Nasib Tragis Prada Lucky 7 Kali Gagal Tes TNI Lalu Diterima, 3 Bulan Kemudian Tewas di Tangan Senior
Ibu dari Prada Lucky Namo, Septiana Paulina Mirpey, mengungkapkan informasi terbaru mengenai perjalanan anaknya dalam mewujudkan cita-cita sebagai TNI.
Ibunda Prada Lucky, Septiana Paulina Mirpey, mengungkapkan informasi baru terkait perjalanan anaknya dalam mewujudkan impian sebagai anggota TNI.
Paulina menjelaskan bahwa sejak lama, Prada Lucky telah bercita-cita menjadi tentara dan telah mengikuti tes masuk TNI sebanyak delapan kali.
"Saya sakit hati, saya hancur hati saya. Kalian bikin seperti ini," ungkap Paulina kepada wartawan pada Jumat (8/8).
Namun, rasa sakit hati Paulina semakin dalam ketika impian anaknya untuk menjadi TNI justru berujung pada kehilangan nyawa akibat pembunuhan yang dilakukan oleh seniornya di barak.
"Ini yang terakhir, di umur terakhir. Dia untuk tes, dia lolos. Saya perasaan tidak enak," kata Paulina.
Dengan air mata yang mengalir, Paulina menceritakan momen-momen ketika anaknya mengalami kesakitan setelah disiksa oleh senior-seniornya di barak militer.
Paulina datang ke lokasi saat kondisi Prada Lucky sudah tidak sadarkan diri dan hanya bisa mengerang dalam kesakitan.
"Bisik di telinga, saya bilang, Lucky, mama sudah datang. Mama sudah datang. Lucky kan minta mama datang lagi. Mama sudah datang. Dia dengar, langsung dia berontak," ceritanya.
Dengan penuh haru, Paulina mengenang saat-saat terakhir bersama anaknya yang sangat dicintainya.
Prada Lucky mengalami banyak luka di tubuhnya
Paulina menyaksikan dengan penuh rasa prihatin kondisi anaknya yang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Badan Prada Lucky dipenuhi luka-luka yang mengkhawatirkan.
"Di tangan, di kaki, di badan, di belakang. Semua ada (luka)," ungkap sang ibu dengan suara yang bergetar.
Sepriana, mama angkatnya, juga menceritakan pengalaman pahit yang dialami Prada Lucky saat pertama kali disiksa oleh senior-seniornya di markas tentara.
"Dia bilang, mama saya dicambuk. Dia lari ke bawah, ke mama angkatnya, ke badannya telah hancur semua. Dari tangan dua-dua, kaki, belakang," jelas Sepriana dengan nada sedih.
Ketika itu, Prada Lucky mengaku tengah mengalami penyiksaan yang sangat menyakitkan oleh para seniornya.
Sebagai seorang ibu, Paulina merasa sangat terpukul mengetahui bahwa anak kebanggaannya mengalami perlakuan yang tidak manusiawi hingga mengakibatkan kematian.
Menjadi prajurit TNI bukanlah hal yang mudah bagi Lucky, namun ia harus menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dari yang seharusnya.
Rasa sakit dan penderitaan yang dialaminya membuat semua orang merasa prihatin dan marah terhadap perlakuan yang diterimanya.
Prada Lucky baru bergabung dengan TNI selama 3 bulan
Keluarga merasa terkejut ketika mendengar berita tentang tewasnya Prada Lucky akibat penganiayaan yang dilakukan oleh seniornya.
Prajurit TNI AD tersebut bertugas di Batalyon TP 834 Wakanga Mere, yang terletak di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Paman korban, Rafael Davids, menjelaskan bahwa keponakannya baru beberapa bulan menjadi prajurit TNI.
"Prajurit baru dan pelantikannya bulan Juni," ungkap Davids kepada wartawan pada Kamis (7/8/2025).
Rafael juga menambahkan bahwa Lucky sempat pulang ke Kupang beberapa waktu lalu untuk merayakan syukuran bersama keluarga dan teman-temannya.
Setelah itu, pada tanggal 5 Juni, ia kembali ke kompi. Menurut Rafael, Prada Lucky dikenal sebagai sosok yang baik. Meskipun ia pendiam, ia tidak menunjukkan sikap angkuh.
"Tidak sombong apa segala, tidak anak ini," kenangnya.
Rafael mengungkapkan bahwa Lucky adalah anak kedua dari empat bersaudara, yang memiliki seorang kakak perempuan dan dua adik laki-laki yang masih kecil.