Polisi Jelaskan Soal Sopir Taksi Diduga Peras Penumpang WNA di Bali
Penumpang WNA diduga diperas oleh sopir taksi tersebut dan rekan perempuannya yang ingin membantu malah mendapatkan intimidasi.
Video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang penumpang perempuan bersama rekannya seorang pria warga negara asing (WNA) yang terlibat cekcok dengan seorang sopir taksi lokal di Bali.
Dalam keterangan video itu, penumpang WNA diduga diperas oleh sopir taksi tersebut dan rekan perempuannya yang ingin membantu malah mendapatkan intimidasi.
Pejabat Sementara (PS) Kasubsipenmas Sihumas Polres Badung Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti mengatakan, peristiwa itu terjadi pada Minggu (31/5) sekitar pukul 03:30 WITA di sebuah minimarket di Jalan Semat, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali.
"Unit Reskrim Polsek Kuta Utara, melakukan klarifikasi dan pendalaman keterangan terhadap seluruh pihak yang terlibat, guna memperoleh fakta kejadian secara utuh," kata Aiptu Ayu dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/6) sore.
Dalam peristiwa cekcok itu, diketahui sopir taksi berinisial INBU (36) yang beralamat tinggal di daerah Kecamatan Kuta Utara.
Kemudian, untuk seorang perempuan berinisial MD (40) yang beralamat di Kecamatan Singkawang Barat, Kalimantan Barat, dan seorang pria warga asing berinisial AW.
Kronologi
Kronologisnya, saat itu sopir taksi INBU yang sedang mangkal di area restoran, di Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, menerima penumpang yaitu MD dan AW.
Saat itu, MD dan AW baru selesai dari restoran dan berencana kembali ke vila di Jalan Ekalaweya, Desa Pererenan, Kecamatan Mengwi, dengan tawaran sebesar Rp 300.000.
Namun, dalam perjalanan AW menyampaikan bahwa dirinya tidak membawa uang tunai dan meminta sopir taksi untuk singgah terlebih dahulu ke ke sebuah restoran untuk mencari mesin ATM dan melakukan penarikan uang tunai. Namun, saat memasuki mesin ATM, sopir taksi mengikuti warga asing tersebut sehingga membuat MD curiga.
"Dan saat ke mesin ATM tersebut, pihak (sopir taksi) mengikuti pihak (AW) ke dalam mesin ATM yang membuat pihak (MD) curiga," imbuhnya.
Setelah dari mesin ATM, mereka melanjutkan perjalanan tetapi ketika sekitar 100 meter, AW merasa kartu ATM miliknya tertinggal dan meminta kembali ke lokasi sebelumnya.
Karena terus bolak- balik, maka sopir taksi sempat meminta uang tambahan kepada AW. Namun, hal itu membuat MD merasa bahwa sopir taksi keterlaluan dan ingin memeras AW.
"Di sisi lain (AW) tidak mempermasalahkan hal tersebut, sebagaimana yang terlihat dalam video viral didalam mobil tersebut," jelasnya.
Kemudian, AW kembali meminta singgah di sebuah minimarket di Jalan Semat, Desa Tibubeneng, untuk membeli minuman ringan dan sopir taksi saat itu ingin memastikan apakah nantinya menerima atau tidak tambahan pembayaran tersebut.
Kemudian, sopir taksi turut masuk ke dalam minimarket. Tetapi hal itu menimbulkan kesalahpahaman dan MD mengira sopir taksi memaksa tarif tambahan kepada AW.
"Hal tersebut menimbulkan kesalahpahaman dari pihak (MD) yang mengira (sopir taksi) bermaksud memaksa tarif tambahan kepada pihak (AW). Sehingga terjadi adu argumentasi sebagaimana yang viral tersebut," ungkapnya.
Bayar Rp300.000
Kemudian, selama perselisihan berlangsung, AW tidak banyak memberikan tanggapan karena dalam kondisi dipengaruhi minuman beralkohol. Setelah kejadian tersebut, AW memutuskan membayar ongkos taksi sebesar Rp 300.000 dan menyuruh sopir taksi meninggalkan lokasi.
"Selanjutnya, (MD dan AW) pergi menuju vila dengan memesan driver online lainnya. Kejadian tersebut diduga dipicu oleh kesalahpahaman antara sopir taksi dan penumpang (MD) terkait persepsi permintaan tarif tambahan," ujarnya.
"Sehingga, berkembang menjadi adu argumentasi dan viral di media sosial. Berdasarkan kronologis yang diperoleh, belum ditemukan indikasi kuat adanya tindakan pemerasan," ujarnya.