Diplomasi China Venezuela: Beijing Jaga Komunikasi di Tengah Ketegangan Regional
Di tengah penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh AS, China menegaskan komitmennya menjaga komunikasi dan memperdalam kerja sama dengan pemerintahan sementara Venezuela, menyoroti pentingnya Diplomasi China Venezuela.
Kementerian Luar Negeri China mengonfirmasi pada Jumat (9/1) bahwa Beijing terus menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan pemerintahan sementara Venezuela. Pernyataan ini muncul menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) pada 3 Januari 2025, yang memicu ketegangan di kawasan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa China sangat mementingkan hubungannya dengan Venezuela, terlepas dari perubahan politik yang mungkin terjadi. Sikap ini diperkuat dengan pertemuan antara Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez dan Duta Besar China untuk Venezuela Lan Hu pada Kamis (8/1).
Pertemuan tersebut mengindikasikan dukungan berkelanjutan China terhadap kedaulatan Venezuela, di tengah upaya AS untuk memengaruhi kebijakan luar negeri negara tersebut. Washington sebelumnya meminta Venezuela menghentikan kerja sama dengan sejumlah negara, termasuk China.
Sikap Tegas China Terhadap Venezuela
Mao Ning, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, secara eksplisit menyatakan komitmen negaranya untuk memperdalam kerja sama praktis di berbagai bidang dengan Venezuela. Pernyataan ini disampaikan pada konferensi pers di Beijing, Jumat (9/1). China bertekad untuk terus mempromosikan pembangunan bersama dengan Venezuela.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, melalui media sosialnya mengungkapkan apresiasi atas sikap konsisten China yang mengutuk keras pelanggaran hukum internasional. Pelanggaran ini merujuk pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan Cilia Flores oleh AS pada awal Januari 2025.
China juga menegaskan akan terus mendukung Venezuela dalam menegakkan kedaulatan, martabat, dan keamanan nasionalnya. Dukungan ini menjadi krusial di tengah tekanan eksternal yang dihadapi oleh negara Amerika Latin tersebut. Beijing melihat hubungan ini sebagai kemitraan strategis yang tidak akan goyah.
Kepentingan Ekonomi China di Venezuela
Hubungan bilateral antara China dan Venezuela tidak hanya sebatas diplomasi, tetapi juga memiliki fondasi ekonomi yang kuat, terutama di sektor energi. Venezuela, dengan cadangan minyak terbesar di dunia, menjadi mitra penting bagi China dalam memenuhi kebutuhan energinya.
Data menunjukkan bahwa Venezuela mengekspor 952.000 barel minyak per hari pada November 2025, sebelum blokade militer AS dimulai pada Desember 2025. Dari jumlah tersebut, 778.000 barel dikirim ke China, memberikan Beijing pangsa pasar 81,7 persen dari total ekspor minyak Venezuela.
Meskipun minyak Venezuela hanya menyumbang sekitar 4 persen dari total impor minyak China, investasi Beijing di sektor ini sangat signifikan. American Enterprise Institute melaporkan China telah menginvestasikan 2,1 miliar dolar AS untuk industri minyak Venezuela sejak 2016.
Selain itu, China National Petroleum Corporation (CNPC) dan China Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec) memegang saham konsesi minyak bernilai miliaran barel. AidData juga mencatat bahwa China telah memberikan pinjaman, utang, dan investasi modal kepada Venezuela sebesar 106 miliar dolar AS antara tahun 2000 dan 2023, dengan Venezuela saat ini memiliki utang sekitar 17-19 miliar dolar AS kepada China.
Komitmen Kerjasama Bilateral dan Tantangan Regional
Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, menegaskan kembali komitmen Caracas untuk memperdalam perjanjian ekonomi dan perdagangan dengan Republik Rakyat China. Pernyataan ini disampaikan melalui unggahan Telegram pada Kamis (8/1), menekankan kerangka hukum internasional yang mendukung hubungan kedua negara berdaulat.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya diberitakan meminta pemerintahan Venezuela untuk menghentikan kerja sama dengan negara-negara seperti Rusia, China, Iran, dan Kuba. AS juga menginginkan Venezuela bekerja sama secara eksklusif dengan Washington dalam produksi dan penjualan minyak.
Trump bahkan mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan antara 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS. Hal ini menunjukkan adanya persaingan pengaruh geopolitik yang signifikan di Venezuela, dengan China dan AS memperebutkan posisi dominan.
Meskipun ada tekanan dari AS, China tetap berpegang pada prinsip non-intervensi dan dukungan terhadap kedaulatan Venezuela. Beijing melihat hubungannya dengan Caracas sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk diversifikasi sumber daya dan memperluas pengaruh globalnya.
Sumber: AntaraNews