Mengapa Orang Indonesia Suka iPhone dan HP Mahal?
Minat yang tinggi masyarakat Indonesia terhadap smartphone premium seperti iPhone ternyata tidak hanya dipicu oleh tren teknologi. Apa yang menjadi alasannya?
Minat yang tinggi dari masyarakat Indonesia terhadap ponsel-ponsel premium seperti iPhone serta perangkat flagship lainnya, termasuk ponsel lipat, bukanlah sekadar fenomena teknologi. Pertanyaannya, mengapa HP mahal begitu diminati di tanah air?
Menurut Devie Rahmawati, seorang Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia, ketertarikan terhadap barang-barang mewah ini sangat terkait dengan budaya sosial di Asia, khususnya Indonesia, yang sangat menghargai struktur sosial yang hierarkis.
Dalam wawancara dengan Tekno Liputan6.com pada Kamis (15/5), Devie menjelaskan bahwa perilaku konsumtif terhadap produk-produk premium, seperti ponsel pintar, tas, dan sepatu mahal, mencerminkan usaha individu untuk meningkatkan posisi mereka dalam "tangga sosial".
"Di masyarakat Asia, berbeda dengan masyarakat Barat yang egaliter, kita mengenal struktur sosial hierarkis. Ada keinginan kuat dari masyarakat untuk terlihat berada di level atas," kata Devie.
Ia juga menyoroti konsep "4K" yang menjadi indikator status sosial di masyarakat Asia, yaitu: Kekuasaan, Kekayaan, Ketenaran, dan Kewibawaan. Dengan demikian, fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi barang-barang mewah bukan hanya sekadar untuk kebutuhan, tetapi juga sebagai simbol status yang berperan penting dalam interaksi sosial.
iPhone dan Status Sosial
Seseorang yang memiliki salah satu dari empat elemen ini umumnya dianggap menduduki posisi paling atas dalam hierarki sosial. Dalam konteks ini, produk seperti iPhone berfungsi sebagai simbol yang mudah diakses dan mencerminkan status kekayaan seseorang.
"Untuk mencapai kewibawaan, orang harus jadi tokoh agama atau berpendidikan tinggi. Untuk kekuasaan, harus melalui proses panjang. Tapi simbol kekayaan bisa dibeli dengan handphone mahal, tas bermerek, atau tinggal di kawasan elit," jelas Devie.
Menarik untuk dicatat bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terlihat jelas di negara-negara Asia lainnya, seperti China. Konsumsi barang-barang mewah menjadi cara yang cepat untuk mengekspresikan eksistensi sosial seseorang.
Budaya Pamer Sosial
Devie menjelaskan bahwa budaya "pansos" atau panjat sosial hanyalah terdapat di masyarakat yang memiliki struktur hirarkis. Ia memberikan contoh bahwa seseorang masih dapat merasa bangga meskipun menggunakan iPhone model lama, seperti iPhone 6 atau 7, karena merek tersebut secara simbolis masih mempertahankan gengsi penggunanya, bahkan jika dibandingkan dengan ponsel Android terbaru.
"Brand menjadi sangat penting, bukan sekadar merek, tapi apa yang bisa ditunjukkan ke publik: bahwa Anda bukan orang biasa," tambahnya.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa dalam masyarakat yang menilai status sosial melalui simbol, merek tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk, tetapi juga berfungsi sebagai identitas sosial yang mencerminkan posisi seseorang di dalam komunitas.
Merek Lambang Status dan Identitas Sosial
Ketika seseorang menggunakan iPhone atau produk bermerek lainnya, yang terlihat bukan hanya teknologi atau fungsinya, tetapi juga citra diri yang ingin ditampilkan: bahwa mereka termasuk dalam kelompok elit, memiliki selera yang baik, daya beli yang tinggi, serta gengsi.
"Lebih dari itu, brand menjadi paspor tak kasat mata untuk masuk dalam ruang-ruang sosial tertentu, tempat orang diakui dan dihormati berdasarkan tampilan luar," ungkap Devie.
Dalam masyarakat yang sangat memperhatikan status, logo dan merek sering kali memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan dengan latar belakang individu. Ia juga menekankan pentingnya memahami konteks sosiologis yang mendasari perilaku para konsumen.