Trump Tunda Tarif Impor, Saham Global Kompak Melonjak
Lonjakan ini tercatat sebagai yang terbaik sejak krisis keuangan pada 2008.
Bursa saham global mengalami lonjakan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan keputusan mengejutkan untuk menunda tarif impor bagi sebagian besar negara selama 90 hari ke depan. Keputusan ini datang setelah pembicaraan yang dilakukan dengan sejumlah negara mitra dagang AS, dan langsung disambut meriah oleh investor yang merasa lega dengan penundaan tersebut.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan besar sebesar 7,9 persen, hampir 3.000 poin, sementara indeks S&P 500 melonjak 9,5 persen dan Nasdaq Composite yang dihiasi dengan saham-saham teknologi naik 12,2 persen. Lonjakan ini tercatat sebagai yang terbaik sejak krisis keuangan pada 2008, bahkan Nasdaq mencatatkan lonjakan terbesar dalam satu hari sejak gelembung dot-com pada 2001.
Sehari sebelumnya, pasar saham AS sempat terombang-ambing, dengan fluktuasi tajam akibat ketidakpastian tarif impor yang diterapkan Presiden Trump. Keputusan Trump untuk mengenakan tarif besar-besaran pada hampir seluruh negara, termasuk Tiongkok, Jepang, dan Uni Eropa, membuat indeks S&P 500 kehilangan hampir 12 persen nilainya dalam empat hari terakhir. Tiongkok pun membalas kebijakan ini dengan menaikkan tarif impor produk-produk AS hingga 84 persen, memicu kekhawatiran ekonomi global.
Namun, situasi berubah drastis pada pukul 1:18 siang waktu setempat. Trump mengumumkan melalui platform media sosial Truth Social bahwa AS akan memberikan jeda selama 90 hari pada tarif-tarif balasan tersebut, sambil menetapkan tarif dasar sebesar 10 persen untuk hampir semua negara, kecuali Tiongkok. Tidak hanya itu, Trump juga mengungkapkan rencana untuk menaikkan tarif impor dari Tiongkok menjadi 125 persen.
Berita tersebut langsung disambut positif oleh pasar saham. Sektor teknologi, yang selama ini tertekan, mengalami lonjakan harga yang luar biasa. Saham Tesla, produsen kendaraan listrik, meroket 23 persen, sementara saham perusahaan pembuat chip seperti Nvidia dan Broadcom masing-masing melonjak lebih dari 18 persen. Saham Apple dan Meta Platforms naik sekitar 15 persen, sedangkan Amazon melonjak 12 persen. Saham-saham teknologi lainnya, seperti Palantir, Intel, dan Advanced Micro Devices juga mencatatkan lonjakan signifikan.
Tidak hanya sektor teknologi yang merasakan dampak positif, saham maskapai penerbangan seperti Delta Airlines dan United Airlines masing-masing naik 23 persen dan 26 persen. Perusahaan perjalanan seperti Expedia dan Norwegian Cruise Line juga mencatatkan kenaikan sekitar 18 persen.
Sektor perbankan yang sebelumnya tertekan juga mengalami rebound setelah pengumuman Trump. Saham JPMorgan Chase naik 8 persen, Citigroup melonjak 9 persen, sementara Bank of America dan Wells Fargo masing-masing mencatatkan kenaikan lebih dari 6 persen.
Selain itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga ikut melonjak 5,3 persen ke level 62,70 dolar AS per barel, setelah sempat terpuruk ke level terendah dalam empat tahun terakhir. Harga emas berjangka juga meningkat 3,7 persen menjadi sekitar 3.100 dolar AS per ons.
Sementara itu, pasar kripto turut merasakan lonjakan harga. Harga Bitcoin meningkat menjadi 83.200 dolar AS, naik dari sebelumnya sekitar 78.000 dolar AS sebelum pengumuman Trump. Kenaikan ini juga berimbas pada saham perusahaan yang terkait dengan kripto, seperti MicroStrategy, yang melonjak 25 persen.
Keputusan Trump untuk menunda tarif impor menunjukkan dampak signifikan terhadap pasar, memberikan angin segar bagi sektor-sektor yang sempat tertekan. Namun, ketidakpastian tetap menghantui pasar, terutama terkait rencana tarif lebih lanjut terhadap Tiongkok dan dampak jangka panjangnya bagi perekonomian global.