Ironi di Balik Turunnya Konsumsi Masyarakat, Kenaikan Gaji Kecil dan Tak Tersentuh Bansos
Faisal menjelaskan tren pelemahan konsumsi belajar kelas menengah di Indonesia telah terjadi sejak pandemi Covid-19 pada 2020 lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2205 hanya tumbuh 4,89 persen. Realisasi ini merupakan yang terendah dalam lima kuartal terakhir.
Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, buka-bukaan penyebab merosotnya konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2025. Dia bilang pangkal dari persoalan tersebut karena pelemahan tren belanja oleh kelas menengah.
Faisal menjelaskan tren pelemahan konsumsi belajar kelas menengah di Indonesia telah terjadi sejak pandemi Covid-19 pada 2020 lalu. Salah satunya disebabkan oleh kenaikan gaji yang lebih kecil dibandingkan pengeluaran akibat kenaikan inflasi.
"Makanya memang secara over all itu memang konsumsi rumah tangga itu memang (lambat) meskipun ada Ramadan dan Lebaran itu di kuartal 1 (2025) masih mengalami perlambatan," kata Faisal kepada awak media usai mengisi acara PIER Quartal I 2025 Economic Review di Menara World Trade Center II, Jakarta, Rabu (14/5).
Di sisi lain, kelas menengah juga tidak mendapatkan insentif bantuan sosial (bansos) layaknya ekonomi menengah ke bawah. Dengan ini, beban belanja konsumsi yang ditanggung kelas menengah lebih besar.
"Jadi memang sebenarnya insentif pemerintah untuk dapat menggerakkan sisi supply-nya, dari sektor realnya itu memang sangat dibutuhkan sekali. Makanya itu memang spending itu menjadi penting," ucapnya.
Faisal mendorong percepatan belanja pemerintah untuk menggenjot daya beli kelas menengah. Selain itu, pemerintah dapat memberikan insentif fiskal yang dapat dirasakan langsung kepada masyarakat kelas menengah.
"Kayak yang diskon tarif listrik, kalau ketika Lebaran itu ada diskon tarif tol, diskon pesawat terbang, untuk mudi kan ya. Memang itu akan membantu, tetapi memang itu sifatnya kan masih temporer ya. Perlu didorong lagi," tegasnya.
Evaluasi Program Efisiensi Anggaran
Selain itu, Faisal juga meminta pemerintah untuk mengevaluasi program efisiensi anggaran. Disebutkannya, dampak dari program efisiensi anggaran tersebut membuat sejumlah sektor usaha menjadi lumpuh.
"Seperti perjalanan dinas dibatasi, pasti kan hotel itu akan kena. Seperti itu sebenarnya memang harus pemerintah lihat. Karena memang jangan hanya kebijakan dari sisi demand-nya, tetapi dari sisi supply-nya juga. Karena itu pasti akan mempengaruhi lapangan pekerjaan dan juga pendapatan dari masyarakat, terutama kelas menengah," bebernya.
Untuk meningkatkan gaji kelas menengah, pemerintah juga perlu mendorong kinerja investasi hingga pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Selain itu, pemerintah juga perlu menjaga inflasi agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
"Jadi memang lapangan pekerjaan yang terbuka, jika pertumbuhan ekonomi terus berjalan, growthnya makin cepat, seharusnya itu akan inline. Sebenarnya memang kalau rumus kenaikan gaji itu juga pakai growth dan inflasikan," tandasnya.