Imbas Kebijakan Donald Trump Bikin Pasar Saham Dunia Anjlok Parah hingga Muncul "Black Monday"
Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar akan terjadinya "Black Monday."
Pasar saham Asia-Pasifik mengalami guncangan hebat pada awal pekan ini, dipicu oleh kekhawatiran yang semakin mendalam mengenai perang tarif antara Amerika Serikat dan China, serta dampak dari kebijakan tarif impor terbaru yang diberlakukan Presiden AS, Donald Trump. Indeks saham utama di berbagai negara, seperti India, Hong Kong, Jepang, China, Malaysia, Australia, bahkan Amerika sekalipun, mengalami penurunan tajam, dan menambah tekanan besar pada sentimen pasar global.
Pada perdagangan Senin pagi (7/4), pasar saham India diperkirakan akan menghadapi tekanan berat, dengan indeks Sensex dan Nifty 50 diprediksi dibuka anjlok tajam. Sinyal pelemahan ini terlihat jelas dari pergerakan Gift Nifty yang tercatat pada level 22.083, lebih rendah hampir 875 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Diperkirakan, Nifty 50 akan dibuka turun lebih dari 3 persen, memicu kekhawatiran pasar akan terjadinya "Black Monday" versi India.
Gelombang kekhawatiran global ini juga mempengaruhi pasar saham di kawasan Asia lainnya. Indeks MSCI Asia ex-Japan turun 6,5 persen, sementara kontrak berjangka saham AS juga menunjukkan penurunan yang signifikan, dengan indeks S&P 500 tergerus 4,2 persen, Dow Jones Industrial Average turun 3,5 persen, dan Nasdaq anjlok 5,3 persen. Tekanan ini semakin diperburuk dengan kekhawatiran akan resesi ekonomi di AS yang semakin menguat.
Kontrak berjangka saham AS juga menunjukkan tekanan jual besar-besaran. Kontrak berjangka indeks S&P 500 tercatat merosot 4,2 persen, Dow Jones Industrial Average turun 3,5 persen, sementara Nasdaq terjun lebih dalam dengan koreksi 5,3 persen.
Pasar saham Korea Selatan juga tak luput dari tekanan hebat. Indeks Kospi anjlok lebih dari 4 persen, sementara indeks Kosdaq terkoreksi lebih dari 3 persen. Bursa Singapura pun dibuka dengan penurunan 7 persen, menandai potensi hari perdagangan terburuknya sejak pandemi COVID-19 pada Maret 2020.
Di kawasan Asia Tenggara, saham Malaysia ikut terpuruk dengan koreksi lebih dari 4 persen, sekaligus membawa indeksnya ke posisi terendah dalam 16 bulan terakhir. Sementara itu, bursa saham Taiwan mencatatkan kejatuhan paling parah, ambruk hampir 10 persen pada sesi perdagangan pertamanya sejak diumumkannya kebijakan tarif terbaru oleh AS.