Keji dan Bengis, Menteri-Menteri Israel Serukan Pemboman Lebanon dan Penangkapan Perempuan-Anak-Anak
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menyerukan perubahan strategi terhadap Hizbullah dengan mengambil langkah yang lebih ofensif.
Sejumlah menteri Israel meningkatkan retorika terhadap Lebanon di tengah memanasnya ketegangan kawasan. Dalam rapat Kabinet Keamanan Israel, beberapa pejabat menyerukan langkah yang lebih agresif, mulai dari pemboman Beirut, pendudukan wilayah Lebanon, hingga tindakan keras terhadap keluarga anggota Hizbullah.
Pernyataan-pernyataan tersebut muncul menangapi serangan balasan pesawat tanpa awak atau drone yang dilancarkan Hizbullah ke pasukan Israel, sebagaimana dilaporkan kantor berita Anadolu Agency.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menyerukan perubahan strategi terhadap Hizbullah dengan mengambil langkah yang lebih ofensif.
“Kita harus berpikir di luar kebiasaan terkait Hizbullah, dan kita juga harus mempertimbangkan untuk menduduki wilayah dan membunuh banyak teroris,” kata Ben-Gvir dalam rapat Kabinet Keamanan Israel pada Senin malam, seperti dikutip surat kabar Maariv.
Ben-Gvir juga menyerukan tindakan terhadap keluarga anggota Hizbullah, "penangkapan perempuan dan anak-anak mereka," dengan mengatakan, "Inilah yang paling menyakiti mereka."
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menuduh Hizbullah berupaya menyeret Israel ke dalam apa yang disebutnya sebagai “perang gesekan”.
Konflik di Perbatasan Terus Memanas
Ketegangan antara Israel dan Hizbullah terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Tentara Israel diketahui melancarkan serangan udara mematikan ke berbagai wilayah di Lebanon sejak terjadinya serangan lintas perbatasan Hizbullah pada 2 Maret.
Menurut laporan yang dikutip Anadolu Agency, serangan zionis telah menewaskan lebih dari 3.600 orang, melukai lebih dari 11.100 lainnya, dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi.
Eskalasi konflik di Lebanon juga berdampak pada meningkatnya ketegangan regional. Serangan Israel yang terus berlanjut disebut turut memicu aksi saling serang antara Iran dan Israel pada Senin.
Di tengah situasi tersebut, Teheran menyatakan akan memberikan respons yang "menghancurkan" jika serangan Israel terhadap Lebanon terus berlanjut. Di sisi lain, Tel Aviv menegaskan akan tetap melanjutkan operasinya di negara tersebut.
Menteri Israel Minta Serangan Diperluas
Dalam rapat kabinet yang sama, Menteri Pembangunan Wilayah Pinggiran, Negev, dan Galilea, Yitzhak Wasserlauf, menilai Israel membutuhkan kekuatan militer yang lebih besar untuk menghadapi situasi saat ini.
“Israel membutuhkan banyak senjata,” katanya.
Sementara itu, Menteri Urusan Pemukiman Israel, Orit Strock, secara terbuka menyerukan pendudukan wilayah Lebanon sebagai bagian dari respons terhadap ancaman Hizbullah.
Seruan Pemboman Beirut
Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miki Zohar, juga meminta peningkatan serangan udara ke kawasan Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.
“Saya yakin Iran memahami bahwa terlibat konfrontasi langsung dengan Israel bukanlah hal yang bijaksana,” kata Zohar kepada radio lokal Israel 103 FM.
“Lain kali Hizbullah menembaki kota-kota Israel, kami akan segera menyerang Dahiyeh, dan Iran akan mencoba lagi, jadi biarkan mereka mencoba,” kata Zohar.
Ia juga mengutip pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait sikap negaranya terhadap Iran.
“(Perdana Menteri Benjamin) Netanyahu menegaskan bahwa jika Iran mencoba membahayakan kita, kita akan menghancurkannya sepenuhnya,” tambahnya.
“Kami terus membentuk Timur Tengah sebagaimana seharusnya,” kata Zohar.
Israel Ancam Merespons dengan Kekuatan Besar
Dalam rapat kabinet tersebut, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa wilayah Dahiyeh di Beirut dapat mengalami nasib yang sama seperti kota-kota di wilayah utara yang menjadi sasaran operasi militer.
"Nasib Dahiyeh di Beirut adalah nasib kota-kota di utara," ujarnya.
Katz juga menegaskan penolakan Israel terhadap ancaman dari Iran.
“Kami secara tegas menolak ancaman Iran, dan setiap upaya Iran untuk menghubungkan Lebanon dengan Iran atau menyerang Israel akan ditanggapi dengan kekuatan besar, seperti yang terjadi kemarin,” kata Katz.
Saat ini, Israel masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Sebagian wilayah tersebut telah berada di bawah pendudukan selama beberapa dekade, sementara sebagian lainnya direbut dalam konflik yang berlangsung pada 2023 hingga 2024.
Dalam operasi militer terbarunya, pasukan Israel dilaporkan telah bergerak lebih dari 10 kilometer ke wilayah Lebanon, yang disebut sebagai penetrasi terdalam sejak Israel menarik pasukannya dari Lebanon selatan pada tahun 2000.