Israel Bunuh 870 Warga Gaza Selama Perang 12 Hari dengan Iran
Lebih dari 400 warga Gaza tewas di pusat distribusi bantuan bikinan AS dan Israel.
Saat perhatian dunia terfokus pada perang Israel-Iran, kekejaman Israel di Gaza terus berlanjut selama konflik 12 hari tersebut.
Menurut Otoritas Kesehatan Gaza, sedikitnya 870 warga Palestina tewas diserang oleh pasukan Israel selama konflik Israel-Iran.
Dilansir Aljazeera, Rabu (25/6) lebih dari 400 warga Gaza tewas di pusat distribusi bantuan bentukan Amerika Serikat dan Israel, yakni Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Operasi yang mereka lakukan meningkatkan angka kematian para pencari bantuan kemanusiaan.
Kemarin, tentara Israel dan pesawat nirawak yang mereka gunakan menewaskan 86 warga Palestina sejak subuh, 56 di antaranya tewas di dekat pusat distribusi GHF.
Jumlah korban tewas akibat genosida Israel meningkat menjadi lebih dari 56.000 orang dan 131.848 orang luka-luka sejak 7 Oktober 2023.
Perangkap maut
Kepala Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyebut lokasi distribusi bantuan GHF sebagai “perangkap maut.”
Sumber-sumber medis melaporkan bahwa sedikitnya 25 orang tewas dalam sebuah insiden di Jalan Salah al-Din di sebelah selatan Wadi di Gaza bagian tengah. Lebih dari 140 orang lainnya terluka dan 62 di antaranya dalam kondisi kritis
Rekaman yang diunggah di situs media sosial Instagram, dan diverifikasi oleh kantor berita Sanad Aljazeera, menunjukkan jenazah dibawa ke Rumah Sakit al-Awda di kamp pengungsi Nuseirat di dekatnya.
Pembantaian
Pemandangan serupa juga dilaporkan dari kompleks Medis Nasser di selatan Khan Younis, menyusul laporan yang belum diverifikasi bahwa tentara Israel telah menargetkan orang-orang yang menunggu bantuan di Jalan al-Tina.
Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan dalam jumpa pers bahwa jumlah kematian warga Palestina di lokasi itu menunjukkan “kengerian yang terjadi di Gaza.”
“Orang-orang terbunuh hanya karena mencoba mendapatkan makanan lantaran sistem distribusi kemanusiaan yang dimiliterisasi tidak memenuhi prasyarat untuk sistem kemanusiaan yang berfungsi, adil, independen, dan tidak memihak,” kata Dujarric.
“Sudah saatnya para pemimpin di kedua belah pihak menemukan keberanian politik untuk menghentikan pembantaian ini.” tambahnya.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey