Dalih Bos Hanania Travel ke Polisi, Harga Tiket Mahal hingga Konflik Internasional
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imannuddin membenarkan alasan itu memang muncul dari keterangan tersangka.
Ahmad Syah Farhan Rachman (ASFR), bos Hanania Group yang jadi tersangka dugaan penggelapan dana jemaah umrah, sempat berdalih soal mahalnya harga tiket pesawat.
Alasannya dikaitkan dengan perubahan jadwal penerbangan dan situasi konflik internasional.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imannuddin membenarkan alasan itu memang muncul dari keterangan tersangka.
"Memang salah satu yang disampaikan oleh tersangka adalah adanya penundaan atau perubahan dari tiket pesawat," kata Iman, Selasa (2/6).
Meski begitu, Iman mengaku tak mau terpaku pada dalih tersebut. Penyidik kini fokus membongkar ke mana aliran uang setoran jemaah Hanania Group mengalir.
Polisi mendalami apakah duit yang dikumpulkan dari para calon jemaah dipakai untuk kebutuhan pemberangkatan umrah atau justru digunakan untuk kepentingan lain.
"Kami hanya berdasarkan pada fakta hukum yang diperoleh dalam proses penyidikan," ujar Iman.
Korban Hanania diduga lebih banyak dari angka yang sudah masuk dalam laporan polisi. Menurut Iman, data awal yang diterima penyidik menunjukkan jumlah korban kemungkinan bertambah.
"Korban lebih dari apa yang sudah tertera di dalam laporan polisi," katanya.
Karena itu, Polda Metro Jaya membuka posko pengaduan. Langkah ini dilakukan untuk menampung para jemaah lain yang merasa dirugikan namun belum tercatat dalam berkas perkara.
Dalam kesempatan itu, Iman meminta masyarakat pun lebih teliti memilih biro perjalanan ibadah. Menurut Iman, banyak calon jemaah terpikat tawaran yang terlihat menguntungkan.
Biasanya, kata dia, biro perjalanan menawarkan paket murah dengan fasilitas berlimpah. Ada juga yang memakai embel-embel tokoh atau figur publik untuk menarik calon jemaah.
"Biasanya harganya lebih murah, fasilitasnya lebih banyak, atau ditawarkan perjalanan umrahnya bersama tokoh tertentu atau public figure tertentu. Ini perlu kehati-hatian," kata Iman.
Lacak Aset Hanania Travel
Disamping itu, polisi juga mulai melacak aset-aset Hanania Travel. Serta aliran dana milik Ahmad Syah Farhan Rachman (ASFR), bos Hanania Group yang jadi tersangka dugaan penggelapan dana jemaah umrah.
Langkah itu dilakukan bukan sekadar untuk memproses pidana tersangka, tapi juga membuka peluang pengembalian kerugian para korban.
"Kami tidak semata-mata hanya memenjarakan seseorang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi bagaimana memulihkan atau mengembalikan kerugian yang dialami para korban," kata Iman.
Menurut dia, penyidik akan semaksimal mungkin melakukan tracing aset dan pergerakan dana milik tersangka.
Telusuri Uang Setoran Jemaah
Penelusuran itu dilakukan untuk mengetahui ke mana uang setoran jemaah dipakai, termasuk kemungkinan adanya penggunaan dana di luar kepentingan pemberangkatan umrah.
"Kami akan berupaya tracing aset atau aliran dana dari tersangka ke pihak-pihak lain atau digunakan untuk kepentingan lain," ujarnya.
Dia berharap hasil penelusuran itu nantinya bisa membantu proses pemulihan kerugian para korban.
Bahkan, kata Iman, bila memungkinkan uang yang berhasil ditelusuri dapat dipakai membantu para jemaah menjalankan ibadah umrah yang sempat tertunda.
"Mudah-mudahan bisa digunakan untuk para korban menjalankan ibadah umrahnya sebagaimana harapan para korban," tandas dia.