Profil Khalil Al-Hayya, Pemimpin & Negosiator Utama Hamas Jadi Target Pembunuhan Israel di Qatar
Serangan Israel di Qatar menargetkan Khalil Al-Hayya, negosiator utama Hamas.
Serangan udara Israel di Doha, Qatar, Selasa (9/9/2025) mengejutkan dunia internasional dengan menargetkan sejumlah tokoh senior Hamas. Insiden ini secara spesifik menyasar negosiator utama kelompok tersebut, Khalil Al-Hayya, memicu kecaman keras dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai dampaknya terhadap upaya perdamaian di Gaza.
Lima anggota Hamas dilaporkan wafat dalam serangan tersebut, termasuk Hammam al-Hayya, putra dari Khalil Al-Hayya, serta direktur kantornya, Jihad Lubad. Selain itu, seorang personel keamanan Qatar juga menjadi korban jiwa, menambah daftar korban dalam eskalasi konflik ini. Peristiwa ini terjadi di tengah upaya mediasi intensif untuk mencapai gencatan senjata di Jalur Gaza.
Hamas segera mengutuk tindakan ini sebagai "kejahatan keji dan agresi terang-terangan" terhadap kedaulatan Qatar. Mereka menegaskan bahwa upaya musuh untuk melenyapkan delegasi negosiasi mereka telah gagal.
Serangan ini menambah kompleksitas situasi geopolitik di Timur Tengah, terutama dalam konteks perundingan yang sedang berlangsung.
Profil Khalil Al-Hayya, Tokoh Kunci Hamas
Khalil Al-Hayya, lahir di Jalur Gaza pada 1960, telah menjadi bagian integral dari Hamas sejak didirikan pada tahun 1987. Ia kini menjabat sebagai salah satu dari lima pemimpin yang mengarahkan dewan kepemimpinan Hamas, sebuah komite pengatur sementara yang dibentuk pada akhir tahun 2024 untuk mengelola kelompok tersebut selama perang.
Sebagai "pemimpin Gaza yang diasingkan dan negosiator utama", Al-Hayya kini memegang peran sentral dalam operasi Hamas di Gaza sejak terbunuhnya Yahya Sinwar pada tahun 2024. Sebelumnya, ia adalah wakil Sinwar dan menjadi wajah publik gerakan tersebut setelah terbunuhnya Ismail Haniyeh pada tahun 2024.
Basisnya di Qatar memungkinkan ia memainkan peran krusial dalam diplomasi gencatan senjata, berulang kali memimpin delegasi ke Kairo.
Al-Hayya memiliki sejarah pribadi yang kelam dengan konflik ini, di mana ia telah kehilangan beberapa kerabat dekatnya, termasuk putra sulungnya, akibat serangan Israel.
Ia juga bertugas sebagai penghubung utama Hamas untuk hubungan dengan dunia Arab dan Islam, menunjukkan pentingnya perannya dalam jaringan diplomatik kelompok perjuangan pembebasan Palestina tersebut.
Peran Strategis dalam Negosiasi Gencatan Senjata
Khalil Al-Hayya dikenal sebagai negosiator utama Hamas yang telah memimpin berbagai delegasi dalam upaya diplomatik. Ia secara berulang kali memimpin perwakilan Hamas ke Kairo untuk terlibat dalam negosiasi tidak langsung dengan Israel, bertujuan mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan.
Peran Al-Hayya dalam diplomasi sangat vital, terutama karena ia berbasis di Qatar, yang telah menjadi pusat utama mediasi antara berbagai pihak, termasuk Israel, Mesir, dan Amerika Serikat. Kehadirannya di Qatar memungkinkan komunikasi yang lebih efektif dalam upaya mengakhiri konflik yang berkepanjangan di Gaza.
Serangan Israel yang menargetkannya saat ia memimpin negosiasi gencatan senjata secara signifikan mengganggu upaya diplomatik yang sedang berlangsung. Insiden ini menimbulkan kekacauan dalam perundingan yang sensitif, yang bertujuan untuk mencapai gencatan senjata dan pembebasan sandera Israel yang telah ditahan selama hampir dua tahun.
Mengapa Israel Menargetkan Khalil Al-Hayya?
Penargetan Khalil Al-Hayya oleh Israel didasari oleh perannya yang semakin sentral dalam kepemimpinan Hamas. Setelah terbunuhnya Ismail Haniyeh dan Yahya Sinwar pada tahun 2024, Al-Hayya menjadi salah satu dari lima pemimpin yang membentuk dewan kepemimpinan baru Hamas, menjadikannya figur kunci dalam struktur organisasi.
Israel secara sistematis berupaya melenyapkan sebagian besar kepemimpinan Hamas selama perang genosida di Gaza yang telah berlangsung dua tahun. Penargetan Al-Hayya adalah bagian dari strategi ini, mengingat posisinya sebagai kepala operasi Hamas di Gaza dan negosiator utama yang mengarahkan arah kelompok tersebut.
Serangan terhadap Al-Hayya, yang merupakan negosiator kunci, juga dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk menggagalkan atau mengganggu proses negosiasi gencatan senjata. Dengan melenyapkan tokoh sentral dalam diplomasi, Israel mungkin berharap dapat melemahkan posisi Hamas dalam perundingan dan mencapai tujuan militernya.
Korban dan Dampak Serangan di Doha
Serangan udara Israel di Doha menewaskan lima anggota Hamas, termasuk Hammam al-Hayya, putra dari pemimpin Hamas Khalil Al-Hayya. Korban lainnya meliputi Jihad Lubad, direktur kantor Al-Hayya, serta tiga ajudan: Abdullah Abdel Wahid, Moamen Hassouna, dan Ahmed al-Mamlouk. Identifikasi korban ini menunjukkan bahwa target serangan adalah figur-figur penting dalam struktur Hamas.
Selain anggota Hamas, seorang personel keamanan Qatar juga dilaporkan tewas dalam insiden tersebut, yang semakin memperkeruh situasi dan menimbulkan kecaman internasional. Hamas mengecam serangan ini sebagai "agresi terhadap kedaulatan Negara Qatar yang bersaudara", menyoroti pelanggaran wilayah negara berdaulat.
Insiden ini terjadi tepat saat delegasi negosiasi Hamas sedang membahas proposal terbaru dari Presiden AS Donald Trump. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa serangan tersebut mungkin bertujuan untuk menggagalkan kemajuan dalam negosiasi, yang sedang diupayakan oleh Qatar dan Mesir sebagai mediator utama.
Implikasi Geopolitik dan Masa Depan Perdamaian
Serangan Israel di Doha memiliki implikasi geopolitik yang signifikan, terutama bagi upaya perdamaian di Timur Tengah. Penargetan seorang negosiator kunci Hamas di wilayah negara mediator seperti Qatar dapat merusak kepercayaan dan mempersulit upaya mediasi di masa depan.
Hamas secara eksplisit menyatakan bahwa pendudukan Israel dan pemerintah Amerika Serikat bertanggung jawab atas "kejahatan" ini, menyoroti dukungan Washington terhadap agresi Israel. Pernyataan ini dapat meningkatkan ketegangan antara berbagai pihak dan mempersulit upaya diplomatik yang melibatkan AS.
Meskipun serangan ini bertujuan melenyapkan kepemimpinan Hamas, kelompok tersebut menegaskan bahwa upaya musuh untuk membunuh anggota delegasi negosiasi telah gagal. Peristiwa ini menunjukkan bahwa konflik di Gaza tidak hanya terbatas pada wilayah tersebut, melainkan dapat meluas ke arena diplomatik dan keamanan regional.