Ini Keresahan Investor Asing Ogah Guyur Startup di Indonesia
Turunnya minat investor asing disebabkan oleh kekhawatiran yang muncul sejak 2024
Penurunan drastis investasi yang masuk ke sektor usaha rintisan atau startup Indonesia sepanjang periode 2024 hingga awal 2025, menjadi perhatian serius Komisaris Utama Amartha, Rudiantara.
"Pendanaan ke dunia startup Indonesia menurun," kata Rudiantara dalam konferensi pers Asia Grassroots Forum (AGF), Bali, Kamis (22/5).
Dia menyebut pada kuartal I 2024, pendanaan yang masuk ke startup Indonesia masih mencapai angka yang mengesankan, yakni sekitar USD1,2 miliar dalam bentuk ekuitas. Namun, tren ini berubah drastis di kuartal-kuartal berikutnya.
Menurut Rudiantara, dana yang mengalir di kuartal kedua hingga keempat 2024 terus menurun, bahkan pada kuartal pertama 2025 hanya berkisar lebih dari USD 70 juta.
"Dari tahun 2024 lalu, kuartal pertama masih di atas USD1 miliar, USD1,2 miliar dolar masuk. Tetapi di kuartal kedua, kuartal ketiga, kuartal keempat, bahkan kuartal pertama di 2025 itu lebih dari USD70 juta," jelasnya.
Rudiantara juga menyinggung berbagai kasus yang mempengaruhi kepercayaan investor terhadap startup, baik di Indonesia maupun di kawasan Asia Tenggara. Ia menyebut kasus-kasus seperti Investree dan eFishery di Indonesia, serta beberapa perusahaan di negara lain.
"Karena masalah itu, kasus tahu kan yang harus. (Investree, efishery, dll), tapi bukan hanya di Indonesia ada di e saya sebutin lah yang di Singapore Filipina Vietnam ya ini seperti ini jadi, ini bukan hanya di Indonesia. Itu juga jadi kasus juga. Jadi sementara mungkin investor asing fokusnya ke startup yang kecil-kecil, yang kira-kira USD50 ribu, USD100 ribu, USD200 ribu, nggak lebih dari itu," terang Rudi.
Dia pun menilai, turunnya minat investor asing disebabkan oleh kekhawatiran yang muncul sejak 2024, terutama terkait isu tata kelola perusahaan atau governance.
"Karena semuanya bermuara dari governance-nya ada dianggap menyalahkan founder-nya lah, bahwa laporan keuangannya tidak benar," tegas Rudiantara.
Untuk itu, dia mengajak para pelaku startup, terutama yang berada di tahap pertengahan hingga lanjut (middle-late stage), untuk segera merevisi model bisnis mereka dan memperbaiki tata kelola perusahaan secara menyeluruh.
"Jadi ini waktunya bagi kita, bagi para startup untuk merevisi, sebenarnya melihat kembali bisnis modelnya. Satu itu sambil memperkuat, terutama yang middle stage atau later stage startup untuk memperbaiki governance-nya," pungkasnya.