Sejumlah keluarga Muslim dan Kristen yang menjadi warga negara Israel dilarang memasuki bunker saat serangan Iran menghantam Tel Aviv. Orang Palestina yang menjadi warga negara Israel yang tinggal di Jaffa mengungkapkan, mereka dilarang ikut ke bunker bom bawah tanah oleh tetangga mereka.
Warga Jalan Yehuda Hayamit mengungkapkan kepada Middle East Eye, kode akses untuk masuk ke bunker telah diganti oleh tetangga mereka. Padahal sebelumnya mereka sempat menggunakan bunker tersebut ketika sirene peringatan berbunyi menandakan serangan Iran mendekat ke Tel Aviv.
Mereka mengatakan, hal ini merupakan diskriminasi dan bahaya yang mereka hadapi sebagai warga Palestina di Israel bahkan di salah satu kota campuran di negara Zionis itu, di mana sekitar sepertiga penduduknya tetap menjadi warga Palestina.
Perlakuan diskriminatif ini juga dialami Nasir Ktelat (63), seorang pria dengan masalah kesehatan yang tinggal di apartemen lantai empat di seberang jalan dari tempat penampungan. Ktelat mengatakan dia dan warga lain dari tempat tinggalnya sebelumnya telah diberi akses masuk bunker oleh seseorang di komite pembangunan mereka, dan mengatakan biasanya mereka yang tinggal di gedung-gedung tua di dekatnya berkumpul di sana ketika sirene berbunyi.
Namun ketika mereka memasuki tempat penampungan pada akhir pekan kemarin, mereka tidak diterima oleh penduduk Israel di gedung yang lebih baru di mana di bawahnya terdapat bunker.
"Jelas sekali mereka tidak senang melihat kami," kata Ktelat, dikutip dari Middle East Eye, Selasa (17/6).
"Kami sekitar 12 sampai 15 orang, Muslim dan Kristen, dari gedung terdekat. Tentu, kami merasa tidak diterima, tapi kami tidak peduli," lanjutnya.
Keesokan harinya, lanjut Ktelat, mereka kembali ke bunker dan diizinkan masuk tapi mereka tetap tidak diterima dengan baik.
"Pada akhirnya, mereka memberi tahu kami bahwa itu adalah yang terakhir kali," ujarnya.
"Mereka bilang: 'Kami telah memutuskan kami tidak ingin Anda datang, dan kami akan mengubah tata tertibnya.'"
Seorang penghuni gedung yang tampak kasihan mengatakan kepada mereka, semua penghuni setuju mereka tidak boleh diizinkan menggunakan bunker.
Jalan Yehuda Hayamit merupakan campuran antara tempat tinggal lama dan bangunan baru. Ktelat mengatakan, warga Yahudi Israel yang tinggal di bangunan lama di lingkungan itu tampaknya masih diizinkan masuk ke tempat penampungan itu.
"Jelas bahwa itu karena kami orang Arab. Ini adalah realitas kami dan bukan sesuatu yang baru bagi kami," kata Ktelat.
Advertisement
Menurut laporan Middle East Eye, ketika rudal Iran pada Sabtu jatuh ke permukiman yang sebagian besar dihuni orang Arab di Lingkungan Tamra, sekelompok orang-orang Israel merayakannya dan menyanyikan lagu anti-Arab berjudul "Semoga Desamu Terbakar", yang dinyanyikan penyanyi Israel, Kobi Peretz. Tamra terletak 25 kilometer di timur Haifa dan daerah ini tidak memiliki bunker meski dihuni lebih dari 35.000 warga.
Sementara itu, di komunitas Yahudi di dekat Tamra, Mitzpe Aviv yang jumlah penduduknya hanya 1.100 orang, ada sedikitnya 13 bunker.Aktivis Palestina yang tinggal di Jaffa, Abed Abu Shahada, mengatakan kepada Middle East Eye, penolakan warga Israel untuk mengizinkan tetangga Arab mereka berbagi bunker menunjukkan "rasisme yang mengakar" dalam masyarakat Israel.
"Jika kita terkejut dengan video yang memperlihatkan sebuah keluarga Yahudi bersukacita saat sebuah rudal menghantam Tamra di Galilea, kasus di Jaffa mengungkap lapisan lain: pengabaian total tetangga terhadap nasib mereka, dan legitimasi publik yang luas atas perilaku tersebut," kata Shahada.
Sementara itu, muncul video lain di media sosial yang menunjukkan orang-orang Israel melarang tenaga kerja asing masuk ke bunker bawah tanah. Dalam video yang dibagikan TRT World di X, orang Israel melarang sejumlah warga negara Thailand yang bekerja di Israel dan warga asing lainnya masuk ke bunker.
Seorang pria muda Israel tampak marah-marah di depan pintu bunker melarang para tenaga kerja asing yang hendak masuk ke bunker. Mereka yang dilarang masuk bunker akhirnya hanya berdiri di depan pintu.
Footage circulating online purportedly shows Israelis preventing Thai and other foreign workers from entering underground shelters pic.twitter.com/jJeqF76huG
— TRT World (@trtworld) June 16, 2025