Dengan Suara Bergetar, Ayah Prada Lucky Minta Maaf ke TNI dan Prabowo
Ia menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun niat untuk mencemarkan atau merendahkan institusi TNI.
Dengan suara bergetar Sersan Mayor (Serma) Kristian Namo, ayah almarhum Prada Lucky Chepril Saputra Namo menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada TNI dan masyarakat yang sempat menimbulkan kegaduhan di media sosial.
Klarifikasi ini terlihat dalam video akun Tik Tok @viktorlerik, ia mengaku bahwa saat itu sedang emosional pasca meninggalnya anak kesangan keluarga.
Diketahui, Prada Lucky Chepril Saputra Namo, seorang prajurit TNI AD berusia 23 tahun yang bertugas di Batalyon TP 834 Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, telah meninggal dunia pada hari Rabu, (6/8). Kematian Prada Lucky diduga disebabkan oleh penganiayaan yang dilakukan oleh seniornya.
"Dengan penuh ketulusan dan rasa hormat, saya mewakili keluarga memohon maaf kepada pimpinan TNI dan seluruh jajaran, serta kepada masyarakat Indonesia. Ucapan saya sebelumnya lahir di tengah guncangan batin dan duka mendalam yang saya alami," ujar Serma Kristian, seperti dikutip dari akun Tik Tok @viktorlerik, Rabu (13/8).
Ia menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun niat untuk mencemarkan atau merendahkan institusi TNI.
"Justru saya berharap kita semua tetap bersatu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," ujarnya.
Terkait meninggalnya putra tercinta, Serma Kristian menyatakan telah mengikhlaskan dan menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum. Ia berharap agar semua pihak yang terlibat dapat diproses secara adil dan tegas sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, karena sempat menyebut namanya saat dalam kondisi emosional.
"Saya mohon maaf kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, karena mengucapkan nama bapak disaat hati saya terguncang," kata dia.
"Saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak Pangdam IX/Udayana, Bapak Danrem, Bapak Dandim, serta seluruh rekan, sahabat, dan masyarakat yang telah memberikan doa, perhatian, dan dukungan moral kepada kami di tengah duka ini," kata dia.
Sebelumnya, mengetahui anaknya tewas usai dianiaya seniornya, Sersan Kristian Namo, ayah kandung Lucky Cepril meluapkan amarahnya dengan meminta agar kasus tersebut diusut tuntas. Bahkan, dia juga meminta serta mendesak seluruh pelaku diberi hukuman mati agar tidak ada lagi korban yang sama seperti anaknya.
"Saya tuntut keadilan, kalau bisa semua dihukum mati biar tidak ada Lucky-Lucky yang lain, anak tentara aja dibunuh apalagi yang lain," kata Kristian di kamar jenazah Rumah Sakit Wirasakti, Kupang, NTT.
"Hukuman cuma dua buat (pelaku), hukuman mati dan pecat (bagi para pelaku) tidak ada di bawah itu," kata dia.