Fakta Mengejutkan: 12 Siswa SMPN 9 OKU Keracunan MBG, DPRD Panggil Dinas Kesehatan!
DPRD OKU segera memanggil Dinas Kesehatan dan Pendidikan terkait insiden **keracunan MBG** yang menimpa belasan siswa SMPN 9, memicu pertanyaan serius akan pengawasan program.
Belasan siswa SMP Negeri 9 Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) mengalami insiden keracunan makanan yang serius. Peristiwa ini terjadi setelah mereka menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah.
Insiden nahas ini dilaporkan terjadi pada Selasa (23/9), dengan 12 siswa menjadi korban. Kejadian serupa juga mencuat di SD Negeri 18 OKU pada hari yang sama, menimbulkan kekhawatiran akan kualitas makanan dalam program tersebut.
Menanggapi dugaan keracunan ini, Komisi III DPRD OKU mengambil langkah tegas dengan memanggil Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan setempat. Pemanggilan ini bertujuan untuk meminta penjelasan serta pertanggungjawaban terkait pengawasan program MBG yang dinilai lalai.
DPRD OKU Soroti Serius Insiden Keracunan MBG
Komisi III DPRD Kabupaten OKU menyatakan keprihatinan mendalam atas kasus dugaan keracunan yang menimpa belasan siswa SMP Negeri 9 OKU. Anggota Komisi III, Muslimin, menegaskan bahwa pihaknya menyoroti serius insiden ini. Pengawasan terhadap Program MBG patut dipertanyakan karena kelalaian yang menyebabkan siswa jatuh sakit.
Muslimin juga mempertanyakan kinerja Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten OKU dan sikap Dinas Pendidikan Kabupaten OKU. Menurutnya, kedua pihak terkait ini tidak boleh berdiam diri ketika siswa menjadi korban akibat makanan yang mereka konsumsi. Tanggung jawab atas keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama.
Sebagai respons cepat, Komisi III akan berkoordinasi dengan Komisi I DPRD OKU untuk segera memanggil kedua dinas tersebut. Pemanggilan ini diharapkan dapat mengungkap sejauh mana tanggung jawab dan langkah konkret yang akan diambil untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Kronologi Keracunan dan Peringatan Dini yang Terabaikan
Sebanyak 12 siswa SMP Negeri 9 Kabupaten OKU mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG pada Selasa (23/9). Kepala SMPN 9 OKU, Yanti Yusipa, didampingi Pengawas MBG Sekolah, Rianti, menjelaskan bahwa sembilan siswa sudah diperbolehkan pulang, sementara tiga lainnya masih dirawat di Klinik Puskesmas Sukaraya.
Dari tiga siswa yang dirawat, dua di antaranya sempat diinfus karena mengalami muntah-muntah hebat setelah mengonsumsi menu MBG. Kondisi ini menunjukkan tingkat keparahan gejala yang dialami para siswa.
Rianti mengungkapkan bahwa pada pukul 10.00 WIB, ia sempat menerima pesan singkat melalui WhatsApp dari pengelola MBG, PT Tidar Catering. Pesan tersebut berisi permintaan agar pihak sekolah membatalkan pemberian MBG kepada siswa karena kekhawatiran adanya menu makanan, khususnya ayam goreng, yang basi. Hal ini disebabkan oleh korsleting listrik di dapur umum PT Tidar Catering. Namun, Rianti tidak sempat memenuhi permintaan tersebut karena makanan sudah terlanjur dibagikan kepada siswa.
Kasus Serupa di SD dan Tuntutan Pengawasan Lebih Ketat
Pada hari yang sama dengan insiden di SMPN 9, kasus serupa juga dilaporkan terjadi di SD Negeri 18 OKU. Wali murid SD Negeri 18 OKU, Yanti, melaporkan bahwa menu ayam goreng MBG yang disajikan kepada siswa mengeluarkan aroma busuk yang berbahaya bagi kesehatan. "Saya mendapat laporan dari anak saya kalau sebagian ayam goreng MBG yang disajikan hari ini berbau busuk," kata Yanti.
Beruntung, para guru SD Negeri 18 OKU bertindak cepat dan teliti. Mereka segera menarik kembali makanan yang disajikan sebelum sempat dikonsumsi siswa, kemudian mengembalikannya kepada pihak catering. Tindakan sigap ini berhasil mencegah terjadinya keracunan massal di sekolah tersebut.
Masyarakat dan pihak sekolah berharap agar pihak terkait segera mengambil langkah tegas terhadap pengelola dapur MBG. Tuntutan akan pengawasan yang lebih ketat dan sanksi tegas bagi pihak yang lalai menjadi prioritas. Hal ini penting untuk memastikan peristiwa serupa tidak terulang kembali di kemudian hari dan menjamin keamanan pangan anak-anak sekolah.
Sumber: AntaraNews