Dampak Tarif Dagang Donald Trump, Bursa Saham Jepang Memimpin Penurunan di Asia
Indeks Nikkei di Jepang menjadi yang terdepan dalam penurunan pada perdagangan bursa saham Asia pada Kamis, 3 April 2025.
Bursa saham di kawasan Asia Pasifik mengalami penurunan tajam pada perdagangan hari Kamis, 3 April 2025. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menerapkan tarif balasan yang signifikan kepada lebih dari 180 negara.
Menurut laporan CNBC, Gedung Putih mengungkapkan melalui grafik di media sosial bahwa tarif efektif yang dikenakan oleh negara lain terhadap barang-barang AS mencakup manipulasi mata uang dan berbagai hambatan perdagangan. Dalam pernyataannya kepada CNBC, Gedung Putih menjelaskan tarif baru yang dikenakan kepada China akan ditambahkan ke tarif yang sudah ada sebesar 20 persen, sehingga tarif total yang berlaku untuk Beijing berdasarkan kebijakan Trump mencapai 54 persen. Sementara itu, barang-barang dari India, Korea Selatan, dan Australia akan dikenakan tarif masing-masing sebesar 26 persen, 25 persen, dan 10 persen.
Bursa saham Jepang menjadi yang paling terpengaruh oleh penurunan ini. Indeks Nikkei 225 di Jepang mencatat penurunan sebesar 2,68 persen, setelah sebelumnya kehilangan lebih dari 4 persen saat pembukaan perdagangan. Indeks Topix juga mengalami penurunan, tergerus 2,97 persen, yang mengurangi kerugian awal yang lebih dari 4 persen.
Di Hong Kong, indeks Hang Seng turun 1,16 persen pada sesi awal perdagangan, sementara indeks CSI 300 di China menyusut 0,48 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi melemah 1,29 persen, berhasil memangkas kerugian yang lebih dari 3 persen, sedangkan indeks Kosdaq turun 0,61 persen. Indeks ASX 200 di Australia juga mengalami penurunan, merosot 1,17 persen. Di tengah situasi ini, harga emas mencapai rekor tertinggi, diperdagangkan pada USD 3.153,92 per ons pada pukul 09.53 waktu Singapura, karena banyak investor beralih membeli logam mulia.
Wall Street Menguat
Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat, yang dikenal dengan sebutan Wall Street, mengalami lonjakan signifikan pada Rabu, 2 April 2025, menjelang pengumuman tarif yang akan disampaikan Trump. Berdasarkan informasi dari CNBC pada Kamis (3/4), indeks S&P 500 mengalami peningkatan sebesar 0,67 persen, mencapai angka 5.670,97. Selain itu, indeks Nasdaq juga naik 0,87 persen hingga mencapai 17.601,05, sementara indeks Dow Jones bertambah 235,36 poin atau 0,56 persen, menembus angka 42.225,32.
Setelah sesi perdagangan, Trump mengumumkan penerapan tarif dasar sebesar 10 persen untuk semua jenis impor, serta bea masuk yang lebih tinggi bagi sejumlah mitra dagang utama, yang berpotensi memperburuk perang dagang yang telah dimulainya saat kembali ke Gedung Putih. Hal ini dilaporkan Yahoo Finance pada Kamis, (3/4).
Setelah pengumuman tersebut, indeks saham berjangka menunjukkan penurunan, yang mengindikasikan investor memperkirakan kerugian saat Wall Street dibuka pada hari Kamis pekan ini, sementara harga emas justru mengalami kenaikan.
David Laut, Chief of Investment di Abound Financial, menyatakan meskipun terdapat kejelasan lebih lanjut mengenai tarif yang diterapkan, pasar mungkin memerlukan waktu yang cukup lama untuk menganalisis dampaknya.
"Saat saya berbicara dengan klien, saya merasakan bahwa pemikiran mereka mengenai pergerakan pasar dan dampak yang akan ditimbulkan terhadap ekonomi akibat penyesuaian tarif ini akan membutuhkan waktu lebih lama untuk terwujud," ujarnya.
Dengan demikian, ketidakpastian masih menyelimuti pasar, dan investor harus bersiap menghadapi fluktuasi yang mungkin terjadi.
Investor Perlu Waktu
David menyatakan investor akan memerlukan waktu untuk memahami dampak dari tarif perdagangan.
"Jadi, menurut saya, investor cukup tidak konsisten dan cukup konservatif dalam memposisikan atau bertaruh melawan hasil positif, jika ada, dari pengambilan keputusan tarif. Jadi, saya pikir meskipun kita mendapatkan lebih banyak informasi hari ini, orang-orang akan membutuhkan waktu untuk mencerna berita itu dan memutuskan apa yang mereka pikirkan tentangnya," tambahnya.
Ekonom juga menjelaskan kebijakan tarif yang diterapkan oleh Donald Trump dapat menyebabkan inflasi meningkat serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Selama pidatonya, pelaku pasar mulai meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve (the Fed) akan segera memangkas suku bunga pada Juni dan memberikan pemangkasan lebih lanjut pada Oktober. Saham yang diperdagangkan pada Rabu pekan ini, seperti Tesla yang dimiliki Elon Musk, mengalami kenaikan lebih dari 5 persen, meskipun sempat merosot lebih dari 4 persen saat pidato Donald Trump berlangsung.
Di sisi lain, saham Amazon mengalami kenaikan 2 persen setelah kabar bahwa perusahaan tersebut menawar untuk mengakuisisi TikTok, meskipun sempat turun 3 persen setelah pengumuman terkait tarif. Saat ini, perhatian pasar beralih ke laporan penggajian nonpertanian bulanan yang sangat penting serta pidato dari Ketua The Fed, Jerome Powell, yang dijadwalkan berlangsung pada hari Jumat mendatang.