Tentara Ini Akui Kejahatan Militer Israel di Gaza, Gunakan Warga Palestina sebagai Tameng Manusia 6 Kali Sehari
Praktik brutal itu disebut "protokol nyamuk", yang digunakan secara meluas dan sistematis.
Tentara Israel dilaporkan menggunakan warga sipil Palestina di Gaza sebagai tameng manusia sedikitnya enam kali sehari. Hal ini diungkapkan tentara Israel yang tidak disebutkan namanya sebagaimana dilaporkan media Israel, Haaretz.
Sumber anonim tersebut, seorang perwira senior di brigade non-cadangan, mengungkapkan praktik tersebut kini semakin meluas hingga menjadi sistematis, terlembaga, dan menjadi hal yang normal di jajaran militer Israel, seperti dikutip dari Middle East Monitor, Rabu (2/4).
Praktik brutal itu disebut "protokol nyamuk", di mana warga sipil Palestina yang tidak bersenjata — sering kali pria tua atau anak laki-laki muda — dipaksa untuk memasuki rumah, terowongan, atau gedung di depan tentara Israel. Tempat yang mereka masuki biasanya berpotensi dipasangi jebakan yang diduga menjadi tempat berlindung bagi pejuang Palestina.
Sumber tersebut menggambarkan kebijakan saat ini sebagai operasi "sub-pasukan budak", di mana hampir setiap peleton kini mencakup "shawish", istilah yang digunakan untuk merujuk pada perisai atau tameng manusia yang dipaksakan ini.
Menurut tentara itu, setiap kompi memiliki beberapa "shawish", yang berarti puluhan "shawish" digunakan setiap hari di seluruh brigade. Orang-orang ini sering dipaksa untuk membakar rumah atau menghancurkan properti tanpa pelatihan tempur atau persetujuan apa pun. Sumber itu mengakui, penggunaan pesawat tanpa awak, robot, atau unit anjing — yang sebelumnya standar dan lebih aman — ditinggalkan demi kepraktisan.
"Kami memaksa warga Palestina untuk bertindak sebagai tameng manusia, bukan karena lebih aman bagi pasukan IDF (IOF/Pasukan Penjajah Israel, red), tetapi karena lebih cepat," cetusnya.
Menurut kesaksian tersebut, pejabat tinggi, termasuk mantan Kepala Staf IOF (Pasukan Penjajah Israel) dan pimpinan Komando Selatan, telah mengetahui praktik tersebut setidaknya sejak Agustus 2024, dan tidak hanya gagal menghentikannya, tetapi juga dilaporkan mendukungnya sebagai strategi operasional yang sah.
"Prosedur ini adalah kejahatan; bahkan tentara sekarang mengakuinya. Dan itu terjadi setiap hari," pungkasnya.