IHSG Menguat Signifikan 2,07 Persen di Akhir Pekan, Sentuh Level 7.458
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan penguatan signifikan sebesar 2,07 persen pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026). Simak faktor pendorong di balik kenaikan IHSG hari ini dan prospek pasar modal ke depan.
Jakarta, 10 April 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai perdagangan Jumat pagi dengan optimisme, dibuka menguat 38,90 poin atau 0,53 persen ke posisi 7.346,49. Momentum positif ini berhasil dipertahankan dan bahkan diperkuat hingga penutupan perdagangan akhir pekan. Pasar modal Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah berbagai sentimen.
Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG melonjak tajam sebesar 150,90 poin atau 2,07 persen, mencapai level 7.458,49. Penguatan ini menandai tren positif yang konsisten sepanjang hari. Kinerja impresif ini didukung oleh mayoritas saham yang bergerak di zona hijau.
Sejalan dengan IHSG, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga mencatatkan kenaikan signifikan. Indeks LQ45 naik 3,83 poin atau 0,52 persen pada pembukaan, dan ditutup menguat 1,71 persen ke level 746,47. Ini menunjukkan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar turut menjadi motor penggerak pasar.
Performa Impresif IHSG Sepanjang Hari
Pergerakan IHSG pada Jumat, 10 April 2026, menunjukkan tren penguatan yang solid sejak sesi pembukaan hingga penutupan. Setelah dibuka di level 7.346,49, IHSG terus melaju dan berhasil menembus level 7.400 pada sesi pertama. Indeks bergerak dalam rentang harian antara 7.307 hingga 7.488, mencerminkan dinamika pasar yang aktif.
Total volume perdagangan saham di bursa mencapai 42,26 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp17,77 triliun. Frekuensi transaksi tercatat lebih dari 2,2 juta kali. Dominasi penguatan terlihat jelas dengan 485 saham mengalami kenaikan, sementara 181 saham melemah dan 153 saham stagnan.
Kinerja positif ini juga diikuti oleh indeks acuan lainnya. Indeks JII naik 1,79 persen ke 516,66, dan IDX30 menguat 1,85 persen ke 400,29. Hal ini mengindikasikan bahwa sentimen positif menyebar luas di berbagai segmen pasar.
Sektor Pendorong Kenaikan dan Saham Unggulan LQ45
Penguatan IHSG pada hari ini ditopang oleh kenaikan di hampir seluruh indeks sektoral. Sektor perindustrian memimpin dengan lonjakan 4,29 persen, diikuti oleh sektor keuangan yang naik 3,02 persen, dan sektor barang konsumen siklikal yang menguat 2,64 persen. Sektor energi juga menanjak 1,41 persen, bahan baku melompat 1,96 persen, dan teknologi mendaki 1,91 persen.
Pada kelompok saham unggulan LQ45, beberapa emiten mencatatkan kenaikan signifikan. Saham EMTK menjadi 'top gainer' setelah melesat 7,36 persen. Disusul oleh UNTR yang naik 4,25 persen, dan BBCA yang menguat 3,27 persen. Saham-saham perbankan besar Indonesia juga menjadi motor utama penguatan IHSG.
Meskipun demikian, beberapa saham masih berada di zona merah. HEAL turun 1,21 persen, diikuti ANTM yang melemah 1,07 persen, serta ICBP yang terkoreksi 1,01 persen. Namun, secara keseluruhan, dominasi saham yang naik berhasil mempertahankan tren positif indeks.
Analisis dan Prospek Pasar Modal
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menuturkan bahwa penguatan IHSG Jumat pekan ini diperkirakan masih didorong oleh sentimen gencatan senjata di Timur Tengah. Selain itu, pergerakan ini sejalan dengan bursa global dan Asia yang juga menunjukkan tren positif.
Namun, pasar juga masih mencermati beberapa sentimen negatif. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih tertekan, dan terdapat kenaikan harga minyak dunia. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, sebelumnya menyatakan bahwa penguatan di sesi kedua ditopang oleh saham-saham tertentu, meskipun masih dibayangi oleh 'net foreign sell' sebesar Rp1,77 triliun di pasar reguler.
Secara teknikal, IHSG masih berpotensi menguat terbatas dengan pergerakan dalam rentang tertentu. Pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan konflik geopolitik global, pergerakan harga komoditas, serta rilis data inflasi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga global. Investor perlu menerapkan strategi selektif dan disiplin terhadap level support serta resistance.
Sumber: AntaraNews