Senyum Naila Mulai Jalani MPLS Sekolah Rakyat
Naila merupakan satu dari ratusan murid Sekolah Rakyat Sekolah Menengah Pertama (SMP) 23 Makassar yang mengikuti MPLS hari ini.
Sebanyak 150 murid Sekolah Rakyat Sekolah Menengah Pertama (SMP) 23 Makassar mulai menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (14/7). Di antara 150 murid tersebut, ada nama Naila Syamsul yang disebut oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dengan mengenakan pakaian putih merah, Naila diantar langsung oleh ibu Nurlia dan ayahnya Syamsul ke Sekolah Rakyat yang terletak di Salodong, Kelurahan Untia, Kota Makassar. Dengan menenteng tas besar, senyum merekah diperlihatkan oleh Naila.
Terlihat Naila sudah siap menjadi peserta didik Sekolah Rakyat SMP 23 Makassar. Pada pukul 09.20 Wita, nama Naila akhirnya dipanggil untuk melakukan pendaftaran ulang.
Usai menjalani daftar ulang, selanjutnya Naila mendapatkan bingkisan berupa peralatan mandi dan mencuci. Selanjutnya, Naila menjalani pemeriksaan kesehatan.
Pada pukul 10.45 Wita, Naila dipanggil untuk hadir di aula agar berkomunikasi melalui siaran zoom dengan Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Satu jam berlalu, Naila akhirnya melihat asramanya di Gedung Toddopuli Sentra Wirajaya.
Saat memasuki kamarnya, terlihat senyum dari wajah Naila. Terlihat dalam satu kamar akan diisi empat orang murid. Hal itu, terlihat adanya dua tempat tidur bertingkat dan empat meja belajar.
Selain tempat tidur dan meja belajar, kamar juga dilengkapi dengan dua lemari dan kipas angin. Bahkan, dalam kamar tersebut juga dilengkapi kamar mandi dengan fasilitas kran shower dan kloset duduk.
Naila mengaku fasilitas Sekolah Rakyat sangat baik. Apalagi, fasilitas kamar asrama yang diberikan.
"Senang. Akhirnya bisa lanjut sekolah di Sekolah Rakyat. Fasilitas bagus semua," ujar Naila.
Naila pun mengaku siap menjalani proses belajar mengajar dengan sistem Boarding School dan harus jauh dari orang tua.
"Enggak masalah jauh dari ibu dan bapak selama sekolah di Sekolah Rakyat," tutur Naila.
Meski demikian, Naila mengaku sedih tidak bisa satu kamar dengan teman mainnya yang juga diterima di Sekolah Rakyat. Pasalnya, penempatan kamar murid ditentukan abjad.
"Ada yang tidak satu kamar. Pisah-pisah dan tidak sudah diatur sama gurunya," kata Naila.
Semangat menempuh pendidikan juga ditunjukkan Muh Rahmatullah. Meski sempat menolak di Sekolah Rakyat, akhirnya Rahmatullah luluh setelah dibujuk oleh ibunya.
Orang tua Rahmatullah, Suryani mengaku bersyukur anaknya bisa diterima di Sekolah Rakyat SMP 23 Makassar. Ia mengaku program Presiden Prabowo Subianto bisa mengurangi beban ekonomi keluarganya untuk memberikan pendidikan kepada anaknya.
"Saya sangat senang dan bersyukur. Sekolah Rakyat ini terbantu sekali, karena anak saya bisa terpanggil di sini," ujar dia.
Awal Masuk Sekolah Rakyat
Suryani menceritakan awal anaknya bisa diterima di Sekolah Rakyat. Suryani mengaku awalnya tidak mengetahui jika anaknya didaftarkan oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) untuk bisa diterima di Sekolah Rakyat.
"Saya tidak tahu sebenarnya. Tapi karena ada petugas sosial (petugas PKH) datang ke rumah mencari nama anak saya. Saya juga sempat kaget, ada apa," kenang Suryani.
Saat itulah, pendamping PKH menawarkan kepada Suryani untuk mendaftarkan Muh Rahmatullah untuk bisa masuk Sekolah Rakyat. Setelah mendapat penjelasan, akhirnya Suryani menyetujui.
"Akhirnya kita ngobrol. Saya sangat terbantu dan tertarik, saya mau," kata dia.
Meski demikian, anaknya sempat menolak untuk didaftarkan sebagai peserta didik Sekolah Rakyat. Namun, setelah dibujuk rayu dan diberi penjelasan, akhirnya Muh Rahmatullah mengiyakan.
"Awalnya juga anak saya tidak mau, karena pikir mondok (pondok pesantren).Sering-sering saya bujuk, kasih arahan yang baik," ujar Suryani.
Tak Keluar Biaya
Suryani menyebut program Sekolah Rakyat dari Presiden Prabowo Subianto benar-benar sangat membantu pendidikan anaknya. Apalagi, tidak ada sepeser pun uang yang dikeluarkan oleh penjual kue keliling ini untuk menyekolahkan anaknya.
"Ini program dari presiden sangat membantu, karena kalau sekolah lain, kita yang membayar. Ini alhamdulillah meringankan beban betul orang tua. Kami tidak pernah dipungut biaya, malah kami dikasih uang transpor untuk pulang," ujar warga Jalan Barawaja Kota Makassar.
Sementara Kepala Sekolah Rakyat SMP 23 Makassar, Radiah mengatakan kegiatan pada Senin (14/7) adalah pembukaan MPLS. Selain MPLS, murid Sekolah Rakyat juga menjalani tes kesehatan.
"Sebanyak 150 murid harus masuk semua hari ini. Seratus lima puluh siswa ini sudah di SK-kan oleh Wali Kota Makassar," kata Radiah.
Meski demikian, Radiah mengaku untuk proses belajar mengajar masih belum dilakukan. Radiah menjelaskan saat ini masih proses penyesuaian murid Sekolah Rakyat.
"Setelah MPLS itu tidak langsung belajar, tetapi ada masa persiapan. Masa persiapan itu bisa saja 2 sampai 3 bulan agar siswa itu menyesuaikan dulu dirinya dengan lingkungan yang ada di Sekolah Rakyat ini," kata Radiah.
Dia menyebut dengan sistem Boarding School, murid harus bisa menyesuaikan diri. Apalagi, Boarding School mengharuskan murid terpisah dari orang tuanya.
"Mudah-mudahan dengan Sekolah Rakyat ini adalah jalan akses buat anak-anak kita yang dari kaum dhuafa, keluarga yang mungkin ekonominya kurang dibanding lainnya bisa mendapatkan akses pendidikan yang layak," kata dia.
"Sehingga nanti bisa meningkatkan taraf kehidupan, bisa cerdas tidak hanya secara intelektual. Tetapi juga punya karakter yang kuat keterampilan yang mumpuni dan juga karakter yang tangguh," pungkasnya.