Blak-blakan Dirut Pertamina Ungkap Alasan Penyesuaian Harga Pertamax, Pastikan BBM Subsidi Tak Naik
Masyarakat pengguna Pertalite dan Biosolar dipastikan bisa bernapas lega, karena pemerintah tetap mempertahankan harga eceran saat ini.
Direktur Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri mengatakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dipastikan tidak mengalami kenaikan. Hal ini dikatakan untuk memberikan kepastian mengenai nasib harga BBM di tengah isu yang berkembang di masyarakat.
Masyarakat pengguna Pertalite dan Biosolar dipastikan bisa bernapas lega, karena pemerintah tetap mempertahankan harga eceran saat ini.
"Menanggapi perkembangan saat ini terkait harga BBM, perlu kami sampaikan bahwa harga BBM subsidi, yaitu Pertalite dan Biosolar, tidak mengalami perubahan," kata Aloysius dalam video singkat dikutip merdeka.com, Sabtu (13/6).
Kebijakan ini diambil pemerintah dalam hal ini Pertamina demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat di seluruh penjuru tanah air.
Rincian Harga BBM Subsidi
Pertamina memastikan pasokan kedua jenis bahan bakar yang paling banyak dikonsumsi masyarakat ini tetap aman di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Adapun nominal harga jual kepada konsumen masih merujuk pada regulasi dan ketentuan yang telah lama berlaku.
"Harga Pertalite masih tetap di harga Rp10.000 per liter, dan Biosolar di harga Rp6.800 per liter, sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah," ujarnya.
Langkah ini mempertegas komitmen BUMN energi tersebut dalam memberikan perlindungan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Alasan Penyesuaian Harga Pertamax
Sementara itu, untuk jenis BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green, Pertamina memang telah melakukan pembaruan harga. Kebijakan penyesuaian harga komoditas nonsubsidi tersebut sudah mulai diberlakukan sejak pertengahan pekan ini.
"Sehubungan dengan penyesuaian harga BBM non-subsidi, yaitu Pertamax dan Pertamax Green, yang berlaku sejak tanggal 10 Juni 2026, kami memahami bahwa setiap penyesuaian harga tentu menjadi perhatian masyarakat," ucapnya.
Dinamika Global Jadi Faktor Utama
Ia menjelaskan, fluktuasi nilai tukar serta kondisi dunia luar menjadi faktor utama penentu kebijakan ini.
Pertamina membeberkan, penentuan harga baru komoditas komersial tersebut tidak terlepas dari situasi eksternal yang bergerak dinamis. Kendati mengikuti tren pasar dunia, perusahaan tetap memikirkan kondisi riil perekonomian konsumen domestik.
"Penyesuaian harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," ungkapnya.
Langkah korporasi ini diklaim sudah dihitung secara matang agar tidak membebani masyarakat secara drastis.
Fenomena Serupa di SPBU Swasta
Kebijakan menaikkan harga BBM nonsubsidi nyatanya tidak hanya terjadi pada korporasi pelat merah saja. Seluruh operator penyedia bahan bakar di Indonesia juga mengambil langkah serupa akibat tekanan dari pasar internasional.
"Penyesuaian harga BBM non-subsidi ini selain dilakukan di titik-titik SPBU Pertamina, juga dilakukan oleh SPBU Badan Usaha Swasta lainnya," jelasnya.
Komitmen Jaga Pasokan Energi Nasional
Menghadapi situasi ekonomi global yang penuh dengan ketidakpastian, Pertamina berjanji untuk terus hadir mengamankan pasokan energi nasional. Sinergi kuat bersama pihak eksekutif terus dijalin demi memastikan roda perekonomian nasional tetap berputar.
"Di tengah tantangan global yang terus berkembang, Pertamina dengan dukungan penuh dari pemerintah terus berkomitmen untuk menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia," tegasnya.
Pihak manajemen juga mengapresiasi loyalitas para konsumen yang selama ini memercayakan kebutuhan kendaraan mereka kepada Pertamina.
"Kami berterima kasih atas dukungan masyarakat selama ini dan mari kita bersama-sama bijak menggunakan energi," pungkasnya.