Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, berjanji akan melanjutkan proses pembebasan para tahanan yang ditahan selama masa pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Ia juga menggambarkan percakapan telepon pertamanya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak penculikan Maduro oleh pasukan AS sebagai pembicaraan yang berlangsung positif.
Wakil presiden di era Maduro itu mengaku melakukan percakapan panjang, produktif, dan penuh rasa hormat dengan Presiden AS Donald Trump. Dalam pembicaraan tersebut, keduanya membahas agenda bilateral yang dinilai dapat menguntungkan kedua negara.
Trump, melalui unggahan di platform Truth Social miliknya, menyebut pembicaraan itu mencakup isu minyak, mineral, perdagangan, dan keamanan nasional. Ia juga menggambarkan bagaimana “kemitraan” antara Amerika Serikat dan Venezuela akan menjadi sesuatu yang “spektakuler”.
"Saya pikir kita bergaul dengan sangat baik dengan Venezuela,” kata Trump di Gedung Putih setelah percakapan telepon panjang tersebut dilansir Aljazeera, Kamis (15/1/2026).
Advertisement
Ia menyebut Rodriguez sebagai “orang yang hebat” dan menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga telah berkomunikasi dengan presiden sementara Venezuela itu.
Pujian Trump terhadap Rodriguez muncul setelah Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Ibu Negara Cilia Flores, diculik oleh militer AS dalam serangan di Caracas pada 3 Januari lalu. Saat ini, Maduro dan Flores ditahan di sebuah penjara di Amerika Serikat.
Trump pekan lalu menyatakan bahwa gelombang kedua serangan AS terhadap Venezuela telah dibatalkan menyusul adanya “kerja sama” dari para pemimpin di Caracas. Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah pembebasan sejumlah besar tahanan sebagai tanda “upaya perdamaian” dengan Washington.
Advertisement
Sebelumnya pada Rabu, dalam konferensi pers pertamanya sejak penculikan Maduro, Rodriguez menyebut Venezuela tengah memasuki “momen politik baru” dan menegaskan bahwa proses pembebasan tahanan masih terus berlangsung.
“Kesempatan ini adalah bagi Venezuela dan bagi rakyat Venezuela untuk dapat melihat tercerminnya momen baru di mana hidup berdampingan, hidup bersama, dan pengakuan terhadap orang lain memungkinkan pembangunan dan pendirian spiritualitas baru,” kata Rodriguez dalam pidatonya.
Didampingi oleh saudara laki-lakinya yang juga Ketua Majelis Nasional, Jorge Rodriguez, serta Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello, presiden sementara Venezuela itu berjanji akan menegakkan hukum secara “ketat” dan memuji langkah Maduro yang telah memulai proses pembebasan para tahanan.
“Pesan-pesan kebencian, intoleransi, dan tindakan kekerasan tidak akan ditoleransi,” kata Rodriguez.
Janji tersebut disampaikan setelah Jorge Rodriguez mengumumkan di parlemen pada Selasa bahwa lebih dari 400 tahanan telah dibebaskan dalam beberapa waktu terakhir.
Meski pemerintah Venezuela membantah adanya tahanan politik, pembebasan mereka yang ditahan karena alasan politik telah lama menjadi tuntutan kelompok hak asasi manusia, badan internasional, serta tokoh-tokoh oposisi.
Dalam beberapa hari terakhir, kelompok hak asasi manusia juga mengkritik lambatnya proses pembebasan tahanan oleh kepemimpinan pasca-Maduro.
Sementara itu, Trump dijadwalkan bertemu dengan pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, di Gedung Putih pada Kamis. Pertemuan tersebut menjadi pertemuan tatap muka pertama mereka sejak penculikan Maduro.
Machado, peraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu, sebelumnya menawarkan untuk memberikan penghargaan tersebut kepada Trump. Namun, Komite Nobel menegaskan bahwa Hadiah Perdamaian tidak dapat dialihkan.