Gwyneth Paltrow Dihujat Setelah Promosikan Properti Mewah di Israel
Proyek yang dipromosikan oleh Paltrow terletak di kota yang dibangun di atas tanah yang sebelumnya merupakan desa di Palestina.
Gwyneth Paltrow tengah menghadapi kritik tajam setelah ia menjadi bintang iklan untuk proyek hunian mewah 51 Park yang terletak di Herzliya, Israel. Aktris yang juga seorang pengusaha di bidang gaya hidup dan kesehatan ini muncul sebagai wajah promosi untuk proyek yang dikembangkan oleh grup real estat Israel, Aviv Melisron. Kampanye iklan tersebut dikerjakan oleh agensi kreatif Israel, Why Worry, dan difilmkan di New York, menurut laporan dari Middle East Eye.
Alana Hadid, kakak tiri dari supermodel Gigi dan Bella Hadid, menyatakan, "Tingkat kapitalisme yang tidak waras ini sungguh mengejutkan. Brutal. Sadar tidak sih? Apakah kamu pernah membuka koran atau menonton berita? Ini bahkan bukan lagi sekadar tidak peka, ini sudah ikut terlibat." Huda Kattan, seorang pengusaha kecantikan dan miliarder keturunan Irak-Amerika, juga mengekspresikan kritiknya terhadap Paltrow dengan mengatakan, "Dia tahu persis apa yang sedang terjadi di sana! Video ini sangat menjijikkan! Sungguh memalukan bagi dirinya."
Dalam iklan tersebut, Paltrow mempromosikan 51 Park sebagai proyek hunian mewah dengan gaya hidup aspiratif, yang dibandingkan dengan hunian premium di kawasan taman Kota New York sebelum mengungkapkan lokasinya yang berada di Herzliya.
Banyak yang menilai bahwa promosi proyek properti mewah ini sangat tidak sensitif, terutama karena muncul di tengah perang yang sedang berlangsung di Gaza. Perang ini telah diakui oleh berbagai kelompok hak asasi manusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan sejumlah negara sebagai genosida. Pengguna media sosial pun menuduh Paltrow berkontribusi dalam mencuci citra kolonialisme pemukim Israel dengan mengaitkan namanya pada proyek tersebut saat warga Palestina menghadapi pembunuhan, kelaparan, dan pengungsian paksa.
Desa Palestina
Kritik juga menyasar lokasi proyek tersebut, Herzliya, yang didirikan pada tahun 1924 oleh pemukim Zionis di atas lahan desa Palestina al-Haram. Desa ini merupakan bagian dari Palestina pada masa Kekaisaran Ottoman dan penduduknya diusir secara paksa pada tahun 1948 dalam peristiwa Nakba. Herzliya sendiri dinamai berdasarkan Theodor Herzl, yang dikenal sebagai pendiri Zionisme politik modern. Beberapa pihak juga mengaitkan kontroversi ini dengan sikap publik Paltrow terkait konflik Israel-Palestina, terutama setelah ia menyatakan dukungannya kepada warga Israel setelah ditemukannya jenazah enam sandera pada September 2024.
Meski Paltrow terlihat menunjukkan kepedulian terhadap warga Israel, para kritikus menilai ia tidak memberikan perhatian yang sama terhadap korban Palestina. Mereka merujuk pada laporan lembaga pemantau internasional mengenai dugaan penyiksaan serta kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina di penjara-penjara Israel. Paltrow diketahui pernah menyampaikan dukungan bagi para sandera Israel dan berbicara mengenai dugaan kekerasan seksual oleh Hamas pada 7 Oktober 2023.
Namun, investigasi oleh Middle East Eye dan Al Jazeera tidak menemukan bukti yang mendukung klaim pemerkosaan sistematis atau massal. Kontroversi ini kembali memicu kritik terhadap figur publik yang tetap bekerja sama dengan perusahaan atau institusi Israel di tengah perang Gaza, di mana lebih dari 72.900 warga Palestina dilaporkan tewas sejak konflik dimulai pada Oktober 2023.