Mengenal Operation Absolute Resolve, Operasi Senyap AS Menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Amerika Serikat telah menjelaskan detail operasi militer menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Amerika Serikat (AS) membeberkan Operation Absolute Resolve, sebuah operasi militer besar untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Penjelasan tersebut disampaikan Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, dalam konferensi pers pada Sabtu (3/1) waktu setempat.
Menurut Caine, operasi ini bukanlah tindakan yang diambil secara tiba-tiba, melainkan hasil dari perencanaan yang matang dan melibatkan koordinasi antar berbagai angkatan.
Selama berbulan-bulan, personel dari angkatan udara, darat, laut, antariksa, serta intelijen AS bekerja sama untuk mempersiapkan misi ini. Dikutip dari BBC, Minggu (4/1), jaringan intelijen AS telah mengawasi setiap langkah Maduro, termasuk kebiasaan tidurnya, makanan yang dikonsumsi, pakaian yang dikenakan, hingga aspek-aspek paling pribadi dalam kehidupannya.
Pengawasan tersebut dilakukan oleh tim kecil yang mencakup seorang sumber dari dalam pemerintahan Venezuela. Seorang pejabat militer senior bahkan menyatakan bahwa tim tersebut mengetahui detail-detail kehidupan Maduro, termasuk "hewan peliharaannya".
Pada awal Desember 2025, rencana untuk menangkap Maduro akhirnya diselesaikan dalam sebuah misi yang dinamakan Operation Absolute Resolve. Keputusan akhir untuk melaksanakan operasi ini diambil secara langsung oleh Presiden AS, Donald Trump.
Operasi ini merupakan hasil dari perencanaan dan latihan yang intensif selama berbulan-bulan. Pasukan elite Amerika Serikat bahkan membuat replika ukuran penuh rumah aman Maduro di Karakas untuk melatih jalur masuk dan skenario penangkapan.
Rencana tersebut dirahasiakan dengan ketat dan tidak dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Kongres AS. Setelah semua detail ditetapkan, para pejabat militer hanya menunggu kondisi yang paling ideal untuk melaksanakan operasi demi menjaga unsur kejutan.
Operasi ini sempat hampir dilaksanakan beberapa hari sebelumnya, tetapi tertunda karena faktor cuaca dan tutupan awan. Jenderal Dan Caine menyatakan bahwa pasukan sudah siap selama periode libur akhir tahun.
"Selama berminggu-minggu, melewati Natal dan Tahun Baru, para prajurit Amerika Serikat berada dalam kondisi siaga, dengan sabar menunggu terpenuhinya pemicu yang tepat dan perintah presiden untuk bergerak," ujar Caine.
Perintah Trump
Perintah untuk memulai operasi akhirnya dikeluarkan pada Jumat malam pukul 22.46 waktu Pantai Timur AS. Beberapa jam setelah operasi dimulai, Presiden Donald Trump mengumumkan keputusan tersebut.
"Kami sebenarnya akan melakukannya empat hari lalu, tiga hari lalu, dua hari lalu. Lalu tiba-tiba semuanya terbuka, dan kami berkata: jalan," ungkap Trump.
Jenderal Caine menambahkan bahwa sebelum operasi dimulai, Trump menyampaikan pesan langsung kepada pasukan. "Dia mengatakan kepada kami, dan kami menghargainya, 'semoga beruntung dan Tuhan menyertai'," ujar Caine.
Perintah tersebut diberikan tak lama sebelum tengah malam di Caracas, sehingga memberikan waktu yang cukup bagi pasukan AS untuk beroperasi dalam kegelapan. Setelah itu, misi gabungan yang melibatkan udara, darat, dan laut berlangsung lebih dari dua jam dan mengejutkan banyak pihak di Washington serta masyarakat internasional.
Operasi ini mendapatkan kecaman dari sejumlah negara di kawasan. Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, menyebut penangkapan tersebut sebagai "preseden yang sangat berbahaya bagi seluruh komunitas internasional".
Trump sendiri tidak memantau jalannya operasi dari ruang situasi Gedung Putih. Ia mengikuti perkembangan misi tersebut dari resor Mar-a-Lago di Florida, didampingi oleh Direktur CIA John Ratcliffe dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
"Itu sesuatu yang luar biasa untuk disaksikan," kata Trump.
