Curhat Pekerja Kerasnya Hidup di Jakarta: Gaji Bulanan Kadang Enggak Cukup, Saya Sudah Sering Makan Tabungan
Kerasnya hidup di Ibu Kota mengharuskan masyarakat pintar menekan pengeluaran.
Muhammad Arif merasakan betul bagaimana kerasnya hidup di Jakarta. Sepuluh tahun bekerja tak otomatis membuat penghasilannya melesat. Sejak mulai bekerja pada 2015 dengan gaji Rp3 juta, hingga kini kenaikannya nyaris tak berarti, masih di kisaran Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta.
“UMR terus dari dulu. Dan jujur, kalau hanya ngandelin gaji saya, ya enggak sanggup. Untung istri saya kerja, dan penghasilannya jauh lebih besar,” ujar Arif.
Bertempat tinggal di apartemen milik mertua di kawasan Kalibata menjadi penyelamat. Dengan hanya menanggung biaya IPL, listrik, dan air sekitar Rp800 ribu per bulan, Arif setidaknya terbebas dari beban sewa. Namun begitu, menyisihkan uang untuk ditabung tetap menjadi hal yang sulit dicapai.
“Gaji bulanan kadang enggak cukup buat sebulan. Saya sudah sering makan tabungan. Itu pun kalau masih ada,” katanya.
Arif mengatakan, biaya transportasi harian bisa mencapai Rp50.000. Tidak ada nilai tetap, mengingat transportasi umum yang digunakan Arif cukup beragam, terkadang Transjakarta dengan tarif tetap Rp3.500, KRL Rp3.000 sekali jalan, atau ojek online yang menjadi transportasi darurat buat Arif.
Namun, bapak satu orang anak ini memastikan pengeluarannya setiap bulan untuk transportasi berkisar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.
Untuk menekan pengeluaran harian, Arif selalu membawa bekal makan siang dari rumah. Menu sederhana yang disiapkan sang istri setiap pagi menjadi solusi praktis agar tak perlu jajan di luar.
“Bawa bekal itu sudah jadi cara bertahan,” katanya.
Seperti banyak pekerja urban lainnya, Arif mengandalkan transportasi umum demi menghindari stres dan biaya tambahan dari kemacetan. “Jakarta itu racun kalau soal waktu dan energi. Saya sudah enggak sanggup hadapin macet tiap hari,” tuturnya.
Sayangnya, Arif belum memiliki penghasilan tambahan yang bisa diandalkan. Sesekali ada pekerjaan freelance, namun tidak rutin. “Kadang ada freelance, tapi enggak tiap bulan. Jadi ya murni ngandelin gaji,” katanya.
Realita Makan Tabungan
Kondisi seperti Arif merupakan realita pahit bagi pekerja dengan yang menggantungkan hidup di Jakarta. Peneliti dan Direktur Riset Katadata Insight Center (KIC), Gundy Cahyadi, menyebut bahwa kelas menengah di Indonesia kini banyak yang bertahan hidup dengan mengandalkan tabungan.
“Survei KIC menemukan fakta bahwa perilaku finansial kelas menengah sebetulnya cukup positif,” kata Gundy dalam acara Indonesia Data and Economic Conference (IDE) Katadata 2025.
Sebanyak 76,3 persen responden survei memilih menggunakan tabungan untuk bertahan hidup saat pengeluaran melebihi pemasukan. Sementara itu, hanya sebagian kecil yang memilih berutang dengan bunga, yakni di bawah 15 persen.
"Perilaku ini menunjukkan pengelolaan keuangan yang tergolong baik, lantaran mereka cenderung menghindari utang dan lebih mengandalkan cadangan keuangan pribadi," jelasnya.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 70 persen responden rutin melakukan perencanaan keuangan. Sebanyak 42,2 persen bahkan memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan.
Namun, alokasi anggaran untuk tujuan jangka panjang masih rendah. Artinya, banyak kelas menengah yang belum bisa atau belum siap memikirkan masa depan finansial secara lebih jauh.
Sementara itu, lanjut Gundy, alokasi anggaran untuk tujuan jangka panjang atau perencanaan masa depan relatif masih rendah. Pada dasarnya, perencanaan keuangan jangka panjang memang belum menjadi prioritas bagi kelas menengah.
Di sisi lain, demi memenuhi biaya hidup maka kelas menengah menjalankan pekerjaan sampingan. Survei KIC mencatat, hampir 50 persen masyarakat di segmen ini memiliki pekerjaan sampingan alias side hustle.
Ada tiga alasan terbanyak yang melatarbelakangi mereka menekuni pekerjaan sampingan, yaitu untuk menambah pendapatan (70,6 persen), meningkatkan tabungan (42,2 persen), dan mencapai tujuan finansial (30,7 persen). Perkara passion justru tak masuk di dalam top 3 ini.
KIC mengadakan survei secara daring dengan menargetkan responden di 10 kota besar di Indonesia. Survei ini melibatkan 472 responden, dilaksanakan pada 6-9 Januari 2025.
Gundy juga menekankan, kekhawatiran tentang perekonomian berpengaruh besar terhadap cara pandang kelas menengah soal kebutuhan hidup.
"Kekhawatiran ini terkesan menjadi faktor utama yang menentukan perspektif kelas menengah tentang keperluan pendidikan, kesehatan, dan hunian," kata dia.
Perempuan Sang Tulang Punggung
Cerita lain datang dari Irma Anita, pekerja di bidang komunikasi yang sudah 14 tahun mengabdi di Jakarta. Dari gaji awal sebesar Rp1,8 juta pada 2011, kini penghasilannya sudah lebih baik, meski belum mencapai Rp10 juta per bulan.
Setiap pagi, Irma diantar suaminya ke Stasiun Depok Baru, lalu naik KRL ke Jakarta Pusat. Ia memang sepenuhnya bergantung pada transportasi umum.
“Enggak bisa naik motor,” ucapnya tertawa. “Jadi dari dulu, transportasi umum itu teman setia saya.”
Beruntung, Irma tak dibebani cicilan rumah karena telah melunasi pembayaran ke orang tuanya selama enam tahun. Ia, suami, dan satu anak kini tinggal di rumah sendiri di Depok.
“Ada rasa lega. Setidaknya kami enggak punya utang KPR. Rumah ini dibangun dan dibeli tanahnya secara bertahap, dan Alhamdulillah selesai juga,” katanya.
Dalam rumah tangganya, Irma adalah pencari nafkah utama. Suaminya menjalankan usaha online dari rumah, namun pendapatannya tak menentu.
“Penghasilan suami sih nggak tentu, yah. Jadi, secara nominal, gaji saya yang lebih besar. Tapi kami sepakat saling bantu, enggak masalah siapa yang lebih besar asal sama-sama cukup,” katanya.
Dengan pengeluaran rumah tangga yang bisa mencapai Rp3–4 juta per bulan, Irma mengaku sangat terbantu dengan sistem kerja hybrid sejak 2024. Transportasi yang biasa menghabiskan Rp1,5 juta per bulan kini bisa ditekan.
“WFH itu membantu banget,” ujarnya.
Namun seperti Arif, Irma juga merasa berat jika harus menambah pekerjaan. Keinginan untuk freelance masih tersimpan, meski belum terealisasi.
“Pengen banget freelance, tapi jujur, capek. Pulang kerja udah enggak punya tenaga. Bingung juga mau mulai dari mana,” ujarnya lirih.