Fenomena 'Lipstick Effect' di Tengah Lesunya Pasar
"Lipstick itu paling banyak, paling lebih laku dari sekarang," kata Rudi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2025 tercatat sebesar 4,87 persen. Angka ini menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Komisaris Utama Amartha, Rudiantara menilai, perlambatan ini turut dipengaruhi oleh menurunnya penjualan kendaraan bermotor, baik mobil maupun sepeda motor.
Menurutnya, penurunan ini terjadi karena adanya persaingan dari perkembangan teknologi terkini, terutama kendaraan berbasis listrik.
Dia pun menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini mulai meninggalkan kendaraan berbahan bakar fosil. Namun, dia menekankan bahwa tidak semua sektor mengalami tren serupa.
Dia memberikan contoh sektor kosmetik, khususnya produk lipstik, yang justru mengalami peningkatan di kuartal pertama tahun ini.
"Tapi lihatlah fenomena di industri kosmetik—justru menunjukkan tren yang berbeda di kuartal pertama tahun ini. Kenapa? Karena pengguna lipstik pada dasarnya adalah perempuan. Lipstick itu paling banyak, paling lebih laku dari sekarang," kata Rudi dalam acara Asia Grassroot Forum, Bali, Kamis (22/5).
Meski demikian, dia mencatat penjualan kosmetik kelas menengah ke bawah justru mulai terganggu oleh masuknya produk impor yang membanjiri pasar domestik.
Fenomena ini, lanjut Rudi, dikenal dengan istilah lipstick effect atau efek lipstik, yakni ketika masyarakat tetap mengonsumsi barang-barang kecil yang memberi rasa kemewahan, meskipun kondisi ekonomi sedang sulit.
“Mereka mengatakan bahwa kemewahan kecil jauh lebih baik daripada tidak ada kemewahan sama sekali. Jadi mereka membeli produk kosmetik. Fenomena ini disebut lipstick effect atau gejala ekonomi emosional,” terang dia.
Pergeseran Konsumen
Hal ini menunjukkan bahwa sektor konsumen di Indonesia kini mulai bergeser ke pasar menengah ke bawah. Meski demikian, pasar kelas atas dinilai masih bertahan di beberapa wilayah tertentu, seperti di Bali. Rudiantara mencontohkan bahwa tingkat okupansi hotel di Bali masih cukup tinggi, sekitar 60 persen.
Namun, dia juga mencatat adanya pergeseran perilaku wisatawan, baik asing maupun domestik, yang kini lebih memilih menginap di vila, AirBnB, atau akomodasi alternatif lainnya yang dinilai lebih ekonomis dibanding hotel.
"Kita melihat banyak turis asing maupun domestik di Bali. Tapi, apakah mereka menginap di hotel? Tidak. Sekarang mereka lebih memilih tinggal di vila, AirBnB, atau tempat sejenis yang lebih terjangkau," ungkapnya.
Perubahan gaya hidup masyarakat ini, menurut Rudiantara, mencerminkan realitas ekonomi Indonesia saat ini. Dia berharap pertumbuhan ekonomi akan kembali menguat pada kuartal kedua dan berlanjut di kuartal-kuartal berikutnya.
"Tapi inilah kenyataan yang sedang kita hadapi di Indonesia saat ini," pungkasnya.