Ratusan siswa di Manggarai Barat, NTT Tumbang Usai Santap MBG
Setelah ratusan siswa mengalami keracunan akibat makan gratis, sejumlah sekolah di Manggarai Barat memutuskan untuk menolak program MBG.
Sebanyak 132 siswa di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur tumbang. Mereka berjatuhan usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (31/1).
Para siswa terdiri dari tingkat SD, SMP hingga SMA di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Para siswa yang mengalami keracunan tersebut mendapatkan perawatan di Puskesmas Golowelu dengan keluhan seperti mual, muntah, dan nyeri perut. "Jumlah siswa diduga keracunan MBG sebanyak 132 orang," ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Manggarai Barat, Adrianus Ojo, pada Sabtu (31/1).
Adrianus menjelaskan bahwa para pelajar yang terjangkit keracunan MBG berasal dari beberapa sekolah, termasuk SMAN 1 Kuwus (42 siswa), SMKN 1 Kuwus (9 siswa), SMPN 2 Kuwus (31 siswa), SDI Golowelu 2 (20 siswa), dan SDI Golo Bombong (30 siswa).
"Gejala mual, muntah, nyeri perut dan diare" menjadi keluhan umum yang dialami oleh siswa-siswa tersebut. Menu MBG yang mereka konsumsi terdiri dari nasi putih, tempe krispi, telur kukus sambalado, sayur taoge, sayur labu, sayur sawi hijau, dan buah semangka. Makanan tersebut disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Kuwus Barat.
Sebagian besar siswa yang keracunan telah diizinkan untuk pulang, namun masih ada dua orang yang tetap menjalani perawatan di Puskesmas Golowelu. Tim surveilans dari Dinkes Manggarai Barat telah mengambil sampel dari menu MBG yang dikonsumsi oleh siswa-siswa tersebut. "Sampel makanan masih proses uji laboratorium," jelasnya.
SPPG Ditutup
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kuwus Barat Kolang, Manggarai Barat, telah ditutup sementara waktu setelah 312 siswa mengalami keracunan akibat menu yang disajikan oleh MBG.
Adrianus menjelaskan bahwa selama masa penutupan ini, Badan Gizi Nasional (BGN) akan melakukan observasi internal terhadap dapur MBG tersebut. Observasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa SPPG tersebut mematuhi semua protokol keamanan pangan yang berlaku.
"Koordinator wilayah SPPG Kabupaten Manggarai Barat telah mengeluarkan perintah untuk menghentikan sementara seluruh kegiatan produksi dan distribusi makanan dari fasilitas terkait hingga observasi internal dari pihak BGN dan seluruh protokol keamanan pangan dapat dipastikan telah dipatuhi," katanya.
Dengan langkah ini, diharapkan semua pihak dapat memastikan bahwa keamanan pangan terjaga dengan baik dan tidak ada lagi insiden yang merugikan kesehatan anak-anak. Penutupan ini merupakan tindakan preventif yang penting untuk melindungi keselamatan siswa dan memastikan bahwa makanan yang disajikan di masa mendatang aman untuk dikonsumsi.
Sekolah Tolak Program MBG
Insiden keracunan yang melibatkan ratusan siswa berujung pada penolakan terhadap program Makanan Berbasis Gizi (MBG) di beberapa sekolah. Di antaranya, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Kuwus yang terletak di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, NTT. Kepala SMPN 2 Kuwus, Agustinus Angkur, mengungkapkan bahwa penolakan pembagian MBG telah disampaikan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG Kuwus Barat Kolang.
"Kemarin kami menolak karena mengingat kondisi anak-anak yang sakit. Sebanyak 31 siswa di sekolah kami juga keracunan," katanya.
Agustinus menambahkan bahwa mulai hari ini, siswa di sekolahnya tidak akan menerima MBG. Ia juga menyampaikan bahwa SPPG Kuwus Barat Kolang telah memberikan informasi bahwa operasional mereka akan ditutup sementara, dan tidak ada kepastian mengenai kapan akan dibuka kembali.
Hal ini menunjukkan dampak serius dari insiden keracunan tersebut terhadap program gizi yang seharusnya mendukung kesehatan siswa. Dengan penutupan ini, diharapkan pihak berwenang dapat melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.