Tentara Israel Tangkap 30-50 Warga Palestina Setiap Hari di Tepi Barat, "Kami Diperlakukan Lebih Rendah dari Budak"
Kekejaman Israel berlanjut di Tepi Barat setelah gencatan senjata di Gaza.
Sejak pasukan penjajah Israel angkat dari Jalur Gaza setelah perjanjian gencatan senjata berlaku pada Minggu (19/1), kekejaman mereka tidak berhenti sampai di situ. Israel menyerbu kota Jenin di Tepi Barat dan juga menangkap ratusan warga Palestina di wilayah tersebut.
Kendati Israel membebaskan ratusan warga Palestina yang ditawan sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata dengan Hamas, mereka menangkap lebih banyak warga Palestina di Tepi Barat.
Pada 16 Januari, tiga hari sebelum gencatan senjata di Gaza, tentara Israel menyerbu salah satu rumah warga Palestina di Betlehem, Ghassan Alyeean dan menculik putra Alyeean yang berusia 22 tahun, Adam. Ketika diculik, Adam sedang mempersiapkan ujian di kampusnya dalam beberapa hari yang akan datang.
"Mereka menculiknya tanpa alasan," tutur Alyeean (60 ) kepada Al Jazeera melalui telepon.
"Situasi yang sedang kami hadapi sangat sulit saat ini. Kami diperlakukan seperti budak... atau bahkan lebih rendah dari budak," tutur Alyeean, dikutip dari Al Jazeera, Senin (27/1).
Menurut Jenna Abu Hasna, peneliti Addameer (organisasi masyarakat sipil Palestina yang memantau penangkapan dan penahanan di wilayah pendudukan), Israel telah menangkap sedikitnya 95 warga Palestina di Tepi Barat dalam penyerbuan dan di pos pemeriksaan tanpa alasan yang jelas sejak pengumuman gencatan senjata di Gaza.
“Taktik menangkap warga Palestina, bahkan saat terjadi perjanjian atau saat terjadi pertukaran tahanan bukanlah hal baru,” kata Hasna kepada Al Jazeera.
“Penjajah (Israel) terus menahan warga Palestina pada hari yang sama ketika para tahanan dibebaskan dan terkadang beberapa hari atau tahun setelahnya karena itulah yang dilakukan oleh penjajah: Itu melanggar hukum internasional,” tambahnya.
Tangkap Sampai 50 Orang Per Hari
Mohamed Amro, ayah tujuh anak berusia 55 tahun yang tinggal di Hebron, mengatakan dia akhirnya bertemu kembali dengan putrinya yang berusia 23 tahun, Janin, yang diculik di tengah malam dari rumah keluarganya selama serangan Israel pada 3 Desember 2023.
Amro masih mengingat kejadian pada malam yang mengerikan itu, yang telah menjadi pengalaman umum bagi banyak warga Palestina yang hidup di bawah penjajahan Israel di Tepi Barat.
“Tentara penjajah mendobrak pintu dan menyerbu masuk lalu menculiknya (Janin) dari tempat tidurnya,” kata Amro kepada Al Jazeera.
Amro mengatakan putrinya tidak tahu dakwaan terhadapnya dan selama ditahan, Janin diperlakukan dengan tidak manusiawi.
“Sejak dia diculik sampai dibebaskan, Janin tidur dan terbangun di lantai yang dingin setiap malam. Kamarnya juga sangat dingin… dan dia selalu ketakutan,” katanya.
Ketika Janin dibebaskan pada 20 Januari dini hari, kondisinya sangat kurus dan matanya dilingkari garis hitam karena kurang tidur.
"Dia trauma," kata Amro.
"Dia tidak bisa menjelaskan sepenuhnya bagaimana mereka memperlakukannya di dalam penjara," tambahnya.
Keesokan harinya, tentara Israel menggedor pintu rumah Amro dan memperingatkan jangan merayakan kebebasan putrinya, jika tidak menaati peringatan tersebut, maka putrinya akan ditangkap kembali. Amro berjanji mematuhi perintah tersebut tapi tetap saja takut tentara Israel akan kembali menangkap Janin atau anaknya yang lain.
Salah satu bagian dari hidup di bawah pendudukan, jelasnya, adalah menyadari bahwa orang yang Anda cintai dapat ditangkap kapan saja tanpa alasan yang jelas.
“Ada banyak ketakutan saat ini karena memanasnya situasi di Tepi Barat,” katanya sambil pasrah.
“Setiap hari, (tentara) penjajah menangkap 30 hingga 40 atau bahkan 50 tahanan baru.”