Hang Seng Index Ambrol, Paling Buruk Sejak Satu Tahun terakhir
Pasar saham Hong Kong mengalami guncangan hebat pada awal pekan ini.
Pasar saham Hong Kong mengalami guncangan hebat pada awal pekan ini. Indeks acuan Hang Seng anjlok paling tajam dalam lebih dari satu tahun terakhir, seiring bergugurannya pasar saham di kawasan Asia-Pasifik.
Ketegangan perang tarif antara China dan Amerika Serikat kembali memicu gelombang kekhawatiran yang menerpa perekonomian global.
Melansir dari South China Morning Post, pada perdagangan Senin pagi waktu setempat, Indeks Hang Seng ambles hingga 9,1 persen ke posisi 20.778,10 pada pukul 10.50.
Bahkan, di sesi perdagangan intraday, indeks ini sempat jatuh lebih dalam hingga 10,2 persen ke level 20.508,85 mencatatkan penurunan persentase harian terbesar sejak lebih dari setahun terakhir.
Kondisi serupa juga terjadi di berbagai bursa Asia-Pasifik, di mana 11 dari 14 indeks saham acuan di kawasan tersebut merosot ke posisi terendah dalam 52 minggu terakhir.
Hampir seluruh anggota Indeks Hang Seng ikut terperosok. Dari total 83 saham yang tergabung, hanya dua emiten yang mampu bertahan di zona hijau. Sementara itu, perusahaan-perusahaan eksportir seperti produsen komputer Lenovo Group dan produsen teknologi optik Sunny Optical Technology menjadi korban terbesar dari aksi jual besar-besaran tersebut.
Tidak hanya Hong Kong, pasar saham di China pun ikut terseret jatuh. Indeks CSI 300, yang mencerminkan kinerja 300 saham unggulan di Bursa Shanghai dan Shenzhen, tertekan hingga 7,6 persen.
Tekanan Hebat bagi Pasar Asia
Sementara itu, Indeks Shanghai Composite terperosok 7,4 persen dan Indeks Shenzhen Composite bahkan anjlok lebih dalam hingga 9,8 persen.
Gelombang kepanikan investor pada hari Senin ini merupakan respons pertama pasar setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi memberlakukan tarif impor tambahan terhadap produk-produk asal Tiongkok, termasuk dari Hong Kong.
Kebijakan ini merupakan lanjutan dari perang tarif yang pertama kali diluncurkan Trump pada tahun 2018. Kali ini, tarif impor yang dikenakan Amerika Serikat mencapai 34 persen.
Sebelumnya, pasar saham di Hong Kong dan China ditutup pada hari Jumat lalu dalam rangka memperingati libur umum Festival Ching Ming, sehingga gejolak pasar baru terlihat saat perdagangan dibuka kembali pada hari Senin.
“Para pelaku pasar saat ini tengah bersiap menghadapi kondisi perdagangan yang sangat volatil sepanjang pekan ini. Jika tidak ada intervensi dari 'Tim Nasional' sebutan bagi institusi negara yang biasanya melakukan pembelian untuk menstabilkan pasar maka efek domino dari aksi jual bisa meluas lebih cepat,” ungkap Managing Partner di SPI Asset Management, Stephen Innes.
Penurunan tajam pada bursa Hong Kong hari ini terjadi setelah indeks perusahaan teknologi China yang terdaftar di Amerika Serikat juga jatuh 8,9 persen pada perdagangan Jumat lalu.
Hal ini dipicu oleh keputusan China untuk membalas kebijakan tarif Amerika Serikat dengan mengenakan tarif serupa sebesar 34 persen terhadap produk-produk impor asal Amerika.
Di tengah gejolak ini, lembaga keuangan global mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan pasar saham Tiongkok. Goldman Sachs, misalnya, pada hari Minggu kemarin memangkas estimasi pertumbuhan indeks MSCI China menjadi 10 persen dari sebelumnya 16 persen. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan Indeks CSI 300 juga dipotong menjadi 17 persen dari 19 persen.
“Kami memperkirakan ancaman perang tarif ini masih akan terus membayangi pasar saham Asia-Pasifik hingga kuartal kedua tahun 2025,” tulis analis dari Daiwa Capital Markets, Patrick Pan dan Yue Tan, dalam riset terbarunya.
Mereka menambahkan, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik saat ini, sentimen pasar diprediksi akan semakin memburuk.
Oleh karena itu, investor disarankan untuk sementara waktu menjauh dari saham-saham yang terkait erat dengan sektor perdagangan seperti tekstil, pengiriman barang, suku cadang otomotif, tenaga surya, hingga peralatan rumah tangga. Sebaliknya, sektor-sektor defensif seperti kebutuhan pokok, layanan kesehatan, properti, keuangan, dan utilitas dinilai lebih aman untuk saat ini.
Tekanan tidak hanya dirasakan oleh Hong Kong dan China. Bursa-bursa utama Asia lainnya juga ikut tertekan hebat. Indeks Nikkei 225 di Jepang longsor 6,5 persen, Indeks Kospi di Korea Selatan anjlok 9,7 persen, sementara Indeks S&P/ASX 200 di Australia melemah 3,7 persen.