Squid Game Dunia Nyata, Tentara Israel Akui Diperintah Tembaki Warga Gaza yang Kelaparan
Dalam laporan investigasi Haaretz, sejumlah tentara Isral mengakui mereka membantai warga Gaza yang kelaparan dengan sengaja tanpa alasan.
Sebuah laporan investigasi dari surat kabar Israel Haaretz mengungkap pola perilaku militer Israel di Gaza yang sangat keji, di mana para tentara dan perwira mengaku sengaja menembaki warga sipil Palestina yang berkumpul di pusat distribusi makanan.
Laporan ini, berdasarkan wawancara langsung dengan beberapa personel militer Israel, merinci bagaimana peluru tajam, mortir, peluncur granat, dan tank secara rutin digunakan terhadap kerumunan warga Gaza tak bersenjata yang mencari bantuan kemanusiaan—seorang tentara menyebutnya sebagai “medan pembantaian.”
Sejak didirikannya pusat distribusi Gaza Humanitarian Foundation (GHF) pada akhir Mei, 549 warga Palestina tewas dan lebih dari 4.000 terluka di dekat lokasi ini, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Banyak kematian dilaporkan akibat tembakan langsung tentara Israel.
Tidak ada tembakan balasan
Seorang tentara yang ditempatkan di Gaza mengatakan kepada Haaretz: “Di tempat saya bertugas, satu hingga lima orang tewas setiap hari. Mereka diperlakukan seperti pasukan musuh—tanpa tindakan pengendalian massa, tanpa gas air mata, hanya tembakan langsung dengan segala cara: senapan mesin berat, peluncur granat, mortir.”
“Tidak ada musuh, tidak ada senjata… Saya tidak tahu satu pun kasus di mana ada tembakan balasan.”
Menurut kesaksian, tentara diperintahkan untuk menembaki warga Palestina yang mendekati lokasi distribusi bantuan, baik sebelum tempat itu dibuka maupun setelah ditutup, meskipun tidak ada ancaman.
“Kami membuka tembakan pagi-pagi sekali jika seseorang mencoba antre dari jarak beberapa ratus meter,” kata tentara tersebut. “Kadang kami langsung menyerbu mereka dari jarak dekat.”
‘Operasi Ikan Asin’
Praktik ini dilaporkan telah dinormalisasi di kalangan militer. Para tentara menyebut pola tembak dan gencatan senjata di sekitar pusat distribusi sebagai “Operasi Ikan Asin,” merujuk pada versi Israel dari permainan anak-anak “Lampu Merah, Lampu Hijau”, mirip seperti serial Squid Game di Netflix.
GHF, entitas yang bertanggung jawab atas pusat distribusi makanan, didirikan dengan koordinasi antara Israel, kelompok evangelis AS, dan kontraktor swasta. GHF mengoperasikan empat pusat di Gaza, mendistribusikan makanan hanya selama satu jam setiap pagi, sering kali di tengah kekacauan. Meski disebut sebagai operasi kemanusiaan, zona-zona ini telah menjadi jebakan maut bagi banyak warga Gaza.
Menurut Haaretz, setidaknya 19 insiden penembakan telah didokumentasikan di sekitar pusat-pusat ini. Militer Israel dilaporkan melepaskan tembakan peringatan—atau amunisi langsung—untuk mencegah warga Palestina antre terlalu dini atau mendekat dari arah yang salah.
Perwira dan Tentara Berbicara
Seorang reservis menggambarkan situasi: “Gaza tidak lagi dipedulikan siapa pun. Ini menjadi tempat dengan aturan sendiri. Kehilangan nyawa manusia tidak berarti apa-apa. Ini bukan lagi ‘insiden yang disesalkan,’ seperti yang dulu mereka katakan.”
Meskipun militer Israel kerap menyatakan bahwa operasi mereka menargetkan militan, kesaksian para tentara bertentangan dengan narasi ini.
Seorang perwira yang bertugas mengamankan salah satu zona bantuan mengatakan kepada Haaretz:
“Bekerja dengan penduduk sipil ketika satu-satunya cara interaksi adalah melepaskan tembakan—itu sangat bermasalah.”
Perwira lain menggambarkan bagaimana unit militer Israel menembakkan mortir dan senapan mesin untuk “memberi sinyal” agar warga sipil tidak mendekat: “Pada malam hari, kami melepaskan tembakan untuk menandakan bahwa ini adalah zona tempur dan mereka tidak boleh mendekat.”
