Konflik AS–Venezuela Memanas: Dari Sanksi Ekonomi hingga Operasi Militer Penangkapan Maduro
AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro setelah melancarkan operasi militer ke Caracas pada Sabtu (3/1).
Dunia dikejutkan dengan operasi militer Amerika Serikat (AS) di Caracas, Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1). Penangkapan ini menjadi puncak dari ketegangan diplomatik selama lebih dari satu dekade antara Washington dan Caracas.
Maduro kini telah diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan berat sebagai pemimpin narko-terorisme. Namun, konflik ini tidak terjadi dalam semalam. Perseteruan kedua negara memiliki akar sejarah panjang yang melibatkan ideologi, minyak, hingga tuduhan kartel narkoba.
Warisan Anti-AS Era Hugo Chavez
Konfrontasi AS-Venezuela memiliki akar sejarah yang panjang. Mengutip timeline dari CFR Global Conflict Tracker, ketegangan bermula sejak era Hugo Chavez (1999-2013) yang membawa Venezuela ke arah sosialisme dan anti-Barat
Di bawah Chavez, Venezuela menjalin hubungan erat dengan musuh-musuh AS seperti Kuba, Iran, dan Rusia. Hubungan diplomatik dengan AS mulai retak, ditandai dengan pengusiran duta besar dan retorika permusuhan. Saat Chavez meninggal pada 2013, ia mewariskan kursi kepresidenan dan permusuhan tersebut kepada mantan sopir bus sekaligus loyalisnya, Nicolas Maduro.
Krisis 2018: AS Tak Lagi Akui Maduro
Hubungan kedua negara mencapai titik didih pertama pada Pemilu 2018. Maduro mengklaim kemenangan untuk masa jabatan kedua, namun pemilu tersebut dianggap curang oleh oposisi dan komunitas internasional.
Merespons hal ini, Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengambil langkah drastis:
AS tidak mengakui Maduro sebagai presiden sah dan justru mendukung pemimpin oposisi, Juan Guaido, sebagai Presiden Interim.
Sanksi Minyak
AS menjatuhkan sanksi berat pada PDVSA (perusahaan minyak negara Venezuela), yang melumpuhkan ekonomi negara tersebut dan memicu hiperinflasi serta krisis kemanusiaan.
2020: Dakwaan "Narco-Terrorism"
Konflik bergeser dari ranah politik ke kriminal pada Maret 2020. Departemen Kehakiman AS (DOJ) secara resmi mendakwa Maduro dan 14 pejabat tingginya dengan tuduhan narko-terorisme.
Maduro dituduh memimpin "Cartel of the Suns", sebuah sindikat kriminal yang menggunakan militer Venezuela untuk menyelundupkan kokain ke AS, bekerja sama dengan gerilyawan FARC Kolombia. Saat inilah AS pertama kali mengumumkan sayembara USD 15 juta bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi untuk penangkapannya.
Penyitaan Pesawat dan Sengketa Pemilu 2024
Ketegangan sempat mereda di era Joe Biden dengan pelonggaran sanksi demi negosiasi pemilu yang adil. Namun, kesepakatan itu dilanggar Maduro.
Pemilu 2024: Maduro kembali mengklaim kemenangan meski data independen menunjukkan kandidat oposisi, Edmundo Gonzalez, menang telak dengan 70% suara. Hal ini memicu kemarahan Washington.
Penyitaan Pesawat: Pada September 2024, AS menyita pesawat kepresidenan Maduro (Dassault Falcon 900EX) yang sedang berada di Republik Dominika. Pesawat seharga USD 13 juta itu diterbangkan paksa ke Florida karena dianggap melanggar sanksi ekspor AS.
2025-2026: Eskalasi Menuju Penangkapan
Puncak eskalasi terjadi pada akhir 2025. Merasa Maduro tidak lagi bisa diajak berdiplomasi, AS menaikkan nilai buronan menjadi USD 50 juta pada Agustus 2025.
Narasi Washington berubah tegas, Maduro bukan lagi sekadar presiden otoriter, melainkan ancaman keamanan nasional AS karena aktivitas kartel narkobanya.
Pada 3 Januari 2026, "bom waktu" itu meledak. Pasukan khusus AS melancarkan operasi senyap di Caracas, menangkap Maduro dan istrinya, serta mengakhiri 13 tahun kekuasaan rezim Chavismo. Kini, babak baru konflik berlanjut di ruang sidang pengadilan federal New York.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie