Penutupan SPPG Sawagumu di Sorong: Wagub PBD Ungkap Temuan Ulat dalam Makanan Siswa
Wagub PBD Ahmad Nausrau menutup sementara SPPG Sawagumu di Sorong usai temuan ulat pada makanan siswa. Evaluasi dan pembenahan kebersihan kini jadi prioritas utama.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sawagumu di Kota Sorong, Papua Barat Daya, resmi ditutup sementara menyusul temuan ulat dalam menu makanan yang disajikan kepada siswa. Keputusan ini diambil setelah laporan dari pihak sekolah mengenai insiden tersebut yang kemudian menyebar luas di media sosial.
Wakil Gubernur Papua Barat Daya (PBD) Ahmad Nausrau, yang juga menjabat Ketua Satuan Tugas program Makan Bergizi Gratis (MBG), menegaskan penutupan sementara ini berlaku sejak Kamis (24/4). Evaluasi menyeluruh serta pembenahan fasilitas akan dilakukan guna memenuhi standar kebersihan yang ditetapkan.
Insiden ini bermula dari laporan pihak sekolah mengenai ulat yang ditemukan pada menu ikan yang diterima seorang siswa. Pemerintah daerah berkomitmen untuk memperketat pengawasan demi menjaga kualitas dan keamanan program MBG bagi para pelajar.
Kronologi Temuan Ulat dan Reaksi Awal
Peristiwa penemuan ulat dalam makanan siswa ini pertama kali dilaporkan oleh pihak sekolah kepada Satuan Tugas program Makan Bergizi Gratis (MBG). Laporan tersebut segera ditindaklanjuti oleh tim yang terdiri dari Kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, serta unsur pengawasan. Tim langsung bergerak cepat melakukan pengecekan ke sekolah dan berkoordinasi dengan dewan guru.
Berdasarkan hasil penelusuran awal, ulat hanya ditemukan pada satu ompreng milik seorang siswa bernama Rahmatia. Temuan ini terjadi selama dua hari berturut-turut, yakni pada Selasa (22/4) dan Rabu (23/4). Pada hari pertama, siswa tersebut mendapatkan menu makanan berupa ikan goreng, sementara pada hari kedua menunya adalah ikan kuah kuning.
Kasus ini dengan cepat menjadi perbincangan hangat di media sosial, menarik perhatian publik dan memicu respons cepat dari pemerintah daerah. Keresahan masyarakat terkait keamanan pangan anak-anak sekolah menjadi sorotan utama. Pemerintah daerah berjanji untuk menangani masalah ini secara transparan dan tuntas demi menjaga kepercayaan publik.
Investigasi dan Kondisi Kebersihan SPPG Sawagumu
Untuk memastikan kondisi tersebut, tim investigasi tidak hanya berfokus pada laporan awal tetapi juga melakukan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan dilakukan terhadap sisa makanan di SPPG Sawagumu serta pada sejumlah ompreng di dua sekolah berbeda. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah temuan ulat merupakan insiden terisolasi atau masalah yang lebih luas.
Hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya ulat pada makanan lain di SPPG atau di sekolah-sekolah lain yang diperiksa. Namun, tim menemukan bahwa kondisi kebersihan lingkungan SPPG Sawagumu masih perlu ditingkatkan secara signifikan. Adanya banyak lalat di area pengolahan makanan menjadi salah satu indikator utama masalah kebersihan ini.
Dinas Kesehatan Kota Sorong juga turut berperan aktif dalam investigasi ini. Pada Kamis (23/4), Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan sampel makanan dan fasilitas SPPG Sawagumu. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan standar keamanan pangan dan mengidentifikasi potensi risiko kesehatan lainnya.
Tindakan Pemerintah dan Peningkatan Pengawasan
Wakil Gubernur Ahmad Nausrau menyatakan bahwa kejadian ini telah dilaporkan kepada Direktorat Pemantauan dan Pengawasan (Dirtauwas) Wilayah III. Menindaklanjuti laporan tersebut, Dirtauwas merekomendasikan penutupan sementara SPPG Sawagumu. Penutupan ini bertujuan untuk memberikan waktu bagi evaluasi menyeluruh dan perbaikan fasilitas agar memenuhi standar kebersihan yang berlaku.
Pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk memperketat pengawasan terhadap seluruh pengelola SPPG. Tujuannya adalah untuk menjaga kualitas dan keamanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sangat penting bagi siswa. Pengawasan ketat diharapkan dapat mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Ahmad Nausrau secara tegas meminta seluruh pengelola SPPG untuk meningkatkan standar kebersihan dan pengawasan distribusi makanan. Hal ini krusial agar makanan yang dikonsumsi siswa benar-benar aman dan bergizi. "Kami minta seluruh pengelola SPPG meningkatkan standar kebersihan dan pengawasan distribusi makanan agar benar-benar aman dikonsumsi siswa," ujarnya.
Sumber: AntaraNews