Warga Binaan Lapas Dipekerjakan di SPPG Babakan, Pastikan Sudah Seleksi Ketat
Proses ini mencakup tes psikologis dan kesehatan untuk memastikan bahwa mereka memenuhi syarat yang ditetapkan.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakan, yang berlokasi di Kota Tangerang, Banten memastikan bahwa warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Tangerang yang terlibat dalam operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) telah melalui proses seleksi yang sangat ketat.
Proses ini mencakup tes psikologis dan kesehatan untuk memastikan bahwa mereka memenuhi syarat yang ditetapkan.
Head Chef SPPG Babakan, Kuming menegaskan bahwa pemilihan tenaga kerja dari warga binaan tidak dilakukan sembarangan, melainkan melalui tahap penyaringan yang berlapis. "Mereka (warga binaan) ini tuh bukan orang-orang sembarangan, dalam artian mereka sudah dites dari psikolog, dari kesehatannya, dan segala macam secara ketat," jelas Kuming dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah RI, pada Sabtu (25/4).
Dia menambahkan bahwa semua warga binaan yang bertugas dalam dapur berada dalam kondisi sehat, baik secara fisik maupun mental, sehingga aman untuk berpartisipasi dalam proses mencuci dan membersihkan peralatan masak.
Namun, penting untuk dicatat bahwa para warga binaan tidak terlibat dalam proses menyiapkan atau memasak makanan, dan mereka tidak diperkenankan untuk memegang benda tajam.
"Jadi, mereka insya Allah datang ke sini tidak membawa penyakit bawaan, dan tidak dalam kondisi bisa dibilang gangguan kejiwaannya, gangguan mentalnya," tegasnya.
Hal ini menunjukkan komitmen SPPG Babakan untuk menjaga standar kesehatan dan keselamatan dalam operasional dapur Makan Bergizi Gratis.
Diawasi Petugas Lapas
Menurut Chef Kuming, minat warga binaan untuk bekerja di dapur SPPG cukup tinggi. Pihak lapas pun melakukan seleksi lanjutan sebelum mereka ditempatkan di dapur. "Banyak dari pihak pembinaan lapas itu yang pengen kerja di sini. Tapi disortir lagi oleh lapas itu sendiri, dari attitude-nya, dari kelayakan dia, mentalnya, dan segala macam, mereka bisa masuk secara ketat," kata dia.
Selain seleksi kesehatan fisik dan mental, aspek keamanan juga menjadi perhatian utama.
Dia menyebut petugas lapas melakukan pengawasan intensif di dapur bahkan hingga malam hari. "Pihak sipir empat (sampai) lima orang masih tetap standby di sini. Jagain di pintu depan, di pintu belakang, sama di jendela. Jadi Insyaallah aman," tegas Kuming.
Dengan adanya pengawasan yang ketat, diharapkan proses kerja di dapur dapat berjalan dengan baik dan aman. Hal ini juga menunjukkan komitmen pihak lapas dalam memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk belajar dan berkarya di lingkungan yang terkontrol.