Penangkapan Maduro: Rusia Sebut Bencana Hubungan Internasional dan Prediksi Dua Skenario
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, mengecam keras penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat, menyebutnya sebagai bencana universal dalam hubungan internasional. Ia juga memprediksi dua skenario masa depan bagi Madu
Awal tahun ini ditandai dengan peristiwa mengejutkan di kancah politik global. Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilaporkan telah ditangkap oleh Amerika Serikat pada 3 Januari lalu. Insiden ini segera memicu reaksi keras dari berbagai negara, termasuk Rusia.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia menyebut penangkapan Maduro sebagai tindakan lancang dan tercela. Menurutnya, insiden ini merupakan bencana universal dalam ranah hubungan internasional.
Penangkapan tersebut terjadi di Venezuela, di mana Maduro dan istrinya, Cilia Flores, kemudian dibawa ke New York. Amerika Serikat menuding keduanya terlibat dalam "narkoterorisme" dan menganggap mereka sebagai ancaman. Pemerintah Venezuela di Caracas segera meminta pertemuan darurat PBB untuk membahas operasi ini.
Reaksi Internasional dan Skenario Masa Depan Maduro
Dmitry Medvedev melalui akun Telegram-nya menyoroti gejolak awal tahun ini. Ia secara tegas mengutuk penangkapan Maduro sebagai sebuah bencana universal dalam hubungan internasional. Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya Moskow memandang insiden tersebut.
Pejabat Rusia itu memaparkan dua skenario yang mungkin terjadi bagi Maduro dalam waktu dekat. Skenario pertama adalah Amerika Serikat secara diam-diam membebaskan presiden Venezuela yang diculik, meskipun Medvedev menilai kemungkinan ini sangat kecil terjadi.
Skenario kedua, yang dianggap lebih mungkin, adalah Maduro akan menjadi "Mandela baru" dari Amerika Latin. Namanya diprediksi akan sejajar dengan tokoh-tokoh sejarah seperti Bolivar, Miranda, dan Chavez. Ini menunjukkan pandangan Rusia bahwa Maduro bisa menjadi simbol perlawanan di masa depan.
Rusia, bersama China, dan Korea Utara, telah mengecam keras tindakan Amerika Serikat ini. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritasnya kepada rakyat Venezuela. Mereka juga menyerukan pembebasan Maduro dan istrinya, sekaligus meminta agar eskalasi lebih lanjut dapat dicegah.
Motif AS dan Potensi Eskalasi Konflik
Medvedev juga menganalisis motif di balik tindakan Amerika Serikat. Ia menilai bahwa minyak adalah faktor utama di balik manuver AS di Venezuela. Namun, persoalan minyak ini tidak akan mudah diselesaikan, menurut pandangannya.
Ia mempertanyakan apakah otoritas Venezuela saat ini akan enggan membagikan minyaknya kepada Amerika Serikat dalam waktu lama. Medvedev juga meragukan apakah Presiden AS Donald Trump benar-benar akan melancarkan operasi darat. Kongres pasti akan dilibatkan dalam keputusan semacam itu.
Jika Amerika Serikat melancarkan operasi darat, Medvedev memperingatkan bahwa langkah itu akan jauh lebih berdarah. Ini dibandingkan dengan penangkapan Maduro yang terang-terangan. Pejabat Rusia itu menyatakan keraguannya bahwa pemerintahan AS saat ini menginginkan skenario tersebut.
Setelah penangkapan Maduro, Mahkamah Agung Venezuela mengalihkan tugas kepala negara. Wakil Presiden Delcy Rodriguez secara resmi dilantik sebagai presiden sementara di hadapan Majelis Nasional pada 5 Januari. Ini menunjukkan adanya transisi kepemimpinan sementara di Venezuela.
Sumber: AntaraNews