Kasus Prada Lucky Memanas, Sang Ayah Ancam Otopsi Ulang Jika Hukum Tak Transparan
Ia menyatakan tidak menerima pembelaan dari penasihat hukum terhadap 22 terdakwa yang saat ini menjalani proses persidangan.
Pembantu Letnan Dua (Pelda) Cristian Namo, Ayah almarhum Prada Lucky, menuntut keadilan atas kematian anaknya yang terjadi di lingkungan TNI Angkatan Darat.
Ia menyatakan tidak menerima pembelaan dari penasihat hukum terhadap 22 terdakwa yang saat ini menjalani proses persidangan, karena menilai penyebab kematian putranya tidak pernah dijelaskan secara terang.
Pernyataan keras itu disampaikan Pelda Cristian Namo, melalui sebuah video yang diunggah akun TikTok @arisroja, Selasa (23/12).
Sebagai Seorang Ayah yang Kehilangan Anak
Dalam video tersebut, Pelda Cristian Namo menegaskan bahwa dirinya berbicara bukan sebagai prajurit, melainkan sebagai seorang ayah yang kehilangan anak.
"Saya sebagai manusia, jangan lihat saya tentaranya. Anak saya meninggal di dalam institusi tentara, tapi sampai hari ini saya tidak menerima penjelasan yang jelas kenapa anak saya dibunuh," kata Pelda Cristian Namo.
Ia menyebut, berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam persidangan, peristiwa bermula dari pemeriksaan telepon genggam milik almarhum Prada Lucky.
Pemeriksaan tersebut diduga terkait pengecekan kedisiplinan prajurit, termasuk persoalan judi online.
Namun, Pelda Cristian Namo mempertanyakan alasan yang kemudian berujung pada kekerasan terhadap anaknya.
Ia menilai tidak ada motif yang jelas yang dapat membenarkan tindakan penganiayaan tersebut.
"Mereka cuma lihat dari HP, ada chat. Dari situ anak saya dibantai. Saya tidak bilang dipukul, tapi dibantai," ujarnya.
Protes Keras
Pelda Cristian Namo juga memprotes keras pernyataan kuasa hukum terdakwa yang menyebut penganiayaan dilakukan dengan “Benda lembut”. Menurutnya, benda-benda seperti selang dan kabel tidak pantas disebut sebagai alat yang tidak membahayakan.
"Dikatakan benda lembut. Selang, kabel, itu disebut lembut? Anak saya meninggal," tegasnya.
Ia menilai proses pembelaan terhadap para terdakwa tidak mencerminkan rasa keadilan bagi korban dan keluarga.
Pelda Cristian Namo menyatakan akan terus memperjuangkan kasus ini agar terbuka ke publik dan diketahui secara luas.
"Saya akan naikkan ini, biar dunia tahu. Kematian almarhum Prada Luki tidak jelas," kata dia.
Lebih lanjut, Pelda Kristian menyatakan apabila keadilan tidak ditegakkan dan penyebab kematian anaknya tetap dianggap tidak terang, pihak keluarga akan meminta dilakukan otopsi ulang, bahkan membuka kemungkinan otopsi dilakukan di luar negeri.
"Kalau tidak ada keadilan, saya minta otopsi ulang. Saya minta tolong dunia, bantu saya. Ini masalah kemanusiaan," ucapnya.
Ia menegaskan perjuangannya bukan semata-mata untuk keluarga, tetapi agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di institusi mana pun.
"Mereka jangan mempermainkan nyawa manusia. Anak saya sudah meninggal, dan saya akan kejar terus," katanya.
Reporter Magang: Ahmad Subayu