Bahlil Jelaskan Alasan Impor Etanol dari Amerika Serikat
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menjelaskan alasan di balik keputusan untuk mengimpor etanol dari Amerika Serikat (AS).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana untuk mengimpor etanol dari Amerika Serikat (AS). Rencana ini disiapkan sebagai bagian dari kewajiban campuran etanol ke dalam bahan bakar minyak (BBM) yang akan diterapkan pada tahun 2028.
Dia menjelaskan bahwa ada kewajiban untuk mencampurkan etanol sebanyak 5-10 persen pada tahun tersebut. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk mendorong produksi dalam negeri, namun Bahlil juga membuka peluang untuk melakukan impor demi mencapai skala produksi yang dibutuhkan.
"Namun sampai dengan produksi kita bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka ruang untuk kita melakukan impor boleh saja, termasuk impor dari Amerika sampai dengan kebutuhan produksi kita dalam negeri terpenuhi. Ini paralel aja sebenarnya, paralel aja biasa," ungkap Bahlil dalam konferensi pers daring, seperti dikutip pada Sabtu (21/2/2026).
Dia menambahkan bahwa saat ini produksi bioetanol dalam negeri belum dapat memenuhi kebutuhan mandatori tersebut secara langsung. Oleh karena itu, sebagian dari kebutuhan tersebut akan dipenuhi melalui impor.
"Sebagian memang industri dalam negeri sudah ada. Antara konsumsi dan produksi dalam negeri itu kekurangannya berapa itu yang bisa kita impor. Jadi impor itu adalah untuk mengisi kekurangan daripada kebutuhan konsumsi dalam negeri," jelasnya. Indonesia juga diharapkan untuk melakukan impor komoditas energi dari AS dengan nilai mencapai USD 15 miliar per tahun, yang mencakup minyak mentah, BBM, hingga LPG.
Dalam konteks impor etanol ini, Bahlil menegaskan bahwa etanol tidak hanya digunakan untuk dicampur dengan BBM, tetapi juga diperlukan oleh berbagai industri di Tanah Air.
"Ini sebenarnya tidak hanya pada konteks pencampuran dengan bensin tapi juga untuk industri-industri lain yang dibutuhkan karena selama ini memang kita juga masih membutuhkan impor," ujarnya. Dia melihat peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan keuntungan tambahan dengan mengalihkan sebagian sumber impor etanol ke AS. Selain itu, dalam kesepakatan perdagangan yang saling menguntungkan (Agreement on Reciprocal Trade/ART), impor etanol dari AS dibebaskan dari tarif bea masuk.
"Ini menguntungkan kita sebenarnya, kita melakukan impor dari sini ini tarifnya masuk 0 persen harganya lebih murah sehingga industri kita lebih kompetitif dalam memakai bahan baku daripada etanol," jelas Bahlil.
Beli BBM dan LPG dari Amerika Serikat
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia berencana mengalokasikan dana sekitar USD 15 miliar atau setara dengan Rp 253,39 triliun, dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah berada di angka 16.890. Dana tersebut akan digunakan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan crude dari Amerika Serikat, sebagai bagian dari pelaksanaan perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut dari kesepakatan yang telah ditandatangani antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurut Bahlil, kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan antara kedua negara.
"Dalam perjanjian tersebut telah dimuat secara jelas bahwa untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan kita, maka kita dari sektor ESDM akan membelanjakan kurang lebih sekitar USD 15 miliar. Dari 15 miliar USD ini terdiri dari membeli BBM jadi kemudian LPG dan crude," ujar Bahlil dalam acara Implementasi Teknis Perjanjian Perdagangan Timbal Balik RI-AS, yang berlangsung pada Jumat (20/2/2026).
Ubah Sumber Impor Menjadi Lokal
Ia menegaskan bahwa alokasi dana tersebut tidak bertujuan untuk meningkatkan total volume impor energi Indonesia, melainkan untuk mengalihkan sebagian sumber pasokan dari negara lain ke Amerika Serikat.
"USD 15 miliar yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat bukan berarti kita menambah volume impor, namun kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara, di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East, maupun beberapa negara di Afrika. Secara keseluruhan, neraca komoditas dari pembelian BBM kita dari luar negeri tetap sama, hanya saja kita melakukan pergeseran," jelasnya.
Bahlil juga menambahkan bahwa dalam praktiknya, pembelian tersebut akan tetap memperhatikan mekanisme keekonomian yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Ia menyebutkan bahwa impor LPG Indonesia saat ini mencapai sekitar 7 juta ton per tahun, di mana sebagian pasokan sudah berasal dari Amerika Serikat dan volumenya akan ditingkatkan. Terkait pelaksanaan, Bahlil menyatakan bahwa setelah masa 90 hari sesuai arahan Presiden selesai, pemerintah akan segera memulai tahapan eksekusi.