Tentara Israel Ternyata Diperintahkan Tembak Mati Warga Gaza yang Antre Bantuan Makanan
Tentara Israel ternyata diperintahkan tembak mati warga Gaza yang antre bantuan. Berikut informasi selengkapnya.
Hanya dalam waktu satu bulan, 600 warga Palestina tewas dan 4.200 lainnya terluka akibat tembakan militer Israel di dekat lokasi distribusi bantuan GHF, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza.
Mirisnya, jumlah kematian terus meningkat hampir setiap harinya. Parahnya, warga Palestina di Gaza yang berusaha mencari bantuan ke titik distribusi bantuan GHF yang dikelola AS dan Israel justru diberondong tembakan oleh tentara Israel.
Sungguh ironis, lokasi distribusi bantuan GHF itu justru menjadi jebakan kematian buat warga Palestina di Gaza yang kelaparan. Lantas bagaimana informasi selengkapnya?
Melansir dari Al Jazeera, Kamis (3/7), simak ulasan informasinya berikut ini.
Yayasan Kemanusiaan Gaza Jadi 'Ring' Kematian
Organisasi Hak Asasi Manusia dan pejabat PBB telah mengkritik model Gaza Humanitarian Foundation (Yayasan Kemanusiaan Gaza) sebagai model militer, berbahaya, dan melanggar hukum.
Bagaimana tidak, ratusan warga Palestina di Gaza tewas di lokasi yang seharusnya aman tersebut. Bukan hanya tewas, ribuan warga Gaza juga terluka akibat tembakan dari militer Israel.
Meskipun ratusan orang telah dibunuh oleh pasukan Israel, warga Palestina masih berbondong-bondong ke lokasi bantuan Yayasan Kemanusiaan Gaza. Tentu saja hal itu dilakukan demi bisa mendapatkan bahan-bahan makanan untuk bertahan hidup.
Tewas Saat Antre Makanan
Seorang ayah bernama Asmahan Shaat ambruk ke tanah dengan diliputi kesedihan saat melihat tubuh putranya Ahmed yang penuh luka tembak tergeletak di halaman Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan.
Ahmed rupanya menjadi salah satu korban tewas akibat serangan militer Israel. Ia telah meninggalkan tempat penampungan keluarga yang mengungsi di al-Mawasi sebelum fajar pada hari Kamis untuk mengambil makanan. Sayangnya, Ia tidak pernah kembali.
Sepupunya, Mazen Shaat, yang saat itu turut bersamanya mengatakan bahwa Ahmed tertembak di bagian perut. Di mana ketika itu, pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah kerumunan di dekat pusat distribusi bantuan Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung Amerika Serikat dan Israel di Rafah.
'Kami Menginginkanmu, Bukan Makanan'
Di dalam kamar mayat di Rumah Sakit Nasser, tidak jauh dari tempat Ahmed terbaring, Shireen yang berusia 25 tahun menjatuhkan diri ke tubuh suaminya, Khalil al-Khatib, 29 tahun.
Ia hampir tidak mampu berdiri sambil menangis tersedu-sedu. "Khalil, bangun. Putramu Ubaida sedang menunggumu. Tadi pagi aku sudah bilang padanya, ‘Ayah akan segera kembali.’ Kami tidak mau makanan, kami mau kamu," tangisnya.
Khalil juga telah meninggalkan al-Mawasi untuk mencari bantuan. Ayah mertuanya, Youssef al-Rumailat, mengatakan Khalil berhati-hati untuk menghindari tank-tank Israel dan tidak pernah menduga akan menjadi sasaran.
"Dia pria yang lembut. Dia takut akan keselamatannya di tempat yang semuanya telah menjadi mematikan, jadi dia tidak dapat menyediakan apa pun untuk anak-anaknya," ujar Youssef.
"Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang pria daripada tidak mampu menafkahi keluarganya. Tempat-tempat ini sekarang menjadi perangkap kematian. Ini bukan bantuan. Ini pemusnahan," lanjutnya.
"Kami tidak menginginkan bantuan yang berlumuran darah ini. Mari kita kembali ke sistem PBB. Setidaknya kami tidak terbunuh saat mencoba makan," tekannya.
Tentara Israel Ternyata Diperintahkan Tembak Mati Warga Gaza
Tentara Israel mengatakan bahwa mereka telah diperintahkan untuk menembak ke arah kerumunan yang tidak bersenjata. Bahkan ketika tidak ada ancaman.
Hal itu diungkapkan oleh tentara Israel dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh surat kabar Israel Haaretz pada hari Jumat.
Namun di sisi lain, Israel juga mengklaim mereka memfasilitasi pengiriman bantuan dan hanya menargetkan ancaman yang dirasakan. Di mana pernyataan tersebut dengan laporan yang diterima sangat jauh berbeda.
Duta Besar Israel untuk Inggris Tzipi Hotovely juga sempat mengatakan hal yang sama. Hotovely malah tetap ngotot negaranya tidak pernah membunuh warga sipil. Parahnya, Hotovely justru memfitnah Hamas. Ia mengatakan bahwa Hamas lah yang membunuh warga sipil di Gaza Palestina.
"Kami tidak menembaki warga sipil, kami memastikan. Andrew, sekali lagi, Israel tidak pernah menargetkan anak-anak, warga sipil apa pun. Apa yang terjadi, Hamas adalah pihak yang menembaki orang-orang dan mencegahnya mendapatkan makanan, karena Hamas kehilangan kendali atas sistem bantuan," ujar Hotovely tak punya malu.
Kejahatan Perang
Menurut para ahli hukum internasional dan pengawas hak asasi manusia, serangan sistematis terhadap warga sipil di lokasi bantuan dapat dianggap sebagai kejahatan perang.
Berdasarkan hukum humaniter internasional, pihak-pihak yang berkonflik harus memastikan perlindungan warga sipil dan pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
"Serangan yang disengaja terhadap warga sipil dan objek sipil, termasuk pekerja bantuan dan titik distribusi, dilarang keras," kata Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB dalam sebuah pernyataan pada bulan Juni.