Prediksi IHSG 10.000: Menkeu Optimistis Tercapai pada 2026, Ini Pendorongnya
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yakin Prediksi IHSG 10.000 akan terwujud pada akhir 2026, didukung fundamental ekonomi kuat dan sentimen positif pasar modal.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mampu menembus level 10.000 pada akhir tahun 2026. Optimisme ini disampaikan di Jakarta, Rabu, meskipun capaian IHSG tahun ini meleset dari prediksi sebelumnya.
Menurut Purbaya, secara fundamental, IHSG seharusnya sudah berada di posisi yang lebih tinggi tahun ini. Namun, dinamika kebijakan dan sentimen pasar sempat menahan laju penguatan indeks, sehingga target 9.000 yang ia proyeksikan tidak tercapai.
Meski demikian, dengan semakin sinkronnya kebijakan pemerintah dan membaiknya kondisi ekonomi, Purbaya yakin Prediksi IHSG 10.000 akan terealisasi lebih cepat. Keyakinan ini didasari pada potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di masa mendatang.
Optimisme Menkeu Terhadap Prediksi IHSG 10.000 di Tahun 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, menegaskan bahwa Prediksi IHSG 10.000 di tahun 2026 bukanlah hal yang mustahil. Ia bahkan berpendapat bahwa level tersebut bisa tercapai lebih awal dari perkiraan jika melihat potensi yang ada. Keyakinan ini muncul setelah IHSG ditutup menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94 pada penutupan bursa akhir tahun.
Sebelumnya, Purbaya sempat memprediksi IHSG bisa menembus 9.000 pada tahun ini, namun realisasinya tertahan. Ia menjelaskan bahwa jika desain kebijakan berjalan sesuai rencana, IHSG seharusnya sudah mencapai level tersebut. Namun, ia melihat adanya pergeseran yang menyebabkan target tidak tercapai.
Dengan adanya sinkronisasi kebijakan yang lebih baik dan perbaikan ekonomi, Purbaya sangat optimistis terhadap pergerakan IHSG ke depan. Ia percaya bahwa kondisi ini akan mempercepat laju pertumbuhan indeks secara signifikan.
Faktor Pendorong Penguatan IHSG di Penghujung Tahun
Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, turut menganalisis penguatan IHSG di penghujung tahun 2025. Menurut Reydi, sentimen pemangkasan suku bunga, baik di tingkat global maupun domestik, menjadi faktor utama yang mendorong penguatan ini. Kebijakan ini meningkatkan minat risiko investor terhadap aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, kinerja emiten yang relatif solid, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar atau big cap, juga turut menopang pergerakan IHSG. Kinerja positif dari perusahaan-perusahaan besar memberikan kepercayaan kepada investor untuk terus berinvestasi di pasar modal Indonesia.
Faktor window dressing, yaitu upaya manajer investasi untuk mempercantik portofolio di akhir tahun, juga dinilai meningkatkan aktivitas transaksi. Hal ini berkontribusi pada kenaikan IHSG meskipun indeks LQ45 yang berisi saham unggulan justru mengalami penurunan.
Tantangan dan Prospek IHSG Menuju Level 10.000
Memasuki tahun 2026, Reydi Octa menyoroti beberapa faktor yang akan menjadi perhatian utama investor dalam pergerakan IHSG. Arah kebijakan suku bunga, baik dari bank sentral global maupun domestik, akan sangat memengaruhi keputusan investasi. Dinamika geopolitik global juga berpotensi menciptakan ketidakpastian yang perlu diwaspadai.
Pertumbuhan ekonomi global dan domestik menjadi indikator penting lainnya yang akan dicermati investor. Kinerja emiten big cap yang konsisten dan masuknya aliran dana asing (inflow) secara masif akan menjadi penentu utama arah pergerakan indeks ke depan. Terutama, karena kepemilikan investor asing kini menjadi minoritas di IHSG, sehingga setiap pergerakan signifikan akan sangat diperhatikan.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, Prediksi IHSG 10.000 pada tahun 2026 memiliki dasar yang kuat. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan ekonomi makro dan mikro untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.
Sumber: AntaraNews