Karir Politik Nicolas Maduro: Dari Sopir Bus hingga Presiden Venezuela
Masa kepemimpinan Maduro berakhir setelah pasukan khusus Amerika Serikat menangkapnya.
Nicolas Maduro, yang sebelumnya bekerja sebagai sopir bus dan aktif dalam serikat pekerja, telah menjalani perjalanan politik yang luar biasa dari lingkungan kelas pekerja hingga menjadi pemimpin Venezuela selama lebih dari 13 tahun.
Kekuasaan Maduro berakhir pada hari Sabtu (3/1/2025) ketika pasukan khusus Amerika Serikat menangkapnya dan membawanya ke luar negeri. Selama bertahun-tahun, Maduro selalu menuduh Washington D.C. berusaha menggulingkan revolusi sosialis yang diwariskan oleh mentornya, Hugo Chávez, sejak tahun 1999. Kini, di bawah tahanan otoritas AS, ia menghadapi dakwaan terkait narkotika yang dapat mengakibatkan hukuman penjara yang panjang.
Warisan kepemimpinan Maduro di dalam negeri telah menuai banyak kritik. Di bawah pemerintahannya, ekonomi Venezuela mengalami keruntuhan, yang menyebabkan hiperinflasi, kelangkaan barang-barang pokok, dan eksodus jutaan warga ke luar negeri. Para pengkritik menilai rezim Maduro sebagai pemerintahan yang tidak kompeten, korup, dan represif, serta sering menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan.
Hal ini seperti yang dikutip dari laman The Guardian pada hari Senin (5/1). Maduro lahir pada 23 November 1962 dan mulai terlibat dalam politik ketika menjabat sebagai ketua serikat mahasiswa di SMA José Valos, yang terletak di kawasan kelas pekerja di pinggiran Caracas.
Catatan pendidikan menunjukkan bahwa ia tidak pernah menyelesaikan pendidikan menengah, tetapi ia dikenal sebagai sosok yang berpengaruh dan cenderung moderat. Pada tahun 1986, Maduro pergi ke Kuba, yang ia sebut sebagai satu-satunya pendidikan formalnya setelah sekolah, sebelum kembali ke Venezuela dan bekerja sebagai sopir bus di sistem metro Caracas.
Kariernya dalam serikat pekerja berkembang pesat; seperti ayahnya, Maduro menjadi pemimpin serikat dan pengikut setia Chávez. Pada pertengahan tahun 1990-an, ia bergabung dengan gerakan politik Chávez setelah sang pemimpin mendapatkan pengampunan presiden setelah memimpin kudeta militer yang gagal.
Ketika Chávez terpilih sebagai presiden pada tahun 1998, kesetiaan dan kemampuan organisasi Maduro mempercepat kariernya di Partai Sosialis Bersatu Venezuela. Setelah enam tahun di Majelis Nasional, ia diangkat sebagai Menteri Luar Negeri. Enam tahun kemudian, ia diangkat menjadi Wakil Presiden. Menjelang wafatnya pada tahun 2013 akibat kanker, Chávez menunjuk Maduro sebagai penerusnya.
Pilihan itu disambut skeptis oleh sebagian kalangan yang meremehkan latar belakang kelas pekerja Maduro dan menilai bahwa ia hanya meniru retorika Chávez. Namun, Maduro berhasil memenangkan pemilu dengan selisih tipis dan memulai masa jabatan pertamanya.
Venezuela Sedang Menghadapi Krisis yang Serius
Kepresidenan Maduro segera diwarnai oleh krisis yang mendalam. Protes dari pihak oposisi mulai merebak pada tahun 2014, tidak hanya di Caracas tetapi juga di berbagai kota lainnya. Tanggapan aparat keamanan sangat keras; dilaporkan sedikitnya 43 orang kehilangan nyawa dan puluhan lainnya ditangkap.
