Sederet Beda Sekolah Rakyat Bekasi dengan SMA Negeri, Ini Kurikulum yang Dipakai
Di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi memiliki 21 guru, 19 wali asuh dan tiga wali asrama.
Sekolah rakyat di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi telah memiliki nama. Sekolah khusus untuk warga miskin itu kini bernama Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi.
"Alhamdulillah sudah ada penamaannya dan sudah ada nomornya ya," kata Kepala SRMA 13 Bekasi, Lastri Fajarwati, Kamis (10/7).
Sekolah rintisan yang akan mulai beroperasi pada 14 Juli 2025 besok ini memiliki 21 guru, 19 wali asuh dan tiga wali asrama. Masing-masing dari mereka memiliki tugas yang berbeda.
"Jadi guru nanti terkait dengan pembelajarannya, wali asrama terkait dengan asramaan, wali asrama putra dan putri, kalau wali asuh ini terkait kehidupan sehari-harinya (siswa), mengawal mereka untuk merasa seperti di rumah gitu ya, nah ini wali asuh," ungkap Lastri.
Kurikulum yang Dipakai
Untuk kegiatan belajar mengajar, kata Lastri, menerapkan kurikulum nasional. Namun, ada penambahan yang disesuaikan dengan kehidupan siswa berasrama.
"Terkait kurikulumnya, kita sama dengan kurikulum nasional, cuma memang disesuaikan dengan kehidupan berasrama, jadi tentu ada penambahan pendidikan karakter, pendidikan keagamaan, kemudian juga vokasional," katanya.
"Alhamdulillah di lingkungan STPL ini sangat mendukung, banyak sentra-sentra yang bisa kami gunakan, di sini ada sentra membatik, ada sentra budidaya ikan lele, kemudian sentra bengkel, itu yang akan kami berdayakan," tambah Lastri.
Pada hari pertama, SRMA 13 Bekasi akan menerapkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) seperti sekolah pada umumnya. Namun kegiatan tersebut akan memakan waktu sekitar tiga bulan.
"Kalau di sekolah biasa lima hari, di kami tiga bulan bisa, jadi untuk pembiasaan kehidupan berasrama, jadi masih dibikin suasana yang menggembirakan, supaya mereka nyaman, supaya mereka senang, kemudian bisa terbuka satu sama lain, tapi bukan berarti pembelajaran menunggu tiga bulan, tidak, tetap berjalan," katanya.
Untuk tahun ajaran 2025/2026 ini, SRMA 13 Bekasi belum menerapkan penjurusan bagi siswanya. Penjurusan baru akan dilakukan ketika siswa sudah duduk di kelas XI melalui talent DNA.
"Nanti di kelas 11 baru akan ada penjurusan, nanti dari hasil tes talent DNA akan kelihatan, jadi hasil test talent DNA akan kelihatan anak ini bakat di mana, potensinya di mana, itu sebagai dasar juga untuk penjurusan di samping hasil akademik yang akan mereka capai di kelas 10 ini," tandasnya.
Program Sekolah Rakyat di Bekasi saat ini untuk jenjang SMA. Sekolah ini memiliki 180 siswa yang terbagi menjadi sembilan rombongan belajar, dan akan mulai melakukan kegiatan belajar mengajar pada Senin (14/7) besok.