IHSG Menguat: Sentimen Positif dari Putusan MA AS dan Kebijakan Tarif Trump Dorong Kinerja Pasar Modal

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat pekan depan, didorong sentimen positif dari putusan Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat terkait kebijakan tarif Donald Trump, meskipun ada kekhawatiran global.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
IHSG Menguat: Sentimen Positif dari Putusan MA AS dan Kebijakan Tarif Trump Dorong Kinerja Pasar Modal
Ekonom memprediksi pasar modal akan bergerak hati-hati dalam beberapa hari ke depan. Hal ini dipicu oleh pengumuman MSCI dan gelombang pengunduran diri pejabat kunci di OJK dan BEI, menciptakan ketidakpastian di tengah investor. (AntaraNews)

Jakarta, 22 Februari – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan bergerak konsolidasi cenderung menguat pada perdagangan pekan depan. Proyeksi IHSG menguat ini didorong oleh sentimen positif dari keputusan Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.

Ekonom Keuangan dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, menyatakan bahwa putusan MA AS tersebut akan menjadi pendorong positif bagi pasar keuangan Indonesia. Selain itu, langkah Trump yang menetapkan tarif global sebesar 10 persen selama 150 hari juga dianggap sebagai sentimen positif, karena tarif tersebut tidak terlalu tinggi.

Hans Kwee memproyeksikan IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan level support di 8.170 hingga 7.861, serta level resistance di 8.251 hingga 8.596. Ini menunjukkan potensi kenaikan yang menarik bagi para investor di pasar modal.

Meskipun ada sentimen positif dari AS, Hans Kwee juga menyoroti beberapa data ekonomi global yang perlu diperhatikan. Data produk domestik bruto (PDB) AS tercatat melemah, hanya tumbuh 1,4 persen pada kuartal IV-2025, dan secara tahunan tumbuh 2,2 persen pada 2025.

Di sisi lain, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS masih tinggi, mencapai 3 persen pada Desember 2025, melampaui ekspektasi pasar. Kondisi ini menyebabkan probabilitas pemotongan suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed, pada Juni 2026 menurun. Namun, pelaku pasar tetap mengharapkan dua kali pemotongan bunga di tahun ini.

Kekhawatiran pelaku pasar global juga masih akan seputar saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI), yang dapat menyebabkan volatilitas pasar tinggi. Namun, obligasi pasar berkembang (emerging market) dinilai berada di level yang sangat menarik secara historis. Kondisi ini berpotensi memasuki periode kinerja yang sangat kuat, menjadi sentimen positif bagi negara berkembang termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, Hans Kwee menilai langkah proaktif yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) cukup efektif. Tindakan ini merupakan tindak lanjut ultimatum MSCI Inc., yang bertujuan menghindari ancaman reklasifikasi struktural, yaitu downgrade dari emerging market menjadi frontier market.

Langkah proaktif otoritas tersebut juga didukung oleh kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada pertemuan Februari 2026, sesuai ekspektasi pelaku pasar. Kebijakan ini memberikan stabilitas tambahan bagi pasar keuangan domestik.

Sementara itu, harga minyak global masih sangat dipengaruhi oleh potensi konflik antara AS dan Iran, serta pembicaraan pasokan oleh Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC +). Volatilitas minyak yang tinggi akibat ketidakpastian potensi serangan AS ke Iran juga menjadi faktor yang perlu dipantau oleh pasar.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi