Penyeragaman Harga Beras Didukung, HKTI Jateng Ingatkan Kesejahteraan Petani
Melalui kebijakan ini, tidak akan ada lagi perbedaan Harga Eceran Tertinggi (HET) antar daerah dari kota hingga pelosok, patokannya akan sama.
Pemerintah berencana menyeragamkan harga beras di seluruh wilayah Indonesia untuk menciptakan keadilan ekonomi.
Melalui kebijakan ini, tidak akan ada lagi perbedaan Harga Eceran Tertinggi (HET) antar daerah dari kota hingga pelosok, patokannya akan sama.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Tengah, Bambang Raya Saputra menyatakan dukungannya terhadap rencana penerapan satu harga beras di seluruh Indonesia. Adapun langkah itu dinilai sudah tepat dalam menjaga stabilitas harga beras.
"Saya mendukung rencana itu. Tapi sebagai perwakilan HKTI, saya berharap harga beras tetap tinggi agar petani mendapatkan keuntungan. Pemerintah harus mengontrol harga supaya masyarakat tidak kesulitan membeli beras,” kata Bambang Raya, Minggu (26/4).
Dia menyebut kondisi petani Indonesia khususnya Jawa Tengah terkait kesejahteraannya harus diperhatikan. Sebab, selama ini petani dihadapkan pada tingginya harga pupuk, yang berpotensi memperburuk kondisi jika tidak ada perhatian serius dari pemerintah.
"Petani harus bisa hidup layak, jangan ditekan dengan harga yang terlalu murah. Masalah utama ada pada mahalnya pupuk. Jika kondisi ini terus berlanjut, petani bisa semakin menderita dan tidak ada generasi penerus,” ungkapnya.
Maka, sebagai gapoktan, HKTI berperan sebagai jembatan antara petani dan pemerintah dalam menyampaikan berbagai aspirasi.
“Kami memiliki gapoktan dan kelompok tani yang bisa menjadi saluran aspirasi. Pemerintah harus memahami bahwa petani perlu disejahterakan. Tidak harus mewah, yang penting layak. Dengan begitu, generasi muda akan melihat bahwa menjadi petani juga bisa hidup,” jelasnya.
Petani Sejahtera, Timbulkan Minat Generasi Muda
Jika kesejahteraan petani tidak diperhatikan, maka minat generasi muda untuk melanjutkan profesi tersebut akan terus menurun.
“Kalau petani tidak sejahtera, anak-anak mereka tidak akan mau meneruskan. Ke depan, bisa saja kita kekurangan petani,” tegasnya.
Menurut Bambang, solusi yang bisa dilakukan adalah dengan membantu petani melalui subsidi pupuk dan dukungan produksi, sehingga biaya bisa ditekan dan harga jual dapat ditingkatkan.
“Petani perlu dibantu, baik dari sisi pupuk maupun biaya produksi, agar harga produksi lebih rendah dan harga jual bisa lebih baik. Kalau harga terlalu rendah, kasihan petani. Kalau petani tidak hidup layak, tidak akan ada yang mau melanjutkan,” pungkasnya.