Sekolah Rakyat: Puji Syukur Orangtua dan Mimpi Para Siswa
Tawa riang menghiasi kampus berkelir biru itu. Tak terasa cuaca dingin menyelimuti kota Bandung pagi ini, 14 Juli 2025.
Jarum jam menunjukkan Pukul 08.30 WIB. Jalan Ir H Djuanda masih basah bekas diguyur hujan semalam. Remaja berseragam putih biru, khas anak SMP kumpul di Politeknik Kesejahteraan Sosial (Polteksos) Bandung.
Tawa riang menghiasi kampus berkelir biru itu. Tak terasa cuaca dingin menyelimuti kota Bandung pagi ini, 14 Juli 2025. Dari gerbang, tampak sekelompok dari mereka berjalan ke ruang aula yang letaknya di lantai 2.
Puluhan remaja berseragam SMP itu tengah mengikuti hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 11 yang digelar di Polteksos Bandung. Ada 100 siswa yang terdaftar di SRMA 11 Bandung, 52 siswa laki-laki dan 48 siswa perempuan, dengan 4 rombongan belajar.
Usai mengikuti launching di aula, mereka secara bergantian diarahkan untuk melakukan cek kesehatan. Jagat Kafya Bahtiar, salah satunya.
Asa Siswa
Remaja lelaki 17 tahun itu mengatakan proses tes kesehatan di antaranya meliputi pengecekan kebugaran, tes darah, dan pemeriksaan buta warna. Alumni SMP Negeri 21 Bandung itu tampak antusias mengikuti masa MPLS di hari pertama.
Dia bilang tak ada keraguan buat ikut Sekolah Rakyat. Malahan, dia sendirilah yang meminta kepada orang tuanya buat ikut Sekolah Rakyat.
“Iya, enggak apa-apa sih saya mah. Saya yang minta,” ucap Jagat.
Keyakinan itu rupanya tak lepas dari cita-cita yang Jagat punya. Remaja berkulit coklat itu mengaku punya mimpi bisa bekerja di luar negeri agar kelak bisa meringankan beban orang tuanya.Ia pun bersyukur bisa ikut program Sekolah Rakyat.
“Bapak pekerja paruh waktu di pasar. Ibu, ibu rumah tangga,” katanya.
Puji Syukur Orang Tua
Harapannya cuma satu. Bisa sekolah setinggi mungkin. Sehingga dapat menggapai cita-citanya mencari nafkah di negeri lain.
“Saya sih harapannya dapat kerja di luar negeri,” ungkap dia.
Lilis Siti Salamah, salah satu orang tua, ikut mengantarkan anaknya, Bima Rafael.Dia berharap, putranya dapat memperoleh bekal, sehingga dapat menjadi anak yang baik hidupnya di masa depan.
“Jadi anak yang baik, yang soleh, meringankan beban orang tua,” ucap wanita 55 tahun itu, dengan suara bergetar.
Lilis telah menjanda selama belasan tahun. Suaminya meninggal 2 tahun sebelum putranya ini lahir dari rahimnya.
Ia pun mengungkap syukur dengan adanya program Sekolah Rakyat. Wanita yang saat dijumpai mengenakan kerudung hitam itu, berkata adanya Sekolah Rakyat telah meringankan bebannya.
“Alhamdulillah meringankan beban orang tua, gratis segala-galanya, ongkos, makan, alat-alat belajar, Alhamdulillah dicukupi oleh Presiden Prabowo,” tutur ibu itu.
3 Kurikulum Sekolah Rakyat
Direktur Polteksos Bandung, Suharma menjelaskan, ada 3 kurikulum yang diterapkan di SRMA 11 Bandung. Meliputi kurikulum orientasi, formal, dan boarding.Kurikulum orientasi meliputi kegiatan pengenalan sekolah.
Kurikulum formal mengacu pada pelajaran yang bakal diterapkan sesuai dengan kurikulum nasional dari Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen).
“Sedangkan kurikulum boarding akan fokus pada pembentukan karakter siswa melalui pola pendidikan di lingkungan asrama," katanya.
Di hari pertama ini, Suharma bilang akan dilakukan pemeriksaan kesehatan dan mulai pengenalan lingkungan sekolah. Dalam pemeriksaan kesehatan ini, kata dia, bilang dilakukan juga talent mapping berbasis cek DNA untuk memetakan minat dan bakat para peserta di SRMA 11 Bandung.
"Hasil talent mapping ini akan menjadi pondasi utama dalam penyusunan sistem pembelajaran di Sekolah Rakyat. Dengan mengetahui peta talenta anak sejak awal, maka pendekatan pendidikan yang diberikan akan lebih tepat sasaran, tidak seragam, dan bisa memaksimalkan potensi setiap individu," ujar Suharma.