Semangat jadi Murid Sekolah Rakyat
Sekolah rakyat memang diperuntukkan bagi anak-anak tidak mampu.
Rumah sederhana di Kelurahan Gurun Laweh, Kota Padang, Sumatera Barat, menjadi saksi bisu keceriaan bocah pria sedang bermain dengan teman-temannya. Dia tampak tak menyia-nyiakan waktu berkumpul dengan teman sebayanya sebelum masuk ke asrama dan bersekolah.
Hitungan hari, rumah berdinding papan tipis dengan sebagian atap bocor dan tiang keropos akan dia tinggalkan. Pilihan itu harus dilakukannya untuk menuntut ilmu agar kelak mengangkat derajat keluarga.
Muhammad Uafar Syadatul, adalah salah satu siswa Program Sekolah Rakyat di Kota Padang. Meski harus jauh dari keluarga, Uafar tidak masalah. Dia sudah tak sabar menanti hari pertama sekolah.
Semua peralatan sekolah hingga tempat tinggal berupa sudah disediakan. Persiapannya hanya satu, menahan rindu dengan keluarga dan teman-teman di kampungnya.
"Uafar senang, di sana fasilitasnya lengkap. Jauh berbeda dengan rumah Uafar, kamarnya ada AC," ujarnya didampingi ibunda, Devi Susanti (37) saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.
Meski tak ada persiapan khusus, Uafar sudah merapikan baju-baju yang akan dibawanya ke asrama. Dia tak tahu akan sekamar dengan siapa. Tetapi saat penerima beasiswa Sekolah Rakyat dari Sumbar dikumpulkan beberapa waktu lalu, Uafar sempat berkenalan dengan beberapa orang.
"Senang, di sana Uafar dapat teman baru," ujarnya.
"Saya Takut Dia Minta Pulang"
Melepas anak untuk tinggal berjauhan sebenarnya tak pernah terpikirkan oleh Devi. Tetapi sebagai ibu, dia hanya bisa berdoa dan memberi semangat. Menurutnya, tak semua orang punya kesempatan yang sama dengan Uafar mendapatkan sekolah gratis.
"Dengan kondisi keuangan kami, kami senang Uafar bisa sekolah di Sekolah Rakyat sehingga uang yang ada bisa digunakan untuk masuk sekolah abangnya. Abangnya tahun ini masuk di SMK, dan sudah diterima," tutur ibu empat orang anak itu.
Ia berharap, putra tercinta bisa menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh selama di Sekolah Rakyat dan berprestasi.
"Saya berharap Uafar nantinya menorehkan prestasi dan menjadi anak yang taat beribadah," sebutnya.
Selain mendapat sekolah gratis, Uafar juga bisa tinggal pada tempat yang lebih layak. Devi mengaku sudah melihat asrama yang akan ditempati anaknya. Satu kamar, katanya, hanya diisi dua orang
"Kamarnya bagus, jauh berbeda dengan kamar Uafar saat ini," sebutnya.
Meski bahagia melihat anaknya bersemangat sekolah, Devi tetap menyimpan kekhawatiran. Ia mengatakan ini kali pertama Uafar berpisah darinya.
"Saya takut dia minta pulang. Tetapi kemarin itu saya sudah berpesan kepada pihak sekolah agar tidak membiarkannya pulang tanpa seizin saya," ujarnya.
Sempat Pasrah Tak Bisa Sekolah
Kebahagiaan Uafar tak ubahnya dengan perasaan Khusnul Mubarok Arafah. Remaja 15 tahun ini terpilih sebagai penerima beasiswa Sekolah Rakyat untuk jenjang SMP.
Rafa senang bukan main. Dia tak menyangka mendapat bisa sekolah gratis berikut asrama dan perlengkapannya. Kesempatan baik ini tak mau dia sia-siakan.
Rafa selama ini tinggal di rumah kecil berdinding asbes di Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim, Kota Bandarlampung, Lampung. Dia anak kedua dari dua bersaudara.
Sejak ditinggal pergi ibunda, Rafa hidup bersama bibinya. Dia melihat bagaimana kerja keras sang bibi menghidupi keluarga termasuk Rafa. Kondisi itu membuatnya tak muluk-muluk ingin sekolah lebih tinggi. Untuk makan saja pas-pasan apalagi memikirkan pendidikan.
"Memang enggak mau sekolah maunya kerja. Tapi Pak RT datang menawarkan, jadi tanpa pikir panjang saya mau dari pada enggak sekolah," katanya saat ditemui merdeka.com beberapa waktu lalu.
Rafa makin senang tak ada biaya sepeserpun yang harus dikeluarkan. Dia hanya fokus menyiapkan kesehatan jasmani dan rohaninya. Selain itu, semangat belajar agar menjadi siswa berprestasi.
Kepala Dinas Sosial dan stafnya juga sudah menemuinya dan menyampaikan langsung kabar gembira itu.
"Katanya semuanya sudah disiapkan dari sana, jadi ya gak beli apa pun lagi, cuma tinggal masuk belajar yang bener enggak neko-neko saja udah," kata pemilik hobi futsal ini.
Dia pribadi tak merasa susah karena harus tinggal di asrama selama proses pendidikan. Meski sedikit berat, karena tak akan bertemu bibi, kakak dan sepupunya.
"Enggak apa-apa sama seperti di pondok. Udah bisa nyuci sendiri, sering bantu bibi juga. Kalau bangun pagi ya bisa, cuma karena libur lebih sering bangun siang aja," kata Rafa.
Sampai saat ini, Rafa belum tahu di Sekolah Rakyat mana dia akan ditempatkan. Dia hanya diminta mempersiapkan diri dan baju sehari-hari yang akan dipakai. Nanti, akan ada yang menjemputnya menuju sekolah.
"Lokasinya sampai sekarang sih belum tahu belum pernah ke sana juga," ucapnya.
Rafa berharap, langkah kecil yang dia mulai ini membawa kebaikan hidupnya ke depan. Bahkan, dia sudah bercita-cita jika kelak mendapatkan kerja, akan membahagiakan bibinya sebagai balas budi.
"Ya berharapnya mudah dapat pekerjaan, kalau kuliah siapa tahu bisa dapat beasiswa. Tergantung rejekinya. Yang pasti bisa dapat membantu bibi dan enggak menyusahkan bibi," ucapnya sembari tersenyum.