Kisah di Balik Lampah Dalu Dusun Druwo dan Kerajaan Genderuwo di Bantul
Di balik kekhidmatan ritual tersebut, Dusun Druwo ternyata menyimpan lembaran sejarah kuno yang sangat memikat.
Suasana Dusun Druwo, Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul tampak berbeda dari biasanya pada malam 1 Suro 1960. Momentum yang bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah pada malam Selasa Wage (15/6) ini diwarnai dengan aksi khidmat ratusan warga.
Sekitar 100 warga setempat berkumpul untuk menggelar doa bersama di Makam Kyai Padang. Tak hanya berdoa, mereka juga melakukan lampah dalu—sebuah ritual berjalan kaki dalam keheningan—mengitari wilayah Dusun Druwo.
Ketua Panitia Kegiatan, Rizky Wahyu Arya H menjelaskan bahwa agenda doa bersama dan lampah dalu untuk menyambut tahun baru kalender Jawa ini merupakan yang pertama kalinya digelar di dusun tersebut. Guna menjaga kesakralan acara, warga yang ikut serta tampak kompak mengenakan pakaian adat tradisional Jawa, seperti surjan dan kebaya.
"Ini kami gelar untuk mendoakan para leluhur dan mendoakan Dusun Druwo supaya masyarakatnya terus makmur," kata Rizky.
Lebih lanjut, Rizky memaparkan bahwa ritual ini juga menjadi simbol rasa syukur masyarakat terhadap melimpahnya sumber daya alam yang telah menopang kehidupan mereka sehari-hari.
"Kegiatan ini tidak sekadar kirab budaya, tetapi juga ruang refleksi kolektif. Masyarakat diajak menyadari pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam," bebernya.
Melalui keterlibatan masyarakat secara langsung, Rizky optimistis agenda ini mampu memperkuat identitas budaya lokal sekaligus meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan di masa depan.
"Kami berharap kegiatan ini bisa terus berlangsung setiap tahun," tegas Rizky.
Sejarah Kelam Kerajaan Makhluk Halus dan Perang 40 Hari
Di balik kekhidmatan ritual tersebut, Dusun Druwo ternyata menyimpan lembaran sejarah kuno yang sangat memikat. Kepala Dukuh Dusun Druwo, Suharman, menceritakan bahwa dahulu wilayah ini merupakan dusun kecil yang mayoritas warganya menggantungkan hidup sebagai petani.
Anehnya, para petani kala itu selalu didera kekecewaan karena hasil ladang mereka kerap rusak misterius menjelang masa panen. Pendapatan yang minim membuat warga hanya bisa hidup pas-pasan untuk bertahan dari hari ke hari.
Setelah ditelusuri, rusaknya lahan pertanian warga konon disebabkan oleh ulah koloni genderuwo. Wilayah Dusun Druwo dipercaya merupakan lokasi berdirinya sebuah kerajaan makhluk halus.
Selain merusak hasil bumi, para genderuwo tersebut juga kerap mengganggu kaum wanita di desa setempat. Kondisi mencekam itu akhirnya sirna setelah datangnya seorang tokoh berilmu tinggi bernama Kyai Padang.
"Sosok Kyai Padang yang kami doakan ini adalah seorang yang dulu menolong warga kami untuk menumpas genderuwo itu. Dulu beliau perang 40 hari 40 malam untuk melawan makhluk halus itu dan mati sampyuh di sini," ungkap Suharman.
Suharman sangat berharap tradisi doa bersama dan laku tirakat lampah dalu ini terus dipertahankan oleh generasi muda demi melestarikan sejarah asal-usul kampung mereka.
Terlebih, nama dusun ini memang memiliki rekam jejak yang melekat dengan unsur mistis sejak ratusan tahun lalu.
"Supaya kampung kami ini tidak terkesan mistis. Mengingat dulu dalam peta yang tertulis di tahun 1861 Dusun ini bernama Gendroewo," cetus Suharman.
Inisiatif positif warga Dusun Druwo ini pun mendapat lampu hijau dan dukungan penuh dari jajaran pemerintah setempat. Lurah Bangunharjo, Nur Hidayat, mengaku sangat mengapresiasi langkah konkret warga dalam merawat warisan sejarah dan spiritualitas lokal. Ia berharap ritual ini membawa kebaikan bagi seluruh masyarakat.
"Kami pemerintah kalurahan mengucapkan terimakasih karena warga Druwo telah nguri-nguri budaya," tutup Nur Hidayat.