Main hakim sendiri
Dalam satu kasus, sebuah peluru yang ditembakkan di dekat garis pantai mengenai kerumunan warga sipil.
“Secara teknis, itu seharusnya tembakan peringatan,” jelas seorang tentara. “Tapi akhir-akhir ini, menembakkan peluru telah menjadi praktik standar. Setiap kali kami menembak, ada korban luka dan kematian.”
“Jika itu dimaksudkan sebagai tembakan peringatan, dan kami melihat mereka berlari kembali ke Gaza, mengapa menembak mereka? Kadang kami diberitahu mereka masih bersembunyi dan kami harus menembak ke arah mereka karena mereka belum pergi. Tapi jelas mereka tidak bisa pergi jika begitu mereka bangun dan lari, kami melepaskan tembakan.”
Perwira itu menambahkan, “Kamu tahu itu salah. Kamu merasa itu salah—bahwa komandan di sini main hakim sendiri. Tapi Gaza adalah alam semesta paralel. Kamu cepat melupakannya.”
Komandan Tinggi Terkait dengan Serangan
Nama yang berulang kali muncul dalam kesaksian adalah Brigadir Jenderal Yehuda Vach, komandan Divisi 252. Menurut beberapa tentara dan perwira, Vach secara pribadi memerintahkan pembubaran warga Palestina di dekat truk bantuan PBB dengan tembakan langsung.
“Ini kebijakan Vach,” kata seorang perwira. “Tapi banyak komandan dan tentara menerimanya tanpa pertanyaan. (Warga Palestina) tidak seharusnya ada di sana, jadi idenya adalah memastikan mereka pergi, meskipun mereka hanya mencari makanan.”
Salah satu insiden terbaru yang disebutkan dalam laporan melibatkan tentara yang menembaki warga sipil yang berkumpul di sebuah persimpangan menunggu truk bantuan. Perintah dari komandan lokal menyebabkan kematian delapan orang, termasuk remaja.
“Itu sia-sia—mereka hanya dibunuh, tanpa alasan,” kata seorang perwira cadangan senior. “Hal yang disebut membunuh orang tak bersalah—itu telah dinormalisasi.”
Dehumanisasi Sistematis
Haaretz juga mengungkap peran kontraktor swasta dalam memperburuk kekerasan. Menurut seorang tentara, kontraktor yang menghancurkan rumah di Gaza dibayar 5.000 shekel (sekitar $1.500) per bangunan dan dikawal oleh pasukan Israel. Kedekatan mereka dengan titik distribusi makanan sering kali memicu baku tembak—terkadang menyebabkan kematian warga sipil.
“Ini adalah area di mana warga Palestina diizinkan berada—kami yang mendekat dan memutuskan mereka membahayakan kami,” kata tentara itu. “Jadi, demi kontraktor mendapat 5.000 shekel lagi… dianggap wajar untuk membunuh orang yang hanya mencari makanan.”
Gambaran keseluruhan dari kesaksian ini menunjukkan dehumanisasi sistematis. “Kami terus diberitahu bahwa tidak ada non-kombatan di Gaza,” kenang seorang tentara. “Pesan itu tampaknya telah meresap di antara pasukan.”
Jumlah kematian di dekat pusat bantuan melonjak dalam beberapa pekan terakhir—57 pada 11 Juni, 59 pada 17 Juni, dan sekitar 50 pada 24 Juni, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Meskipun jumlah kematian meningkat, sedikit sekali investigasi internal yang dilakukan. Komando Selatan militer Israel, di bawah Mayor Jenderal Yaron Finkelman, hanya melakukan tinjauan awal dan tidak mendisiplinkan perwira yang terlibat dalam kematian warga sipil.
Menurut sumber militer, “Aspek moral hampir tidak ada. Tidak ada yang berhenti untuk bertanya mengapa puluhan warga sipil yang mencari makanan dibunuh setiap hari.”
Sebagai tanggapan atas laporan tersebut, militer Israel mengklaim: “Hamas adalah organisasi teroris brutal yang membuat penduduk Gaza kelaparan dan membahayakan mereka untuk mempertahankan kekuasaannya… Militer Israel mengizinkan organisasi masyarakat sipil Amerika (GHF) untuk beroperasi secara independen dan mendistribusikan bantuan kepada penduduk Gaza.”
Namun, kesaksian yang dibagikan kepada Haaretz menunjukkan bahwa masalahnya bukan logistik atau prosedural, melainkan sistematis dan disengaja.