Asap tebal dan puing-puing bangunan terlihat mengepul di wilayah Abbasiyeh, pinggiran kota Tyre, Lebanon selatan, pada 8 April 2026. Serangan udara yang dilancarkan Israel kembali memperpanjang ketegangan di kawasan tersebut, meski sebelumnya diumumkan adanya gencatan senjata dengan Iran.
Di ibu kota Beirut, petugas tanggap darurat terlihat bekerja di tengah reruntuhan bangunan di kawasan Corniche al-Mazraa dan Tallet al-Khayyat. Serangkaian serangan pada hari yang sama memicu kepanikan warga dan disebut sebagai salah satu gempuran paling intens sejak konflik dengan Hizbullah dimulai.
Militer Israel menyatakan telah melakukan serangan terkoordinasi dalam skala besar di berbagai wilayah Lebanon. Operasi tersebut menargetkan lebih dari 100 lokasi yang diklaim sebagai pusat komando dan fasilitas militer Hizbullah dalam waktu singkat. Sasaran serangan meliputi pinggiran selatan Beirut, Lebanon selatan, serta Lembah Bekaa di bagian timur.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup konflik dengan Hizbullah di Lebanon. Pernyataan ini memperjelas bahwa operasi militer di Lebanon akan terus berlangsung terlepas dari kesepakatan yang dicapai dengan pihak lain.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan jumlah korban yang signifikan. Pada 8 April saja, setidaknya 112 orang dilaporkan tewas dan 837 lainnya mengalami luka-luka. Dalam pembaruan terpisah, angka korban meningkat menjadi sedikitnya 182 orang meninggal dunia dan 890 orang terluka akibat gelombang serangan tersebut
Jumlah ini menambah total korban sejak eskalasi konflik enam pekan terakhir. Sebelumnya, sekitar 1.700 orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk di antaranya anak-anak, menurut otoritas kesehatan setempat.