Pada tahun 2015, untuk pertama kalinya dalam 16 tahun, partai yang berkuasa kehilangan mayoritas di Majelis Nasional. Sebagai reaksi, Maduro mendirikan majelis konstituen pro-pemerintah pada tahun 2017, bertujuan untuk mengekang kekuatan parlemen oposisi.
Langkah ini memicu gelombang protes baru yang disertai dengan penindasan berdarah. Ratusan orang ditangkap, lebih dari 100 orang tewas, dan ribuan lainnya mengalami luka-luka. Akibatnya, Pengadilan Pidana Internasional membuka penyelidikan terhadap Maduro dan pejabat pemerintahannya karena dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pada tahun 2018, Maduro selamat dari upaya pembunuhan ketika sebuah drone yang membawa bahan peledak meledak di dekatnya saat parade militer berlangsung di Caracas. Di tengah gejolak politik yang terus berlangsung, kondisi ekonomi negara semakin memburuk.
Produksi minyak, yang merupakan urat nadi negara, anjlok hingga di bawah 400.000 barel per hari. Sementara itu, hiperinflasi melumpuhkan daya beli masyarakat. Pemilihan presiden yang berlangsung pada tahun 2018 tidak dihadiri oleh pesaing yang berarti; oposisi dibatasi, dan banyak tokoh kunci mereka dipenjara atau diasingkan.
Akibatnya, puluhan negara menolak untuk mengakui hasil pemilu yang memenangkan Maduro. Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Maduro melalui sanksi ekonomi yang ditujukan kepada dirinya, sekutunya, dan perusahaan negara. Namun, upaya tersebut tidak berhasil menggoyang basis kekuasaan Maduro yang bergantung pada militer, kelompok paramiliter, dan struktur partai yang ada.
Ketegangan antara pemerintah Maduro dan Washington terus meningkat. Dalam keadaan terdesak, Maduro mulai melonggarkan kebijakan ekonomi dan membuka dialog yang terbatas dengan oposisi yang didukung oleh AS, yang memunculkan harapan akan adanya pemilu bebas pada tahun 2024.
Namun, harapan tersebut tampaknya kandas. Pada tahun 2023, pemerintah melarang Mara Corina Machado, tokoh oposisi terkuat, untuk mencalonkan diri dalam pemilu. Awal tahun 2024 ditandai dengan penindakan baru terhadap oposisi serta pembela hak asasi manusia, yang menunjukkan bahwa situasi politik di Venezuela masih sangat tidak stabil.
Kemenangan Maduro
Beberapa jam setelah pemungutan suara pemilu 2024 berakhir, dewan pemilihan mengumumkan kemenangan Maduro tanpa memberikan rincian hasil. Oposisi mengklaim bahwa bukti dari lebih 80 persen mesin pemungutan suara menunjukkan kekalahan telak bagi petahana. Protes yang terjadi dibubarkan, dan Maduro dilantik untuk masa jabatan ketiga pada Januari 2025. Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada periode berikutnya semakin mempercepat eskalasi situasi.
Amerika Serikat pun meningkatkan kehadiran militer di Karibia dan meluncurkan operasi yang mereka klaim sebagai perang melawan terorisme narkoba, termasuk penindakan di laut yang mengakibatkan lebih dari 100 orang tewas.
Sepanjang karier politiknya, Maduro sering didampingi oleh istrinya, Cilia Flores, yang merupakan figur berpengaruh dan pernah menjabat sebagai jaksa agung serta ketua parlemen. Flores dikenal memiliki pengaruh politik yang sebanding dengan suaminya dan dilaporkan juga ditangkap oleh otoritas AS.
Selama bertahun-tahun, ketangguhan dan kelincahan taktis Maduro sering kali mengejutkan lawan-lawannya. Namun, penangkapannya kali ini menandai akhir yang tampaknya final dari perjalanan politik seorang mantan sopir bus yang pernah memegang kendali tertinggi di Venezuela.