernya.
Disebutkannya, praktik perubahan pola konsumsi ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Melainkan, fenomena ini muncul di banyak negara, termasuk di Amerika Serikat.
"Kalau restoran dan mal selalu ramai. Apalagi restoran yang baru dengan makanan baru. Tapi, kalau dilihat toko-toko retail di mal, itu lebih sepi memang ada perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebenarnya, ini juga nggak hanya terjadi di Indonesia. Terjadi di around the world. Di Amerika juga," tandasnya.
Waspada! BI Ramal Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat di 2025
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengingatkan bahwa ketidakpastian pasar keuangan global semakin meningkat, disertai dengan risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2025 diprakirakan melambat menjadi 3,1 persen dari proyeksi sebesar 3,2 persen pada 2024.
Hal ini disebabkan rencana kebijakan perdagangan AS, yakni kenaikan tarif impor, komoditas, dan cakupan negara yang lebih luas telah menyebabkan risiko peningkatan fragmentasi perdagangan dunia.
Perry juga melihat, inflasi dunia meningkat dibandingkan prakiraan sebelumnya dipengaruhi oleh gangguan rantai suplai.
Tak hanya itu, penguatan dolar AS juga terus berlanjut disertai berbaliknya preferensi investor global dengan memindahkan alokasi portofolionya kembali ke AS. Hal ini memicu tekanan pelemahan berbagai mata uang dunia, dan menahan aliran masuk modal asing ke negara berkembang.