Ayah dari almarhum Prada Lucky, Sersan Mayor (Serma) Christian Namo, menyampaikan permohonan maaf kepada TNI terkait pernyataannya yang viral dan disalahartikan di media sosial. Ia menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menghina institusi TNI.
"Saya adalah seorang tentara, tidak mungkin saya merusak nama baik TNI," ungkap Christian saat berada di Rote Ndao, pada hari Sabtu (9/8).
Ia juga menekankan bahwa pengabdiannya selama lebih dari tiga dekade merupakan bukti kecintaannya terhadap bangsa dan korps TNI.
Christian menegaskan bahwa pernyataannya telah dipelintir sehingga menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Oleh karena itu, ia meminta maaf kepada publik dan khususnya kepada seluruh anggota TNI.
"Saya meminta maaf kepada TNI karena pernyataan saya menjadi viral dan dipelesetkan. Saya menyebut TNI karena saya sangat mencintainya, saya cinta merah putih. Indonesia akan maju berkat persatuan TNI," tegasnya.
Christian berharap agar pernyataannya dipahami secara keseluruhan dan tidak diambil sepotong-sepotong.
"Jangan pernah memelintir ucapan saya. Masa saya seorang tentara, saya akan membakar bendera dan membubarkan negara? Tidak perlu ada pelintiran," ujarnya dengan tegas.
Ia kembali menegaskan permohonan maafnya kepada TNI.
"Saya meminta maaf kepada TNI sebagai institusi, karena saya membawa nama TNI. Namun, maksud saya adalah baik. Saya mencintai TNI. Sebagai seorang tentara, tidak mungkin saya merusak tentara," tambahnya.
Advertisement
Mengenai meninggalnya putranya, Prada Lucky, Christian mengungkapkan bahwa ia telah merelakan kepergian anaknya dan menolak untuk dilakukan autopsi pada jenazah yang telah dimakamkan.
Ia merasa bahwa tidak perlu menyiksa anaknya lebih jauh dan hanya ingin mengetahui alasan di balik kematian putranya.
"Kami sudah rela dan tidak mau siksa anak saya. Saya hanya mau tahu, kenapa anak saya dibunuh. Saya tidak akan bikin keributan di masyarakat, saya tentara," ujarnya.
Christian berharap agar proses hukum yang berjalan dapat mengungkapkan penyebab kematian putranya.
Ia menegaskan, "Mau pelakunya satu, atau dua atau berapa pun, saya tidak urus. Yang saya minta, alasan apa anak saya dibunuh dan bagaimana sampai dia mati, itu saja. Bukan ayam yang bunuh dia, yang jelas manusia. Jangan masalah satu disimpang ke masalah lain," pungkasnya.
Christian ingin fokus pada pencarian kebenaran dan tidak ingin masalah ini berlarut-larut tanpa penyelesaian yang jelas.