"Kalau Anda melihat apa yang terjadi, saya benar-benar menontonnya seperti menonton acara televisi. Kecepatannya, kekerasannya... itu benar-benar luar biasa, pekerjaan yang sangat hebat dari orang-orang ini."
Proses Penangkapan
Dalam beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat telah mengerahkan ribuan tentara ke kawasan tersebut, termasuk kapal induk dan puluhan kapal perang. Tuduhan terhadap Maduro terkait perdagangan narkoba dan narco-terorisme menjadi alasan untuk eskalasi militer ini.
Tanda-tanda awal dari Operasi Absolute Resolve mulai terlihat di udara. Lebih dari 150 pesawat, termasuk pembom, jet tempur, dan pesawat pengintai, dikerahkan sepanjang malam operasi tersebut.
"Itu sangat kompleks, sangat kompleks, seluruh manuvernya, pendaratan, jumlah pesawat," ungkap Trump.
"Kami memiliki jet tempur untuk setiap kemungkinan situasi."
Sekitar pukul 02.00 waktu setempat, suara ledakan keras terdengar di Caracas dan asap tebal terlihat di beberapa lokasi. Jurnalis Ana Vanessa Herrero melaporkan, "Saya mendengar suara yang sangat keras, seperti ledakan besar. Semua jendela bergetar. Tak lama kemudian saya melihat awan asap besar yang hampir menutupi seluruh pandangan."
Warga lainnya, yang bernama Daniela, menambahkan, "Kami terbangun sekitar pukul 01.55 oleh suara ledakan dan dengungan pesawat yang terbang di atas Caracas. Semua tenggelam dalam kegelapan total, hanya diterangi kilatan ledakan di sekitar."
BBC Verify telah mengonfirmasi sedikitnya lima lokasi yang menjadi sasaran, termasuk Pangkalan Udara Generalissimo Francisco de Miranda, La Carlota, dan Pelabuhan La Guaira. Trump juga mengklaim bahwa listrik di Caracas dipadamkan sebelum operasi dimulai.
"Lampu-lampu Caracas sebagian besar dimatikan berkat keahlian tertentu yang kami miliki," ujarnya. "Keadaannya gelap dan mematikan."
Detik-Detik Penangkapan Maduro
Ketika serangan dimulai, pasukan darat Amerika Serikat memasuki Caracas. Unit elite Delta Force dilaporkan terlibat langsung dalam operasi tersebut, menggunakan persenjataan berat dan alat pemotong khusus untuk menembus pintu baja yang melindungi rumah aman Maduro. Pasukan tersebut tiba di lokasi sekitar pukul 02.01 waktu setempat. Trump menggambarkan kompleks itu sebagai benteng militer, menyatakan, "Mereka sudah dalam posisi siaga menunggu kami. Mereka tahu kami akan datang."
Setibanya di lokasi, kontak senjata pun terjadi, di mana satu helikopter AS dilaporkan terkena tembakan tetapi masih dapat terbang. Caine menjelaskan, "Pasukan penangkap turun ke kompleks Maduro dan bergerak dengan cepat, presisi, dan disiplin." Trump menambahkan, "Mereka langsung menerobos masuk, bahkan ke tempat-tempat yang seharusnya tidak bisa ditembus, pintu-pintu baja yang dipasang khusus untuk tujuan itu."
Dalam situasi tersebut, Maduro berupaya melarikan diri ke ruang aman. Trump menjelaskan, "Dia berusaha mencapai tempat aman, yang sebenarnya tidak aman. Dia sampai di pintu itu, tetapi tidak berhasil menutupnya. Dia disergap begitu cepat sehingga tidak sempat masuk ke ruangan tersebut." Saat ditanya apakah Maduro bisa saja tewas jika melawan, Trump menjawab, "Itu bisa saja terjadi."
Menjelang subuh, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dievakuasi dari Venezuela menggunakan helikopter dan kemudian diterbangkan ke Amerika Serikat. Setelah itu, Trump secara resmi mengumumkan penangkapan tersebut kepada publik, menyatakan, "Maduro dan istrinya akan segera menghadapi seluruh kekuatan keadilan Amerika."
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2340028/original/020996200_1535114136-Infografis_Krisis_Venezuela_di_Negeri_Minyak.jpg)