Gubernur: Nilai Tukar Rupiah Sekarang Undervalued Dibanding Fundamentalnya
Perry menjelaskan, kondisi ekonomi domestik yang tetap solid seharusnya menjadi penopang penguatan rupiah.
Bank Indonesia (BI) melihat pergerakan rupiah saat ini belum mencerminkan kekuatan fundamentalnya. Otoritas moneter menilai, nilai tukar masih berada di bawah level yang seharusnya, atau dengan kata lain masih undervalued.
"Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers RDG April 2026, ditulis, Jumat (24/4).
Perry menjelaskan, kondisi ekonomi domestik yang tetap solid seharusnya menjadi penopang penguatan rupiah. Stabilitas makroekonomi serta kebijakan moneter yang konsisten dinilai cukup kuat untuk mendorong nilai tukar ke level yang lebih tinggi.
Di tengah tekanan global, ekonomi Indonesia juga dinilai tetap tangguh, termasuk saat menghadapi ketidakpastian geopolitik seperti konflik di Iran. Hal ini semakin memperkuat pandangan bahwa rupiah memiliki ruang untuk menguat.
Namun demikian, tekanan eksternal masih menjadi faktor yang membayangi pergerakan rupiah. Lonjakan harga minyak akibat konflik Iran, penguatan dolar AS, serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turut mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sebagai respons, BI terus mengoptimalkan bauran kebijakan yang mencakup instrumen moneter, makroprudensial, hingga sistem pembayaran guna menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam gejolak di pasar keuangan.
Upaya Bank Indonesia Jaga Rupiah
Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.
"Struktur suku bunga instrumen moneter juga diperkuat untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing," ujarnya.
Bank Indonesia juga memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold tunai beli valas terhadap Rupiah, peningkatan threshold jual DNDF/Forward, peningkatan threshold beli dan jual swap, yang berlaku mulai April 2026.
Kurs Rupiah Tembus Rp17.300, Ini Respons BI
BI mengungkapkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada hari ini yang tembus Rp17.300 dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang turut menekan mata uang di kawasan.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa pergerakan rupiah masih sejalan dengan tren regional.
"Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional," kata Destry kepada Liputan6.com, Kamis (23/4).
Bank Indonesia meyakini nilai tukar Rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.